LOGINDikhianati suami, diijebak adik tiri. Bahkan dipisahkan dari putra kandungnya. Saat seluruh dunianya runtuh, Yura Leticia hanya memiliki satu pilihan, meminta bantuan Killian Volkov, raja bisnis yang ditakuti seluruh kota sekaligus musuh terbesar mantan suaminya. Sebagai imbalan untuk merebut kembali putranya, Yura membantu Killian menghancurkan Adrian Valerius. Namun semakin dekat dengan pria dingin dan berkuasa itu, semakin sulit baginya membedakan mana balas dendam dan mana cinta. Ketika kebenaran terungkap dan musuh mulai tumbang satu per satu, mampukah Yura merebut kembali putranya? Atau justru terjebak selamanya dalam pesona sang raja bisnis?
View More"Ah...kak Adrian, pelan-pelan. Bagaimana kalau kak Yura tiba-tiba datang?"
Yura membeku di depan pintu. Dari celah kecil pintu, Yura melihat Adrian, suaminya yang selalu bersikap hangat dan penuh kasih di rumah, kini sedang mencium Rose dengan penuh gairah di atas sofa. "Jangan sebut namanya di sini, sayang." bisik Adrian parau, suaranya penuh gairah. "Dia tidak akan kesini. Dia wanita yang penurut, pasti sedang sibuk mengurus Leo di rumah." Cengkraman Yura pada kotak bekal mengencang. Dia awalnya berencana memberi kejutan dengan membawa bekal makan siang untuk Adrian, tapi malah mengetahui hubungan gelap suaminya dengan Rose, adik tirinya. Air matanya menetes tanpa dia sadari, membasahi pipinya. Lima tahun. Dia mengorbankan mimpi dan karirnya demi rumah tangga yang harmonis. Tapi Adrian membalas semuanya dengan pengkhianatan. Yura ingin mendobrak masuk tapi tak memiliki kekuatan seperti dulu untuk melawan mereka, terutama Adrian suaminya. Yura memilih mundur, dia berbalik dan berjalan meninggalkan lorong kantor itu diam-diam. Membuang bekal itu ke tempat sampah dan menjauh dari gedung perusahaan tanpa menoleh. Malam harinya, Yura duduk di sudut bar privat mewah. Gaun hitam polos membalut tubuh rampingnya, riasan tipis di wajahnya yang cantik tak dapat menyembunyikan keterpurukannya. Dua gelas minuman beralkohol tinggi telah habis. Dia menatap kosong cairan di gelas ketiganya. ‘Lima tahun aku melepaskan mimpi demi menjadi bayangan dalam kesuksesanmu, Adrian. Lalu, ini balasanmu?’ Kadar alkohol yang tinggi mengaburkan pandangannya, samar-samar Yura melihat sosok tidak asing berjalan menuju ruangan VVIP, Dia bangkit dan mengikuti sosok itu dengan langkah goyah, lalu menerobos masuk. Killian Volkov, duduk santai dengan dua kancing kemejanya yang terbuka. Garis wajahnya yang tegas dan tampan membuat Yura menegang. ‘Sempurna. Dia sosok yang tepat untuk menghancurkan Adrian,’ batinnya tersenyum sinis. “Siapa yang mengizinkan kamu masuk, ayo keluar!” ujar asisten Killian. Yura mengabaikannya, berjalan mendekat lalu dengan sengaja membiarkan tubuhnya kehilangan keseimbangan, jatuh di pangkuan Killian. “Kurang ajar!” Asisten itu marah dan bergerak maju, siap menyeret wanita itu keluar tapi Killian mengangkat tangan, menghentikannya. Mengerti keadaannya, asisten itu melangkah keluar, meninggalkan mereka berdua di dalam ruangan. Yura meletakkan tangannya yang gemetar di atas dada Killian yang kokoh. Aroma maskulin bercampur tembakau mahal memenuhi inderanya, membuatnya semakin pusing. Setengah mabuk, Yura mengalungkan sebelah tangan ke leher Killian dan mendekatkan wajahnya, napas yang panas menerpa leher Killian. “Tuan Volkov…” bisik Yura, suaranya yang parau terdengar lembut, matanya berkaca-kaca memancarkan keputusasaan. Jemarinya membelai lembut hidung Killian turun ke garis rahang. “Kudengar kau suka merebut apa yang dimiliki Adrian Valerius, bagaimana kalau malam ini… kau merebut istrinya?” Killian tidak bergerak, pria itu tidak terkejut juga tidak mendorongnya menjauh. Sepasang mata gelapnya tajam menatap langsung ke dalam manik mata Yura dengan pandangan menilai. “Kau mabuk, Nona.” Suaranya pelan dan berat, bergetar seperti guntur di kejauhan. “Aku tidak mabuk.” Yura terkekeh. Dia mencondongkan tubuhnya semakin mendekat, bibirnya hampir menyentuh daun telinga Killian. Belaian tangannya semakin turun, memainkan kancing teratas kemeja Killian yang terbuka. “Adrian pasti kesal melihat istrinya bersamamu.” Yura berbisik dengan nada yang menggoda. “Bukankah itu salah satu kemenangan yang memuaskan, Tuan?” Killian menggeram, tangannya besar dan kuat mencengkram pinggang kecil Yura. Mendekatkan tubuh wanita itu tanpa jarak ke dadanya. Killian membalikkan posisi dalam satu gerakan, menjatuhkannya ke atas sofa. Jemarinya mencengkram rahang Yura, memaksanya mendongak dan menatap langsung sepasang mata Killian yang menatapnya tajam. “Kau mencoba bermain api denganku, Nona?” Suaranya begitu rendah dan dominan, membuat Yura sedikit gemetar. Killian menyeringai tipis, “kau datang padaku dengan mata sembab, tubuh yang gemetar. Kau pikir aku tidak bisa melihat kau baru saja dihancurkan olehnya.” Ibu jari Killian mengusap bibir Yura dengan sensual. “Kau menawarkan tubuhmu untuk balas dendam padanya,” bisik Killian, pandangannya menggelap saat menatap bibir Yura yang bergetar. “Tawaran yang menggoda, tapi aku tidak suka menyentuh wanita yang sedang menangisi pria lain.” Yura menahan napas saat wajah Killian yang semakin mendekat hingga bibir mereka nyaris bersentuhan. Aura dominan yang dikeluarkan terlalu kuat, mengikis sisa kesadarannya yang setengah mabuk. “Aku memang suka merebut dan menghancurkan apapun milik Adrian.” bisik Killian dengan suara serak. “Merebut istrinya terdengar menarik, tapi aku tidak ingin wanita itu melakukannya dengan terpaksa. Aku ingin dia datang dengan sukarela, memohon padaku untuk menyentuhnya.” Killian perlahan melepas cengkramannya. Jemarinya yang panjang bergerak turun, menyusuri leher jenjang Yura. Sentuhan panas pada kulitnya meninggalkan sensasi menggelitik yang membakar. Killian menyelipkan kartu nama hitam metalik ke dalam belahan rendah gaun hitam polos Yura. “Pulanglah. Jernihkan kembali pikiranmu yang kacau itu.” Temui aku besok pagi di kantorku dalam keadaan sadar, Nyonya Valerius. Kita bicarakan lagi… bagaimana caramu menjelaskan tentang malam ini.” Pria itu merapikan kemejanya lalu melangkah keluar dari ruangan VVIP. Yura menatap sosok Killian yang menghilang dari balik pintu dengan napas terengah, wajahnya memerah. Detak jantungnya berdegup kencang. Dia memegang kartu itu erat. Firasatnya mengatakan harus menjauhi pria itu. Tapi melihat sorot mata Killian membuatnya ingin melangkah lebih dekat.Mendengar pembelaan Adrian, Rose langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam. Tubuhnya sengaja dibuat sedikit bergetar, dia melangkah maju untuk memeluk lengan Magnus dengan mata yang berkaca-kaca. Dengan gerakan perlahan, Rose sengaja memposisikan tangan kanannya yang terbebat perban putih tepat di depan dada Magnus, memastikan sang ayah melihat "pengorbanannya". "Papa... ini semua salah Rose," suaranya bergetar menjadi tangisan lirih yang terdengar sangat menyedihkan. "Harusnya Rose bisa memegang tangan Leo lebih erat semalam. Jangan salahkan Kak Yura. Kakak... dia hanya salah paham, emosinya sedang tidak stabil setelah pergi dari rumah." Rose mengusap sudut matanya yang basah, melirik sekilas lorong koridor yang mengarah ke ruang dokter sebelum melanjutkan hasutannya dengan nada polos. "Kak Yura tidak sengaja membesar-besarkan seolah-olah kami menelantarkan Leo, sampai di dengar oleh dokter, Pa. Kakak pasti masih marah makanya menuduh yang tidak-tidak. Padahal Rose panik, dan
Dokter itu tidak memberi kesempatan Adrian untuk meluapkan arogansinya. Dia langsung berbalik menatap Yura. "Mari, Bu. Ikut ke ruangan saya sekarang." Yura tidak mau membuang waktu lagi. Tanpa melirik sedikit pun pada Adrian yang napasnya memburu, Dia melangkah tegas melewati mantan suaminya. Melangkah menjauh bersama dokter dan perawat. Meninggalkan mereka dalam keheningan koridor yang sarat akan amarah dan kecemasan yang mulai menguasai. Di lantai teratas gedung Volkov Tower, keheningan yang mencekam menyelimuti ruang kerja bernuansa monokrom itu. Killian Volkov berdiri membelakangi meja kerjanya yang luas, menatap lurus ke luar dinding kaca raksasa yang memperlihatkan bangunan distrik bisnis di bawahnya. Tangan kanannya memutar-mutar sebuah pena mahal dengan gerakan santai, sementara pikirannya sedang menyusun langkah lain untuk meruntuhkan Valerius Group di lantai bursa nanti. Tok, tok, tok. "Masuk," sahut Killian tanpa berbalik. Suara baritonnya terdengar berat dan d
Dokter yang berdiri di samping perawat menghela napas panjang. Tatapan matanya yang tajam sempat melirik ke arah Rose yang langsung menundukkan kepala karena takut, sebelum beralih menatap Yura yang berdiri dengan pipi memerah dan mata berkaca-kaca. "Siapa ibu kandung dari pasien anak Leo Valerius?" tanya Dokter itu dengan nada suara yang berat. Yura langsung melangkah maju, mengabaikan tatapan tajam Adrian. "Saya, Dok. Saya ibu kandungnya. Bagaimana keadaan anak saya? Tolong katakan pada saya, Dok..." Suara Yura terdengar parau. Dokter itu menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Mengingat pembicaraannya dengan Killian Volkov sebelumnya, dokter itu tau ada yang tidak beres di antara keluarga ini. "Kondisi pasien saat ini sudah stabil setelah luka di pelipisnya dijahit, Ibu. Namun, karena dia mengalami trauma di kepala dan demam tinggi akibat syok, pasien masih harus diisolasi dan belum bisa dijenguk oleh banyak orang sekaligus," jelas Dokter itu dengan tenang. Mat
Saat tiba di Rumah Sakit, Yura dengan cemas mencari ruang rawat Leo yang diberikan ayahnya melalui pesan singkat. Tak lama, dia melihat beberapa sosok yang dikenalnya sedang berkumpul di ujung koridor. Yura mempercepat langkahnya dengan emosi campur aduk. “Pa, ada apa dengan Leo?” Tanyanya begitu sampai di depan mereka. “Yura, nak. Akhirnya kau sampai juga.” Maria, ibu tiri Yura mendekat dengan wajah prihatin. Wanita itu merentangkan tangannya hendak memeluk tapi Yura yang dikuasai rasa cemas menepis tangan Maria dengan kasar. “Jangan sentuh aku! Dimana Leo?! Kenapa tidak ada yang menjawab?” Yura menatap Adrian dan Rose bergantian, melihat wajah dingin Adrian dan tatapan polos Rose yang dia yakini palsu. Dia melihat mereka semua yang hanya terdiam. “Tenanglah, Nak. Jangan buat keributan di rumah sakit,” hibur Maria. Mencoba meraih lengan Yura tapi tak digubrisnya. “Papa, katakan padaku, apa yang terjadi pada Leo?” Tanyanya dengan mata yang memerah, menuntut penjelasan dari
Di dalam kamar utama kediamannya, Adrian dan Rose baru selesai memadu gairah. Pintu kamar yang sengaja dibiarkan terbuka, memancarkan cahaya lampu temaram ke arah lorong yang sepi. Di luar kamar, sepasang kaki kecil melangkah dengan gemetar di atas lantai marmer yang dingin. Bocah itu baru berusia
Killian menyeringai puas, Ekspresi kemenangannya tampan sekaligus mengerikan. Dia mengambil sebuah kunci kartu digital emas metalik dari dalam laci, meletakkannya di depan Yura. “Pindah ke penthouseku sore ini juga, Asistenku akan mengurus keperluanmu. Mulai besok pagi, permainan balas dendammu a
Gedung pencakar langit Volkov Group berdiri megah di pusat kota, cahaya matahari memantul pada dinding kaca gelapnya. Di dalam lobi, sosok Yura menjadi pusat perhatian, gaun hitam polosnya masih sedikit lembab sisa badai hujan tadi. Rambut panjangnya dicepol asal-asalan, wajahnya pucat tanpa riasan.
Sinar matahari yang masuk dari celah gorden menusuk matanya saat Yura membuka mata. Dia mengerang parau saat kepalanya berdenyut menyakitkan. Matanya menatap langit-langit kamar yang tampak asing. Yura tersentak, seketika mendudukkan tubuhnya. Dia menatap pakaiannya yang berantakan lalu sekelilin












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews