Malam hari. Aku baru saja selesai mandi dan berganti pakaian. Luka jahitanku sudah mulai sembuh, tapi masih terasa perih kalau aku bergerak terlalu cepat. Aku sedang duduk di ruang keluarga, membaca novel lama yang sudah aku baca berkali-kali, ketika dua mobil masuk ke gerbang mansion. Adrian dan Sebastian. Mereka datang bersama, seperti biasa. Adrian dengan kemeja putih lengan panjang yang digulung sampai siku, celana kain hitam, rambutnya yang sedikit panjang tertata rapi ke belakang. Sebastian di sampingnya dengan kaus polo berwarna biru tua yang membentuk di dadanya yang bidang, celana jins gelap, dan jaket kulit hitam yang dia lepas begitu masuk ke dalam rumah. "Selamat malam, Sayang!" sapa Adrian sambil melambai ke arahku. Sebastian hanya tersenyum. Leon sudah berdiri di dekat meja billiard di sudut ruangan. Dia sedang mengatur bola-bola dengan satu tangan. "Kalian terlambat," kata Leon dingin. "Macet," jawab Sebastian santai. Aku kembali ke novelku, mencoba fokus pada
Read more