Keesokan harinya, tepat seperti kata Adrian, Sebastian datang.Aku sedang duduk di ranjang sambil membaca novel lama yang aku temukan di rak ruang keluarga, novel romantis dengan sampul yang sudah usang.Di sampingku, segelas teh jahe hangat yang Adrian suruh pembuatanku buatkan sebelum dia pulang tadi malam. Bunga kuning dan putih dari Adrian masih segar di vas, wanginya memenuhi seluruh kamar.Pintu kamarku diketuk pelan."Masuk," kataku.Pintu terbuka, dan Sebastian berdiri di ambang pintu dengan dua koper besar di kedua tangannya. Wajahnya memang lebih garang dari Leon, Adrian, atau pria mana pun yang pernah aku temui. Alisnya tebal dan cenderung turun di ujung, membuatnya terlihat seperti sedang marah meskipun dia tersenyum.Rahangnya tegas, hampir persegi, dengan sedikit goresan janggut yang tidak pernah benar-benar dicukur bersih. Matanya yang berwarna hazel gelap itu tajam seperti elang yang sedang mencari mangsa."Selamat pagi, Sayang," katanya."Sebastian! Kamu sudah pulang?
Last Updated : 2026-06-04 Read more