“Silahkan duduk, Nona Pramesti. Saya tidak punya waktu seharian hanya untuk menunggu anda melamun.” Ulang Raka.Suaranya terdengar ketus dan memotong badai ingatan yang mendadak berputar di kepalaku. Aku tersentak, dengan cepat mengendalikan diriku kembali.Jantungku masih berdegup kencang, memompa darah terlalu cepat hingga ujung jari-jariku terasa dingin.Kemudian, aku segera melangkah maju‒mempertahankan postur tubuhku agar tetap tegak, lalu menarik kursi kulit di hadapan mejanya. Aku duduk dengan anggun, meletakkan tas kerjaku di pangkuan.“Ah... Maaf, Tuan Adiprana. Ruangan anda sangat luas, jadi membuat saya membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri,” kilahku lugas; sengaja memasang senyum profesional terbaikku.Pria itu tidak membalas senyumanku. Sepasang mata gelapnya menyipit, mengamatiku dari balik meja marmernya yang bersih berkilau.Tatapannya sangat tajam, seolah-olah ia sedang membedah isi kepalaku yang tersembunyi. Namun, tidak ada binar pengenalan di sana; apalagi kila
Last Updated : 2026-07-10 Read more