登入Bagi Alina, malam itu adalah pelarian. Bagi Raka, malam itu adalah bagian ingatan yang hilang akibat trauma masa lalunya. Enam bulan kemudian, takdir mempertemukan sang jurnalis investigasi dan CEO dingin ini dalam sebuah mansion penuh intrik rahasia. Raka tidak mengingatnya, namun tubuh dan hatinya tidak bisa berbohong setiap kali Alina berada di dekatnya. Saat konspirasi warisan mulai mengancam nyawa mereka, Alina menemukan fakta bahwa dirinya bukanlah orang asing di keluarga itu, melainkan pemilik sah dari seluruh harta yang sedang diperebutkan. Ketika rahasia demi rahasia terkoyak, akankah cinta mereka bertahan, atau hancur bersama kebohongan masa lalu?
查看更多“Kamu pikir dia siapa? Dia itu cuma jurnalis kelas teri yang beruntung karena mendapatkan laki-laki mapan sepertiku!”
Suara lantang itu memantul di dinding lorong VIP hotel bintang lima tempat pesta pertunangan kami digelar. Di depan pintu toilet yang tertutup rapat, aku berdiri mematung. Sementara di dalam sana, tunanganku‒Bram, sedang merapikan kemejanya yang kusut.
Di atas wastafel, seorang wanita dengan gaun merah sutra yang setengah terbuka sibuk memoles ulang lipstiknya. Wanita itu adalah sahabat satu gengku sendiri.
“Bram, kecilkan suaramu. Kalau ada yang dengar bagaimana?” bisik wanita itu, terdengar manja sekaligus cemas.
Bram tertawa meremehkan, “Peduli setan. Biar dia dengar sekalian. Menikah dengan Alina itu murni karena aku kasihan dan butuh perempuan penurut untuk dijadikan pajangan di depan keluarga besar.”
“Kamu tahu sendiri bagaimana kolotnya dia? Disentuh sedikit saja sok jual mahal. Aku jamin, di ranjang pun dia pasti sedingin es. Berbeda jauh dengan kamu yang selalu tahu cara memuaskan pria.” Imbuhnya.
Duniaku rasanya runtuh seketika. Kemarahan dan rasa hina bercampur menjadi satu, membakar dadaku hingga sesak. Cincin berlian di jari manisku mendadak seperti besi panas yang membakar kulitku.
Dan tanpa berpikir panjang, aku melepas cincin itu; mendobrak pintu toilet dengan sentakan keras, dan melemparkannya tepat ke wajah Bram.
Plak!
“Ambil ini dan pakai saja untuk menyumpal mulut sampahmu, Bram!” ucapku dengan suara bergetar, namun penuh penekanan.
Bram terkejut, wajahnya memerah menahan malu sekaligus marah, “Alina? sejak kapan kamu—”
“Sejak kalian berdua bertingkah seperti binatang!” potongku cepat. Aku menatap wanita di sampingnya dengan pandangan paling menjijikkan, “Dan untukmu, selamat menikmati barang bekas.”
Aku berbalik; berjalan cepat meninggalkan lorong itu sebelum air mataku jatuh. Aku tidak ingin terlihat lemah di depan dua pengkhianat itu.
Saat melewati aula pesta yang ramai oleh tamu undangan; aku langsung menuju bar. Aku mengabaikan panggilan orang-orang dan juga tatapan bingun para tamu. Yang aku butuhkan saat ini hanya satu‒alkohol untuk mematikan rasa sakit ini.
“Beri aku vodka shot. Lima,” ucapku pada bartender.
“Tapi, Nona—”
“Sekarang!” bentakku, karena saat ini aku tidak ingin dibantah sedikit pun.
Vodka shot dari satu per satu gelas kecil itu kupindahkan ke tenggorokanku. Rasa terbakar yang pekat mulai menjalar, membuat kepalaku berputar‒namun entah mengapa terasa membebaskan. Aku tertawa sendirim menertawakan kebodohanku yang selama ini mempercayai konsep cinta sejati. Nyatanya; semua itu omong kosong.
Setelah gelas kelima kosong, aku berjalan terhuyung menuju lift. Aku tidak ingin pulang atau menghadapi siapa pun dalam keadaan sekacau ini. Aku butuh tempat untuk bersembunyi dari dunia.
Aku menekan tombol acak; lalu keluar di salah satu lantai kamar suite. Lorong hotel terasa berputar di mataku.
Tiba-tiba, sebuah pintu kamar terbuka di depanku. Seorang pria dengan kemeja hitam yang kancing atasnya terbuka dan lengannya digulung sampai siku, melangkah keluar‒tampak gusar sembari menggenggam ponselnya.
“Aku tidak peduli dengan ancaman mereka. Batalkan saja pertunangan sialan itu!” desis pria itu ke ponselnya sebelum mematikan panggilan dengan kasar.
Aku berhenti melangkah; menatapnya dengan pandangan buram akibat pengaruh alkohol. Pria itu sangat tinggi‒mungkin hampir 190 cm, dengan rahang tegas dan mata gelap yang memancarkan aura berbahaya.
Entah karena pengaruh minuman atau rasa frustasi yang memuncak, aku justru berjalan mendekatinya dan menghalangi langkahnya, “Kau sepertinya juga sedang melarikan diri dari hidupmu yang brengsek?” tanyaku dengan tawa hambar.
Pria itu menghentikan langkahnya. Ia menunduk, menatapku dengan mata gelapnya yang tajam. Tetapi bukannya berasa takut; aku justru merasa tertantang.
“Siapa anda? Anda sedang mabuk, Nona‒minggir,” jawabnya dingin; suaranya berat.
“Tak perlu tahu namaku. Yang pasti, aku baru saja dikhianati oleh pria yang katanya mencintaiku,” ucapku sembari menunjuk diriku sendiri. kemudian aku menunjuk dadanya dengan berani, “Dan kau‒kau kelihatan seperti pria yang butuh pelarian. Sama sepertiku.”
Pria asing itu diam sejenak. Ia memperhatikan penampilanku, mulai dari rambut sebahu yang agak berantakan hingga gaun malamku yang sedikit melorot di bagian bahu. Sudut bibirnya terangkat tipis; sebuah senyuman sinis yang justru terlihat sangat seksi.
“Kau tahu apa yang sedang kau tawarkan, Nona?” tanyanya sembari melangkah maju hingga jarak di antara kami mengikis habis. Aroma parfum maskulin bercampur kayu cendana langsung menyerbu indera penciumanku.
“Aku sangat tahu persis apa yang kukatakan,” tantangku, mendongak menatap matanya. “Satu malam; tanpa nama, tanpa sebuah komitmen, dan tanpa masa lalu ataupun masa depan. Hanya untuk satu malam, untuk melupakan dunia yang brengsek ini.”
“Menarik,” bisiknya.
Tanpa peringatan, pria itu mencengkeram pinggangku dengan satu tangan besarnya‒menarik tubuhku hingga menempel sempurna pada dada bidangnya. Ia memutar tubuh kami, mendorong punggungku ke pintu kamar hotelnya yang kembali terbuka, lalu menutupnya dengan sentakan kaki.
Kamar itu seketika menjadi gelap; hanya menyisakan remang-remang lampu kota dari balik jendela kaca besar. Pria itu tidak memberiku waktu untuk berpikir. Ia menangkup rahangku, menundukkan kepalanya, dan langsung mengklaim bibirku dengan ciuman yang menuntut.
“Mmph...” Aku mendesah tertahan di dalam ciumannya.
Ciuman itu kasar; terasa penuh amarah dan rasa frustasi yang sama dengan yang kurasakan. Lidahnya menerobos masuk, mengabsen rongga mulutku dengan dominasi yang mutlak. Aku membalasnya dengan nekat; melingkarkan kedua lenganku di lehernya, dan menariknya agar semakin dalam. Rasa getir dari alkohol di mulutku berpadu dengan kehangatan napasnya yang memabukkan.
“Ah...” Aku memekik pelan saat cengkeraman tangannya di pinggangku semakin erat, mengangkat tubuhku hingga kakiku terangkat dari lantai.
Ia membawaku menuju tempat tidur besar di tengah ruangan tanpa memutus ciuman kami. Tubuh kami ambruk di atas kasur yang empuk. Pria itu langsung mengungkungku di bawah tubuh kekar dan beratnya.
“Masih ingin mundur?”
Aku hampir saja menusukkan pisau lipatku, namun aku mengurungkan ketika aku mencium aroma kayu cendana yang sangat familiar.“Raka?” bisikku, air mataku mulai mengalir di pipi yang dipenuhi debu.Pria itu wajahnya berlumuran darah; namun matanya menatapku dengan intensitas yang dalam.Dia segera menutup mulutku dengan jemarinya, suaranya sangat lirih di telingaku, “Jangan mengeluarkan suara,” bisiknya pelan.Kami terdiam di balik bayang-bayang pintu samping‒sementara Gavin dan anak buahnya masih terus mencari keberadaanku di sekitar gudang.“Ikut aku,” perintahnya, sembari menarik tanganku dengan sangat erat.Kami mulai menyelinap keluar, namun saat langkah kami baru saja sampai di halaman belakang; sebuah lampu sorot menyilaukan mata‒membuatku harus menutup wajah dengan tangan.Sreeet!
Damian menatap pintu besi gudang dengan tatapan dingin, tangannya sudah menggenggam erat pistol di pinggangnya.“Kita akan keluar melalui pintu belakang dan menuju gudang senjata cadangan di dekat kolam renang,” jawab Damian tegas.“Gavin sudah menguasai rumah ini, apa kita tidak akan ketahuan?” tanyaku dengan napas memburu.Damian memberikan kode untuk diam, lalu dia sedikit membuka pintu besi gudang tersebut.Kriet...Suara engsel pintu yang berderit nyaring di tengah malam yang sunyi membuat jantungku mencelos.Kami melangkah keluar dengan sangat hati-hati, memastikan tidak ada anak buah Gavin di sekitar lorong gelap itu, “Ikuti aku, dan jangan bersuara,” bisik Damian tanpa menoleh.Tap... tap... tap...
Tangan besar itu mendekap mulutku erat, membuat napasku tersengal.Hosh... hosh...Aku meronta sekuat tenaga, namun tarikan pria itu jauh lebih kuat. Dia menyeretku menjauh dari jangkauan lampu sorot, masuk ke dalam kegelapan di balik semak-semak.Kresek... kresek...“Jangan berisik, atau mereka akan melihat kita,” bisik pria itu di dekat telingaku.Suaranya rendah dan serak, namun sama sekali bukan suara Raka. Aku berhasil menggigit telapak tangan yang mendekapku, memaksanya melepaskan cengkeraman.Aku berbalik dengan cepat, mencabut pisau lipat pemberian Raka; dan mengarahkannya ke depan.Shing!Di dalam cahaya bulan yang temaram, wajah pria itu terungkap. Dia mengenakan pakaian gelap; raut wajahnya sangat serius, namun ia tidak
“Jika aku tidak kembali dalam sepuluh menit, bakar semua dokumen di brankas itu,” bisik Raka tajam. BRAK! Tanpa menunggu jawabanku, dia menendang pintu rahasia itu hingga terbuka lebar. DOR! DOR! DOR! Suara dentuman senjata menyalak dari luar ruangan. Aku mematung di balik bayang-bayang, jantungku seolah berhenti berdetak saat melihat sosok Raka berlari keluar. Punggungnya yang tegap menghilang di balik kepulan asap. Aku memaksa kakiku terus bergerak, menyelinap ke lorong bawah tanah yang gelap. Rak buku raksasa berderit ketika aku menarik tuas tersembunyi. Kriet... Rak buku raksasa di depanku berderit saat aku menarik tuas tersembunyi. Aku berlari menyusuri lorong yang hanya di terangi oleh lampu darurat. Suara teriakan Helena dan desingan peluru di kejauhan‒wush, wush‒semakin membuatku panik, “Pak Damar;


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.