Begitu pintu kamar tertutup rapat dan kunci berputar dengan bunyi klik yang final, pertahanan Ivy seketika runtuh total. Langkah kakinya mendadak lemas, seakan-akan seluruh kekuatannya baru saja direnggut paksa. Dengan sisa tenaga yang ada, ia setengah berlari menuju tempat tidur, menyambar bantal terdekat, kemudian membenamkan seluruh wajahnya di sana. Tangisnya pun pecah di detik itu juga. Isakannya begitu sarat akan rasa sakit, amarah, dan kehancuran yang sejak tadi ia tahan mati-matian. Ia menekan bantal kuat-kuat ke wajahnya menggunakan seluruh tenaga, agar suara tangisan yang membuncah tidak lolos ke luar kamar dan sampai ke telinga orang-orang di bawah.Lama Ivy terisak dalam posisi itu, sampai akhirnya dadanya tidak lagi naik-turun dengan hebat dan suaranya habis, menyisakan kesunyian yang pilu di dalam kamar. Sesak membuat Ivy perlahan mengubah posisinya menjadi telentang. Ia menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong, sementara air mata sisa masih mengalir melewat
Baca selengkapnya