ANMELDENDi masa depresi berat setelah melihat sang ibu bunuh diri, Ivy yang tak lagi punya keinginan untuk hidup malah mendapat kejadian tak terduga. Arwah seorang ibu yang belum ikhlas pergi meninggalkan putranya, justru masuk ke dalam tubuh Ivy dan mengendalikan tubuh gadis itu agar bisa terus memantau sang putra, Lucas, yang selalu menjadi korban bullying. Tak disangka, semua perhatian yang dikendalikan sang arwah itu justru membuat Ivy terjebak dalam hubungan rumit bersama Lucas.
Mehr anzeigen"JANGAN IKUT CAMPUR URUSANKU!"
BANG! BANG! BANG! Rentetan tembakan yang memekakkan telinga itu menyambar kesadaran Ivy. Tubuhnya tersentak. Terbangun dengan napas yang tertahan di tenggorokan, sementara kepalanya berdenyut nyeri saat pendar cahaya putih dari lampu menerobos masuk menembus kornea. “Di mana aku?” gumamnya serak, menatap bingung ke sekeliling ruangan. Setelah meyakini bahwa dia tidak sedang bermimpi atau berhalusinasi, gadis dengan manik coklat karamel itu mencoba bangkit dari tempat tidur. Namun sial, gerak tubuhnya terhalang oleh simpul mati dari dasi yang mengikat kedua pergelangan tangannya dan terhubung ke kepala ranjang. Wajah Ivy seketika berubah pucat. Seluruh saraf yang ada di tubuhnya menegang diikuti dengan lonjakan degup jantung kala rasa takut tak tertahankan menyekat aliran udara yang menuju paru-paru. “Apa-apaan ini! Siapa yang mengikatku?” Ivy luar biasa panik dan dia meronta sekuat tenaga dalam upaya melepaskan diri dari jeratan tali yang kian menyiksa, sebelum orang gila yang melakukan perbuatan sialan semacam ini kepadanya datang. Dan benar saja, apa yang Ivy takutkan pun terjadi tidak lama kemudian. Derap langkah kaki yang terdengar santai namun penuh teror dari luar ruangan, sukses membuat jantung Ivy serasa mencelos. Peluh sebesar biji jagung bercucuran di dahi gadis itu. Pandangan matanya sibuk mengawasi pintu karena begitu objek yang menjadi titik fokusnya terbuka, Ivy yakin sekali kalau nyawanya berada di ujung tanduk. Cklek! Kedua mata Ivy terbelalak ketika suara derit pintu yang dibuka perlahan menjelma menjadi alunan musik paling horor yang pernah dia dengar sejak saat ini. Sebelum benda itu terbuka sempurna, Ivy yang tidak mampu menahan sensasi ngeri pun lekas berpaling ke arah berlawanan. Memilih pura-pura tidur alih-alih mengarahkan tatapan tajam menghunus yang terkesan menantang. Langkah kaki yang Ivy yakini sebagai si penculik semakin mendekat ke arah ranjang. Lalu, tatkala Ivy merasakan kasur di sampingnya melesak ke bawah, tremor yang melanda tubuhnya menjadi tak terkendali dan dia yakin sekali kalau siasatnya mengelabui si penculik gagal total. Sial! “Kau sudah bangun, Sayang?” Tak ada respon dari Ivy selain otot-otot yang menegang. “Ayolah, jangan pura-pura tidur. Aku tahu kalau kau sudah bangun sejak…” pria yang mengenakan setelan jas berwarna hitam itu melirik ke arah jam tangan di tangan kirinya, “dua puluh menit yang lalu.” Pria tersebut memberi waktu bagi Ivy untuk menyudahi kepura-puraannya yang tidak berguna secara sukarela meski sebenarnya dia bukan orang yang sabar. Mereka harus reuni omong-omong. Namun, berhubung gadis cantik yang dia culik masih saja bungkam, pria itu pun mulai mendekatkan bibirnya ke telinga Ivy seraya berbisik, “Masih tidak mau bangun? Apa kamu tidak merindukan aku, hm?” Ivy bergidik oleh kecupan tak terduga yang bertahan cukup lama di pelipis, juga belaian lembut tangan besar itu saat merapikan rambutnya yang berantakan hingga menutupi wajah. Fungsi otaknya terpenjara oleh rasa takut. Sama sekali tidak mampu memikirkan hal apapun termasuk ide yang sekiranya jitu digunakan sebagai upaya pelarian. “Sayang sekali,” suaranya terdengar kecewa dan dia sedikit menjauhkan diri dari Ivy seraya mendecakkan lidah beberapa kali, “sepertinya kamu tidak ingat aku. Padahal tidak pernah sehari pun aku tidak merindukanmu, Vy..." 'Tunggu! Bukankah suara ini…' Ivy tersentak, dia membuka mata lebar-lebar begitu menyadari bahwa suara bariton yang kini sedang mengajaknya bicara, adalah suara milik seseorang yang diam-diam selalu dia rindukan. Demi memastikan kebenaran dugaannya, Ivy buru-buru memutar kepalanya ke samping, ke arah laki-laki yang masih duduk di pinggir ranjang dan kini tengah menatapnya intens sambil tersenyum. “Halo, Honey. Long time no see.” Bariton pria itu kembali merasuk ke gendang telinga Ivy seperti tetes air yang menyirami tanah tandus. Lucas. Itu pasti dia. Wajah tampannya masih sama seperti yang ada di ingatan Ivy. Hanya saja, sekarang dia jauh lebih tampan dengan aura pria dewasa yang matang. Mata teduh yang menatapnya dengan lembut itu juga sama. Suara halus itu… Ya Tuhan… rasanya Ivy ingin segera menghamburkan diri dan menangis di pelukannya jika saja tali sialan ini tidak ada. “Lucas? Kau… benar-benar Lucas, kan?” Wajah Ivy terlihat jauh lebih sumringah, sejenak lupa akan bahaya yang tengah mengintai karena dengan kehadiran Lucas, Ivy yakin kalau dia sudah aman. Lucas mengerjapkan mata sementara senyum takjub muncul menghiasi bibirnya selagi dia memiringkan kepala. “Kau masih ingat padaku? Waaah, luar biasa,” ujar Lucas dengan nada tak percaya yang dibuat-buat. “Aku jadi terharu.” “Bagaimana mungkin aku melupakanmu? Selama ini aku terus—” “Kamu memang harus mengingatku, Vy. Karena kalau tidak, aku pasti sangat sedih. Aku tidak rela kalau kamu lupa sama aku.” Kalimat lanjutan dari Lucas masih diwarnai lengkung menawan yang menghipnotis. Sayangnya keindahan yang memanjakan mata itu tidak berlangsung lama, karena perlahan tapi pasti, tatapan lembut Lucas berubah kelam. Gadis itu mengernyit bingung. Rasa senang bertemu Lucas yang tadi menyelimutinya dengan cepat digantikan kembali oleh perasaan takut. Ya, entah bagaimana Ivy merasa diintimidasi walau rangkaian kata yang keluar dari bibir Lucas masih selembut beledu. Ada yang tidak beres dengan cara Lucas menatapnya, ada yang tersembunyi dibalik tarikan di kedua sudut bibir pria itu, lalu yang lebih penting dari itu semua adalah, Lucas ada bersamanya di kamar tertutup ini dan terlihat tidak memiliki keinginan untuk melepaskannya dari semua jerat yang membuatnya merasa frustasi. Jadi, Lucas ini penyelamat, atau justru penjahatnya? Ivy menelan salivanya dengan susah payah. Senyum canggung terbit di bibirnya yang bergetar sebelum dia berkata, “Lucas, ba-bagaimana kabarmu? Kamu… baik-baik saja, bukan?” “Menurutmu?” “Ka-kau… terlihat baik.” “Begitukah?” “Huh?” “Menurutmu aku terlihat baik?” Ivy bingung sesaat. “Kau… terlihat sukses. Tentu saja itu baik. Iya, kan?” Diamnya Lucas membuat gadis itu merasa kalau dia sedang dihakimi, sedang dikuliti sampai ke tulang kendatipun Lucas tidak melakukan hal lain selain memandangnya dengan tatapan tak terbaca. Ivy tidak dapat menebak apa yang sedang Lucas pikirkan. Hal yang membuat suasana mencekam di sana semakin bertambah pekat seiring berjalannya waktu. “Aku—aku minta maaf padamu karena dulu… aku pernah menyakitimu, Lucas. Aku bisa menjelaskannya padamu. Sungguh! Tolong jangan salah paham. Aku tidak bermaksud—" Sebenarnya, Ivy ingin menanyakan hal lain seperti: kenapa aku bisa berada di sini, dan kenapa aku terikat seperti ini, kepada Lucas. Namun belum lagi keinginannya terealisasikan, sorot mata tajam Lucas yang dipenuhi angkara, membunuh aksara hingga mati di bibir Ivy sampai-sampai dia tidak sanggup melanjutkan kalimatnya yang terpotong. Dengan gerakan kasar dan tak terprediksi, Lucas mencengkram rahang Ivy kuat-kuat seolah-olah dia sudah lama menahan diri untuk tidak meremukkan tengkorak gadis itu hingga hancur. “How dare you! Beraninya kau menanyakan bagaimana kabarku setelah apa yang kau perbuat!“Mata Ivy membulat sempurna. Lidahnya mendadak kelu dihantam sebuah pertanyaan yang begitu telak. Di benaknya, seketika muncul kebingungan besar tentang siapa laki-laki di hadapannya dan kenapa dia bisa tahu kalau cincin ini bukan miliknya. Tapi demi apapun, diseret paksa saat hukuman dari sang guru killer sedang berlangsung, kemudian dituduh sebagai pencuri, sama sekali bukan sesuatu yang bisa Ivy tolerir. Apalagi tudingan itu melayang dari seseorang yang tidak ia kenal. Setelah mengesampingkan rasa bersalahnya untuk sementara waktu, Ivy melipat kedua tangan di depan dada. Mencoba bersikap defensif dengan meninggikan dagu, sementara raut wajahnya memancarkan ekspresi permusuhan yang nyata. "Jangan asal tuduh, ya! Memangnya kamu siapa berani bicara seperti itu padaku?"Lucas tersenyum mencemooh. Pria jangkung itu mulai memangkas jarak di antara mereka tanpa sedikit pun melepas tatapannya dari Ivy. Langkahnya mengintimidasi. Memaksa Ivy untuk terus mundur, hingga tubuh mungilnya tengg
Ivy menghela napas panjang. Ada lingkaran hitam di bawah matanya dan dia sangat mengantuk sekarang. Sambil menguap yang entah sudah ke berapa kali, gadis dengan iris sewarna madu itu membolak-balik asal halaman buku paketnya. Berharap beban yang menggelayuti mata segera terdistraksi sehingga dia bisa fokus menghadapi jam pelajaran pertama yang diisi oleh pak guru paling galak di sekolah. Namun perlawanan Ivy akhirnya tumbang tak lama kemudian. Dia menjatuhkan kepala di atas tangannya yang terlipat. Mencoba memanfaatkan sisa waktu sebelum bel masuk berbunyi. Baru saja kesadarannya menipis, sekelebat bayangan muncul secara paksa begitu kegelapan datang mengambil alih. Di balik kelopak mata yang terpejam, visual mimpi semalam kembali berputar. Kekacauan, suara teriakan, lalu wajah perempuan misterius yang mendadak muncul, membuat napasnya tertahan dan dia pun tersentak bangun. Tubuh Ivy menegak. Matanya bergerak liar, berusaha mencerna situasi sekeliling sampai dia sadar bahwa dirinya m
Di tepi tempat tidur, Ivy duduk terpaku dengan pandangan kosong tertuju pada lantai kamarnya yang dingin. Perlahan tubuhnya mulai meringkuk. Memeluk lutut dengan kedua tangan gemetar, sementara kesedihan menusuk bersembunyi di bawah kepalanya yang tertunduk dalam. Dalam kesuraman itu, isi kepala Ivy masih saja memutar ulang kejadian barusan. Rasanya masih tidak masuk akal. Bagaimana mungkin pertengkaran hebat yang terjadi tadi, disulap sedemikian rupa sehingga tampak seperti tidak pernah terjadi apa-apa? Tidak memberikan jeda untuk menangis lebih lama, ibunya tanpa banyak basa-basi langsung mengerahkan seluruh tenaganya demi terlihat "biasa saja". Membersihkan sisa-sisa kekacauan secepat yang ia bisa, memasak makan malam, mengajak Ivy makan bersama dalam keheningan yang mencekik, lalu masuk ke kamar masing-masing. Semua itu mereka lakukan tanpa membahas apa pun. Baik itu rencana untuk kabur, atau tentang gundik ayah yang hamil bahkan ingin dinikahi. Ivy menghela napas berat. Top
Lima Belas Tahun yang Lalu. “Ma, aku pulang.” Prang! “Lebih baik kau bunuh aku sekarang juga!” Ivy membeku di ambang pintu menerima sambutan yang tidak biasa itu. Menatap nanar pecahan vas bunga yang berserakan tepat di bawah kakinya, lalu berpindah ke arah kedua orang tuanya yang sedang bertengkar hebat untuk ke sekian kali. “Jangan terlalu mendramatisir, Sara! Itu hanya masalah kecil.” "Selingkuh sampai gundikmu hamil kamu bilang masalah kecil?! Dimana otakmu?!" Jeff malah memutar malas kedua bola matanya. “Ya memang kecil. Aku cuma menghamili perempuan lain, bukan membunuh orang. Lagi pula, selama aku masih membiayai keluarga ini, apa yang kamu ributkan?" “Aku istrimu, Jeff! Kamu pikir uangmu bisa mengganti kehormatanku yang kamu injak-injak? Kamu pikir makan enak dan rumah mewah ini cukup untuk membayar rasa malu karena suamiku punya anak haram di luar sana?! Tidak hanya memiliki anak haram, kau bahkan ingin membawanya ke sini. Kurang gila apalagi coba?!" “Tutup mulut
"Mau apa kamu! Aku benar-benar akan membunuhmu kalau kau macam-macam!" bentak Ivy ketika Lucas kembali mencondongkan tubuh ke arahnya. “Pinjam sebentar, ya, Cantik.” Hanya dengan sebuah usaha kecil, Lucas berhasil membuat wanita itu membubuhkan cap ibu jarinya ke dokumen yang sengaja dia buat unt
“Lucas... lepas!" Ivy kesulitan bicara dan suaranya terbata. Alih-alih menuruti permintaan itu, cengkeraman tangan Lucas justru pindah ke leher Ivy. Meski tahu apa yang dia perbuat sangatlah menyakiti gadis yang dulu pernah membuatnya jatuh hati setengah mati, Lucas tampak masa bodoh dan gilanya
"JANGAN IKUT CAMPUR URUSANKU!" BANG! BANG! BANG! Rentetan tembakan yang memekakkan telinga itu menyambar kesadaran Ivy. Tubuhnya tersentak. Terbangun dengan napas yang tertahan di tenggorokan, sementara kepalanya berdenyut nyeri saat pendar cahaya putih dari lampu menerobos masuk menembus korn






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rezensionen