Di tepi tempat tidur, Ivy duduk terpaku dengan pandangan kosong tertuju pada lantai kamarnya yang dingin. Perlahan tubuhnya mulai meringkuk. Memeluk lutut dengan kedua tangan gemetar, sementara kesedihan menusuk bersembunyi di bawah kepalanya yang tertunduk dalam. Dalam kesuraman itu, isi kepala Ivy masih saja memutar ulang kejadian barusan. Rasanya masih tidak masuk akal. Bagaimana mungkin pertengkaran hebat yang terjadi tadi, disulap sedemikian rupa sehingga tampak seperti tidak pernah terjadi apa-apa? Tidak memberikan jeda untuk menangis lebih lama, ibunya tanpa banyak basa-basi langsung mengerahkan seluruh tenaganya demi terlihat "biasa saja". Membersihkan sisa-sisa kekacauan secepat yang ia bisa, memasak makan malam, mengajak Ivy makan bersama dalam keheningan yang mencekik, lalu masuk ke kamar masing-masing. Semua itu mereka lakukan tanpa membahas apa pun. Baik itu rencana untuk kabur, atau tentang gundik ayah yang hamil bahkan ingin dinikahi. Ivy menghela napas berat. Top
Read more