"Ujian rumah tangga?" Lilis mengulang kalimat itu dengan suara bergetar. Dadanya terasa begitu sesak, karena kenyataan yang menghunjam ulu hatinya bertubi-tubi. Ia memegangi perut buncitnya yang terasa nyeri, meremas kain daster yang dikenakannya seolah mencoba menyalurkan rasa sakit yang tak tertahankan. Di balik punggung Puji, Wulan perlahan menyeka sisa air matanya. Sudut bibirnya terangkat samar, membentuk senyuman tipis yang teramat licik. Matanya yang semula layu kini memancarkan kepuasan yang dingin. Ia tahu, selama sang ibu pasang badan, posisinya di rumah ini akan tetap aman. Puji menghela napas panjang, wajahnya yang dipenuhi kerutan beralih menatap Lilis. Alih-alih membentak kasar, nadanya melunak. Ia duduk di tepi ranjang, mencoba meraih tangan Lilis yang terasa sedingin es. "Lis, dengerin Ibu..." ucap Puji, suaranya merendah, selayaknya seorang ibu yang sedang membagikan kebijaksanaan hidup. "Ibu ini sudah makan asam garam kehidupan sebelum kamu lahir. Dulu, mendia
Dernière mise à jour : 2026-06-11 Read More