Aldrich bermimpi sepanjang malam dan di dalam mimpinya hanya ada Cherish.Senyumnya, air matanya, pinggangnya yang ramping dan lembut, serta desah napasnya yang lirih.Di dalam mimpi, Cherish masih berada dalam pelukannya. Sama seperti dulu, Cherish membiarkan Aldrich mengambil apa pun yang diinginkannya, membiarkan Aldrich tenggelam dalam dirinya. Napasnya masih berkelindan di sekitar Aldrich, seolah tak pernah pergi.Namun ketika dia terbangun, tak ada seorang pun di sisinya.Aldrich refleks mengulurkan tangan untuk memeluk, tetapi yang disentuhnya hanya seprai yang dingin. Perasaan hampa itu membuat hatinya menegang, seolah ada sesuatu yang sangat penting telah direnggut secara paksa darinya.Nada dering ponsel tiba-tiba berbunyi, memutus lamunannya. Dia mengangkat telepon, lalu terdengar suara salah satu sahabatnya dari seberang, "Aldrich, pesta ulang tahunnya sudah siap. Garcia juga sudah dikasih tahu. Kapan kamu datang?"Aldrich mengusap pelipisnya. Suaranya terdengar sedikit ser
Read more