Mendengar ucapanku, dia sempat terdiam. Kemudian, dia menutup mulutnya sambil tertawa cekikikan, “Gu… guru? Kamu lucu sekali. Panggil aku Kak Tina saja. Tenang saja, karena kamu titipan khusus dari Pak Doni, aku pasti bakal mengajarimu baik-baik.”Aku menatapnya dengan penuh rasa terima kasih. Kak Tina baik sekali, bukan hanya cantik, tapi dia tak sombong sedikitpun.Dia berjalan mendekat dan memutari tubuhku beberapa kali, “Penampilanmu yang sekarang masih kurang. Besok aku bakal ajak kamu pergi belanja baju baru dulu.”Dia meremas pantatku sekali, lalu melanjutkan, “Tapi modalmu ini sebenarnya sudah bagus. Cukup didandani saja pasti bakal kelihatan cantik.”Lalu, dia menatap dadaku dengan pandangan yang agak iri, “Namamu Melda, ‘kan? Kok bisa dadamu tumbuh sebesar ini?”Wajahku agak memerah, menjawab, “Bawa… bawaan lahir….”Dia mengulurkan tangannya dan memperkirakan, “Ini setidaknya ukuran E, ‘kan? Baguslah, kamu memang ditakdirkan sukses di bidang ini.”“Benarkah?” Mendengar pujian
Mehr lesen