MasukErna benar-benar terbengong, tak bisa berkata-kata. Seluruh tubuhnya seolah membeku sepenuhnya.Selama beberapa hari berikutnya, dia hanya meringkuk di atas ranjang. Siapapun yang memanggilnya tidak akan direspon. Setiap kali ada orang yang mendekat, dia akan menjerit ketakutan.Kak Tina sudah biasa melihat pemandangan seperti ini, dia berkata, “Nggak apa-apa, setelah beberapa waktu juga akan membaik. Semua gadis yang baru masuk awalnya juga begitu, setelah beberapa kali akan terbiasa.”Namun, kondisi Erna malah semakin memburuk.Kak Tina tak mengantarkan makanan lagi untuknya, katanya tak boleh makan kalau tak kerja.Hari pertama, Erna menahan lapar sambil meringkuk di ranjang dengan mata yang bengkak dan bibir pecah-pecah.Hari kedua, tubuhnya mulai gemetar dan terus-menerus memanggil ibu.Hari ketiga, dia bahkan hampir tak bisa berbicara lagi. Badannya menjadi sangat kurus, tatapan matanya kosong seperti kehilangan jiwa.Aku tak tega melihatnya dan diam-diam membawakan makanan untuk
Erna berdiri di depanku dengan wajah malu-malu dan agak kampungan, persis seperti diriku yang dulu. Dia meremas ujung bajunya dengan canggung, “Kak Melda, dengar-dengar kamu sukses dan menghasilkan banyak uang di sini, makanya ibu menyuruhku datang juga. Mulai sekarang, aku bakal belajar bersamamu.”Menatap wajahnya yang masih polos dan lugu itu, aku merasa seperti melihat diriku sendiri di masa lalu. Aku pun sempat termenung sejenak, lalu menjawab, “Baguslah, aku jadi punya teman di sini mulai sekarang.”Sama seperti dulu, Kak Tina yang mengajarinya. Setelah belajar selama tiga hari, Erna pun mulai bekerja.Sebelum pergi, Kak Tina sempat menyuruhnya minum sesuatu.Saat jam kerjanya selesai, dia kembali dengan tatapan yang kosong. Pakaiannya berantakan, rambutnya juga sampai kusut berantakan.Begitu melihatku, dia seolah baru tersadar sepenuhnya. Dia langsung mencengkeram kerah bajuku dan berteriak histeris, “Melda, kok kamu nggak bilang padaku? Melayani pelanggan yang dimaksud, ternya
Pria itu menoleh, menatapku dengan tatapan menggoda, “Emangnya kamu bisa yang lebih kuat? Coba tunjukkan bisa sekuat apa?Sambil mengingat-ingat apa yang diajarkan Kak Tina, aku pun dengan gugup menuangkan minyak ke punggung pria itu, lalu menggosok kedua telapak tanganku hingga hangat, setelah itu menempelkan ke kulitnya.Otot pria ini benar-benar padat dan keras. Baru memijat beberapa kali saja rasanya tanganku sudah pegal. Ternyata tidak semudah yang kubayangkan.“Hei nona, kamu belum makan, ya? Katanya mau pijat yang kuat?”Dari balik sekat pembatas, terdengar desahan pelan Kak Tina dan napas pria yang memburu, itu terdengar jelas sangat rileks dan penuh kenikmatan.Jika dibandingkan, aku merasa agak tidak berguna. Aku pun bergegas menambah tenagaku.Namun, pria ini tampaknya sengaja menggodaku. Begitu dia mengerahkan tenaga, otot-otot di sekujur tubuhnya langsung mengeras seperti batu hingga tak bisa diremas sama sekali.“Keras, nggak?”“Keras, sangat keras….”“Kalau begitu, kamu
Semalam waktu diajari Om Doni, aku terlalu sibuk menikmati rasa nyaman sampai tak terlalu memperhatikan tekniknya, kondisiku benar-benar linglung saat itu.Baru sekaranglah, aku benar-benar serius belajar bersama Kak Tina.Teknik pijatnya banyak sekali, rasanya cara menekan setiap bagian tubuh berbeda-beda, membuatku benar-benar pusing mempelajarinya.“Kak Tina… bisa… bisakah kamu agak pelan? Aku agak kurang paham, kamu bilang terkadang pelan dan terkadang kuat, maksudnya seberapa pelan dan seberapa kuat?”Kak Tina meremas tanganku beberapa kali sambil terkekeh, “Hal seperti ini harus mengandalkan kepekaanmu sendiri. Permintaan setiap pelanggan itu berbeda-beda. Jadi, kamu hanya perlu ikuti saja permintaan mereka. Yang penting ingat baik-baik beberapa titik ini.”Dia menunjuk ke arah pinggang dan beberapa titik di pahanya sendiri, “Asal kamu sering-sering memijat bagian-bagian ini, dijamin pelanggan bakal puas.”Ah, mana mungkin semudah yang dia bilang. Latihan semalaman sampai tangank
Mendengar ucapanku, dia sempat terdiam. Kemudian, dia menutup mulutnya sambil tertawa cekikikan, “Gu… guru? Kamu lucu sekali. Panggil aku Kak Tina saja. Tenang saja, karena kamu titipan khusus dari Pak Doni, aku pasti bakal mengajarimu baik-baik.”Aku menatapnya dengan penuh rasa terima kasih. Kak Tina baik sekali, bukan hanya cantik, tapi dia tak sombong sedikitpun.Dia berjalan mendekat dan memutari tubuhku beberapa kali, “Penampilanmu yang sekarang masih kurang. Besok aku bakal ajak kamu pergi belanja baju baru dulu.”Dia meremas pantatku sekali, lalu melanjutkan, “Tapi modalmu ini sebenarnya sudah bagus. Cukup didandani saja pasti bakal kelihatan cantik.”Lalu, dia menatap dadaku dengan pandangan yang agak iri, “Namamu Melda, ‘kan? Kok bisa dadamu tumbuh sebesar ini?”Wajahku agak memerah, menjawab, “Bawa… bawaan lahir….”Dia mengulurkan tangannya dan memperkirakan, “Ini setidaknya ukuran E, ‘kan? Baguslah, kamu memang ditakdirkan sukses di bidang ini.”“Benarkah?” Mendengar pujian
Pikiranku benar-benar kacau, tak bisa berpikir jernih sama sekali. Ternyata teknik pijat bisa begitu bervariasi. Dulu kupikir yang namanya pijat itu hanya sekadar meremas punggung seperti yang biasa dilakukan kakek-kakek di kampung.Ternyata pijat di kota senyaman ini, nikmatnya sampai membuat orang ingin menjerit histeris.Asal bisa menguasai keahlian Om Doni ini, aku pasti bisa menghasilkan banyak uang.Aku benar-benar terbuai dan mencoba menyerap semuanya sekuat tenaga, ingin mempelajari semua ilmu Om Doni tanpa tersisa sedikitpun.Hingga akhirnya, dia duduk di sampingku sambil terengah-engah.“Dasar genit… kamu benar-benar genit sekali… om bisa mati kelelahan gara-gara kamu….”Aku meresapi kembali sensasi tadi, rasanya setiap pijatan terasa jauh lebih mantap dari sebelumnya. Ini artinya ilmu yang kupelajari semakin banyak setiap kalinya, ‘kan?Aku pun spontan memeluk tangan Om Doni dan berkata, “Om, tolong ajari aku sekali lagi. Sepertinya ada beberapa bagian yang masih belum begit







