Suasana ruang tamu perlahan mencair, digantikan derai obrolan ringan. Beberapa kerabat mulai berpamitan setelah santap malam usai.Naila, yang sejak tadi duduk mematung di samping ayahnya, menyentuh lengan sang ayah. “Yah, Bu… ayo kita pulang?” bisiknya pelan.Ayahnya menoleh, lalu mengangguk kecil. “Ayo.”Ketiganya melangkah membelah ruangan menuju kursi utama neneknya. “Bu, kami pamit dulu,” ucap ibunya Naila lembut sambil mencium takzim tangan ibunya yang mulai keriput.Ayah Naila melakukan hal yang sama, lalu bergeser mundur memberikan ruang. Naila maju selangkah, meraih jemari hangat itu dengan kedua tangannya.“Nek, Naila pulang dulu, ya.” Naila membungkuk, meraih jemari hangat itu, lalu mencium punggung tangan neneknya dengan takzim.Nenek hanya mengangguk singkat. “Hati-hati.”Datar. Tidak ada senyum yang terkembang. Tak ada pula basa-basi penawar rindu, seperti bertanya apakah Naila sudah kenyang, atau memintanya memberi kabar jika sudah sampai di rumah nanti.Begitu tangan m
Last Updated : 2026-07-08 Read more