MasukDi mata keluarganya, Naila hanyalah seseorang yang tidak pernah cukup untuk dibanggakan, dan selalu di bandingkan dengan sepupunya Regina. Dan Ketika Regina terkena masalah, hanya Naila yang bisa membantunya, apakah akhirnya Naila akan membantu ... atau hanya membiarkan Regina tertimpa lebih dalam dengan masalahnya?
Lihat lebih banyakSuasana hangat rumah nenek justru terasa dingin bagi Naila. Acara keluarga selalu menjadi panggung cerita siapa yang paling berhasil. Seseorang selalu diagungkan, menjadi contoh kesuksesan yang dipamerkan.
Malam itu lampu ruang tamu menyala terang, suara tawa memenuhi ruangan, aroma masakan rumahan menyelimuti udara, dan percakapan saling bersahutan tanpa henti. Semua tampak hangat... seperti keluarga yang sempurna.
Bagi orang lain, suasana di rumah itu mungkin merasakan hangatnya keluarga, tetapi bagi Naila justru terasa asing. Ia berdiri sejenak di ambang pintu sebelum melangkah masuk, menatap wajah-wajah yang sudah dikenalnya sambil membalas senyum tipis.
"fuuu...." Naila menghembuskan napas pelan sebelum akhirnya berjalan masuk, tepat saat suara yang selalu menjadi pusat perhatian terdengar.
"Regina sekarang lagi sibuk banget," ujar Amara dengan nada bangga yang nyaris seperti pengumuman.
"Proyek yang dia pegang itu nilainya besar, bahkan kerjasamanya dengan perusahaan teknologi yang lagi berkembang pesat," ucap Amara lagi.
Semua orang mendengarkan dengan takjub. Beberapa orang melempar pujian, sementara yang lain mengangguk kagum memenuhi ruangan.
Regina yang duduk di samping ibunya hanya tersenyum kecil. Penampilannya rapi dan berkelas, gaun bermerek yang dikenakannya sederhana, tetapi jelas terlihat mahal. Cara duduknya, cara menanggapi perhatian semua orang, semuanya terlihat begitu terlatih.
"Masih banyak yang harus dipelajari," jawab Regina pelan, seolah merendah.
Amara terkekeh ringan.
"Kamu itu terlalu rendah hati. Hasilnya sudah kelihatan jelas kok," sahut Amara.
Amara tidak berhenti sampai di situ.
“Belum lagi tunangannya, yang mempunyai posisi tinggi di perusahaan. Dan untungnya Regina dari dulu serius membangun hidup. Jadi sekarang tinggal menikmati hasilnya.” jelasnya dengan bangga.
Regina hanya tersenyum, menunduk sedikit, tetapi jelas menikmati sorotan yang tertuju padanya, segalanya tampak begitu sempurna baginya, karir yang menjanjikan, kehidupan yang mapan, pasangan yang berpengaruh, seolah hidupnya adalah jawaban dari semua pertanyaan tentang keberhasilan.
setelah puas memamerkan keberhasilan anaknya. Amara pun langsung mencari-cari keberadaan Naila.
"Naila sudah datang ya?" tanya Amara dengan suara yang lebih ringan, tetapi mengandung sesuatu yang sulit dijelaskan.
Semua mata beralih, Naila melangkah masuk dengan tenang. Pakaiannya sederhana, kemeja longgar dengan celana kulotnya. Tidak ada yang istimewa, tidak ada yang menarik perhatian.
dengan senyum terpaksa Naila menjawab. "Iya, tante"
"Ke sini, duduk," ucap Amara.
Naila menurut, duduk di sofa yang sama, tetapi terasa seperti berada di sisi yang berbeda dari ruangan itu.
“Naila sekarang kerja di mana ya?”
Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Amara. Sederhana, tetapi Naila tahu itu persis rangkaian bom yang bersembunyi di baliknya.
"Iya," sahut Naila singkat.
Dan benar saja, sumbu itu langsung menyala. “Oh… masih di tempat yang itu?
Masih di posisi yang biasa juga?”
nada bicara Tante Amara meninggi di ujung kalimat, seolah tempat kerja Naila adalah sebuah kesalahan besar.
Naila hanya bisa tersenyum kaku. Karena ia tahu wanita di hadapannya ini memang selalu mencari hal yang bisa dibandingkan dengan anaknya.
“Perempuan itu jangan terlalu santai kalau umur sudah segini. Kalau belum dapat karir bagus, setidaknya cari pasangan yang jelas.” timpal Tante Amara lagi sambil membenarkan posisi gelangnya.
Naila tersenyum kecil. “Masih dijalani saja, Tante.”
Amara tertawa pelan, sebuah tawa pendek yang kembali memotong kalimat Naila dengan cepat.
“Itu masalahnya. Hidup nggak bisa cuma dijalani,” sahut Amara. Nada suaranya kembali meninggi, penuh penekanan seolah ia baru saja memenangkan sebuah perdebatan dan kembali memegang kendali di ruangan itu.
Tidak ada satupun suara yang bangkit untuk membela. Keheningan yang menggantung di udara terasa begitu mutlak. Di antara kepala-kepala yang tertunduk dan tatapan mata yang membuang muka, tidak ada satu orang pun yang bersuara untuk mengatakan bahwa pertanyaan itu sudah keterlaluan
“Kamu nggak capek kerja bertahun-tahun tapi hasilnya nggak kelihatan?” tanya Amara lagi.
Naila diam. Lidahnya terasa kelu, terkunci oleh rasa sesak yang tiba-tiba menghimpit dada. Ia memilih menahan kata-katanya di ujung bibir, menolak memberikan kepuasan pada lawan bicaranya dengan sebuah bantahan yang tak mungkin didengar.
Amara lanjut bicara.
“Perempuan itu nggak harus hebat. Tapi minimal hidupnya bikin orang tua tenang.”
"Oh iya," Amara kembali bersuara, seolah baru teringat sesuatu yang penting.
"Tante punya kenalan, namanya Toni. Orangnya baik, kerjaannya jelas, penghasilannya juga stabil," ucapnya menjelaskan.
“Cocok buat kamu, dengan keadaan kamu sekarang, tidak banyak orang yang akan cari perempuan yang hidupnya belum jadi apa-apa,” tegas Amara
Kalimat itu meluncur mulus, dingin, dan tanpa beban. Amara sengaja menekankan kata ‘belum jadi apa-apa’, seolah sedang melabeli Naila sebagai produk gagal yang tidak punya nilai.
Ruangan mendadak sangat tenang.
Naila tidak merasa marah. Tidak ada letupan emosi atau keinginan untuk membalas makian. Ia hanya merasa lelah sebuah kelelahan yang teramat sangat, yang telah menumpuk dan menguras seluruh energinya…
“Jadi perempuan itu nggak bisa terlalu lama sendiri,” timpal Regina.
“Yang penting ada yang menjamin hidup untuk masa depan,” lanjut Amara lagi.
Satu per satu kalimat itu terdengar seperti nasihat yang diberikan untuknya. Padahal terasa seperti tekanan baginya
Naila menarik nafas pelan.
“Saya belum kepikiran ke arah sana, Tante.”
Amara tersenyum. Kali ini lebih tipis.
“Jangan terlalu pilih-pilih,nanti malah nggak dapat apa-apa,” katanya.
Kalimat itu meluncur dengan pelan, namun berat. Untuk sesaat, Naila ingin bicara, tapi ditahan.
Ayahnya berdiri. “Naila,” panggil beliau lembut, memecah ketegangan yang sedari tadi mencekik ruangan.
Naila menoleh. Di sisi ruangan yang tak terlalu jauh, sang ayah memaksakan sebuah senyum kecil, jenis senyuman yang menyembunyikan rasa bersalah sekaligus perlindungan seorang orang tua.
“Kalau capek, istirahat dulu di luar,” lanjut ayahnya, memberi jalan bagi Naila untuk meloloskan diri.
Naila mengangguk samar. Tanpa pamit pada Amara maupun orang-orang yang mendadak bungkam, ia berdiri lalu melangkah lebar keluar menuju teras.
“Huff…” hembusan nafas panjang. Udara sore di luar langsung menyergap parunya, terasa jauh lebih ringan dan waras ketimbang atmosfer beracun di dalam ruangan tadi. Naila bersandar pada pembatas teras, menatap kosong ke arah jalanan depan rumah selama beberapa saat, mencoba mengurai sesak di dadanya.
Bzzt. Bzzt.
Saku bajunya bergetar. Tangannya perlahan merogoh tas dan mengambil ponsel. Layar itu langsung menyala, menampilkan pesan baru dari tim intinya. Rapat bersama investor utama ternyata dimajukan ke besok pagi, dan kehadirannya diminta secara langsung. Naila membaca pesan demi pesan itu tanpa banyak perubahan ekspresi, sampai satu pesan terakhir kembali muncul di layar.
“aku harus hadir sebagai….” Naila berucap pelan sambil membaca pesan.
Dalam diamnya Arsen berfikir tentang Naila. entah kenapa, insting yang selama ini membuatnya mengambil keputusan investasi bernilai miliaran rupiah terus mengatakan hal yang sama. Ada sesuatu yang tidak sesuai. Seorang wanita yang mempunyai kemampuan seperti Naila seharusnya jauh lebih dikenal di dunia bisnis. Tetapi saat ia mencoba mencari informasi tentang Naila, hanya sedikit hal yang berhasil ditemukan."Itu yang ingin aku cari tahu tentangnya," jawab Arsen akhirnya.Asistennya mengangguk pelan."Baik, Pak. Saya akan mulai mencari informasinya."Arsen kembali menyandarkan tubuhnya ke kursi. Namun sebelum menutup berkas di tangannya, pandangannya sekali lagi jatuh pada nama yang tercetak di bagian atas halaman. Naila Pradipta.Sudut bibirnya terangkat tipis. "Aku harap instingku kali ini salah," gumamnya pelan."Tapi kalau ternyata benar ….”Kalimat itu terputus begitu saja.Arsen tidak melanjutkannya. Namun tatapannya menunjukkan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kat
Suara sang sekretaris membuat langkah Naila terhenti di tengah koridor. Wanita itu segera menyusul sambil membawa tablet di tangannya. Beberapa staf yang berlalu-lalang di sekitar mereka tampak sibuk dengan pekerjaan masing-masing."Ada yang perlu dibahas?" tanya Naila tenang."Sebenarnya bukan soal pekerjaan, Nona," jawab wanita itu sambil tersenyum kecil.Naila mengangkat alis tipis. "Lalu?""Anda belum makan siang,” ucap sekretarisnya mengingatkan. Naila sempat terdiam sebelum terkekeh pelan. "Jadi sekarang Anda mengawasi jadwal makan saya?""Seseorang harus melakukannya, Nona," balas sang sekretaris dengan nada bercanda.Senyum tipis akhirnya muncul di wajah Naila. "Baiklah. Tolong pesan seperti biasa saja ya.""Dengan senang hati, Nona,” balasnya cepat. Naila melanjutkan langkah menuju ruang kerjanya. Saat pintu itu terbuka, hamparan pemandangan kota langsung terlihat dari balik dinding kaca yang menjulang tinggi. Gedung-gedung besar berdiri megah di bawah matahari yang terik,
"Apa ini?" tanya Naila pelan sambil mengangkat pandangannya dari dokumen yang baru saja dilihat.Suasana ruang rapat mendadak menjadi hening. Beberapa direktur yang sejak tadi memperhatikan proses presentasi saling bertukar pandang, sementara investor yang duduk di seberang meja hanya menyandarkan punggungnya ke kursi dengan ekspresi tenang. Seolah-olah pria itu memang sudah menunggu pertanyaan tersebut sejak menyerahkan dokumen kepada Naila."Itu proposal tahap kedua proyek yang sedang kami pertimbangkan," jawab investor itu sambil melipat kedua tangannya di depan dada. "Namun sebelum melangkah lebih jauh, saya ingin mengetahui bagaimana Anda melihat peluang dan resikonya.”Naila tidak langsung memberikan jawaban. Tatapannya kembali turun ke dokumen yang berada di tangannya. Ia membaca beberapa halaman berikutnya dengan teliti, memperhatikan setiap angka, grafik, dan catatan kecil yang mungkin terlewat oleh orang lain. Semakin lama membaca, semakin jelas bahwa proposal tersebut bukan
Naila membaca pesan terakhir itu beberapa kali. Tatapannya tetap tenang, tetapi jarinya berhenti bergerak di atas layar."Mohon konfirmasi kehadiran Anda. Investor utama meminta CEO hadir secara langsung,” Bunyi pesan dari timnya. “Saya akan datang,” balasnya singkat. Tak butuh waktu lama hingga ponselnya bergetar, menampilkan pesan baru. “Baik, Bu. Semua sudah kami siapkan.”Naila mengunci layar ponselnya perlahan. Ekspresinya masih terlihat tenang, tetapi sorot matanya tidak lagi sama. Karena besok pagi, dunia yang selama ini ia sembunyikan memanggilnya.***Keesokan paginya, kehidupan Naila kembali berjalan seperti biasa. Rumah sederhana yang ditempatinya masih dipenuhi suasana tenang seperti hari-hari sebelumnya. Dari dapur, aroma teh hangat dan roti panggang mulai menyebar ke seluruh ruangan, sementara suara berita pagi terdengar pelan dari televisi di ruang tengah.Naila keluar dari kamarnya setelah selesai bersiap. Ia mengenakan kemeja putih polos dan celana cutbray hitam yan


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.