Tubuh Caca tergeletak dengan luka di sebelah tangannya yang menganga. Segera aku membantunya untuk bangun. Melihat darah, tubuhku rasanya lemas. Prasangka buruk mulai berdatangan, apa mungkin ini ulah Gio, sementara lelaki itu tidak ada di rumah.“Bertahan, Ca! Aku akan membawamu ke rumah sakit!” kataku.Aku mulai memapahnya. Namun, baru dua langkah aku berjalan, aku kesulitan bernapas, kepalaku pun tiba-tiba pusing. Kesadaranku mulai menipis ketika Caca menutup mulut serta hidungku dengan sebuah kain yang berbau tajam.Hal terakhir yang aku lihat sebelum kesadaranku sepenuhnya hilang, adalah senyuman Caca. Dia tersenyum lebar seraya berkata, “Ini pembalasan sebab kamu merebut Gio dariku, dan ini balasan karena ibumu menghinaku habis-habisan!”“Aaargh!”Kepalaku rasanya berputar, bahkan tubuhku rasanya sangat lemas.Aku membuka mata, gelap! Aku tidak bisa melihat apa pun di sini. Entah di mana, jam berapa, aku tidak tahu.“Aku di mana ini?” gumamku. Aku meminta pelipisku.Aku mencoba
Última atualização : 2026-07-29 Ler mais