LOGIN“Batalkan pernikahanmu, aku hamil anak calon suamimu!” ucap sahabat dekatku. Kalimat itu bagaikan belati, begitu menusuk, menyakitkan, merugikan. Bukan hanya hati yang dikorbankan. Namun, rumah pun telah tergadaikan demi pesta pernikahan. Kebahagiaan yang diharapkan telah berubah menjadi hutang yang harus segera terbayar. Desakan, tuntutan dari keluarga, ganti rugi harta yang telah keluar demi pesta pernikahan, membuatku nekat pergi jauh untuk bekerja menjadi seorang pelayan untuk pengusaha kaya raya yang menyimpan masa lalu kelam. Dia membenci seorang wanita, dan tidak segan untuk menghabisi. Apakah aku bisa keluar dari kepungan kebencian yang aku sendiri tidak tahu apa alasannya? Simak cerita selengkapnya!
View More“Kalian bisa lihat? Aku tidak takut, karena aku bukan pelakunya!” kata Diana. Bahkan wanita itu sengaja menyelimuti tubuhnya dengan selimut itu.Aku menunggu beberapa saat untuk melihat reaksi dari serbuk gatal itu. Namun, aku tidak melihat reaksi Diana yang menunjukkan gatal. Aneh! Padahal semalam aku begitu tersiksa di bawah selimut itu.“Kok–”“Lihat? Kalian lihat sendiri, kan? Aku berani menyelimuti tubuhku dengan selimut yang katanya mengandung serbuk gatal. Tapi aku tidak merasakan apa pun. Kenapa, Za? Apa yang kamu inginkan dariku?” tanya Diana.Aku menggeleng pelan, kulihat Gio menatap lurus ke arahku. Tatapan yang seolah menuntut penjelasan.“Tidak! Kamu harus percaya padaku, Gio. Aku tidak mungkin berbohong padamu. Tadi kamu dengar sendiri apa kata dokter. Ada serbuk gatal yang berhasil merusak kulitku.”Tiba-tiba Diana berhambur ke pelukan Gio. Dia menangis, seolah di sini akulah antagonisnya.“Aku tidak akan menuntut Kak Gio untuk mengusir Moza. Dia wanita pilihanmu, dan a
Selepas pemeriksaan, Gio membawaku pulang. “Apakah kamu tidak merasa jijik padaku?” tanyaku, ketika kami telah keluar dari perkiraan rumah sakit.“Jijik?” Gio tersenyum miring. Sementara aku menunduk.Tiba-tiba Gio mendekatkan wajahnya ke arahku, tak segan dia mengecup pipiku. Aku membeliak terkejut.“Kamu?” Aku menyentuh pipiku.“Ya! Tidak harus aku jelaskan, kamu tahu hal apa yang membuatku merasa jijik!” Tentu! Aku tahu itu. Gio benci wanita murahan, dia merasa jijik pada semua itu. Aku tersenyum kecil, bersyukur dalam keadaan seperti ini pun, Gio tetap mampu membuatku tersenyum.Gio menuntunku turun dari mobil, setelah kami sampai di depan rumah.Tanpa mengulur waktu, Gio langsung memanggil Diana. Di sinilah, aku akan membuktikan bahwa kecurigaanku benar adanya.“Ada apa, Kak?” tanya Diana. Gio menolehku.“Ikut aku!” ajakku.Diana mengernyitkan dahinya. Awalnya dia hanya diam, akan tetapi Gio menuntunnya masuk ke kamarku, mengekor di belakang tubuhku.“Ada apa ini? Kenapa aku ha
Kulitku tiba-tiba terasa gatal, semakin digaruk, rasa gatal itu semakin menjalar ke seluruh tubuh hingga wajah. Bahkan sensasi perih pun begitu kurasakan.“Kenapa ini?”Kedua tanganku semakin tidak bisa diam. Rasa gatal ini cukup menyiksaku. Bahkan kulit yang kugaruk pun perlahan berubah memerah. Ini sangat perih.“Ya Tuhan, ini kenapa gatalnya tidak mau hilang?” Aku sampai membuka seluruh pakaianku, demi bisa leluasa menggaruk bagian tubuh yang terasa gatal tersebut.Aku panik, aku tidak tahu penyebab rasa gatal ini karena apa. Apa mungkin selimut yang kugunakan kotor? Atau mungkin ada ulat bulu yang menyelinap masuk? Tidak! Tidak mungkin. Selimut ini masih baru. Bahkan aku tidak pernah membiarkan kamarku kotor barang sedikit pun.“Gio!” Sambil memanggil nama itu, kedua tanganku semakin membabi buta.Kulit yang kugaruk semakin memerah, menipis. Bahkan sebagian kulitku mengeluarkan darah.“Gio! Tolong aku!” teriakku. Aku menangis dalam kondisi seperti ini. Bahkan napasku sedikit tidak
“Kamu kenapa?” tanya Gio.Kulihat sangat jelas, wajah Diana memerah, kedua matanya berair. Diana meraih tisu, lantas menyeka wajahnya.“Maaf, aku … aku tidak bermaksud menghina. Tapi ….” Diana menghentikan ucapannya.“Ada apa?” tanya Gio.Diana melirik ke arah Pak Anjas. “Maaf, aku belum terbiasa makan di hadapan Papa!”Ucapan Diana membuat Pak Anjas berhenti sarapan. Pria itu lantas beranjak dari kursi.“Maaf, Papa lupa kondisi Papa. Kalian lanjutkan saja sarapannya,” ucap Pak Anjas, lantas pergi dari ruang makan.Kupandangi pria tua itu hingga tidak terlihat lagi.“Aku rasa tidak seharusnya kamu berbicara seperti itu, Di,” kataku.Diana melirik sekilas ke arahku.“Orang luar tidak seharusnya mengatur orang dalam. Bukankah begitu?” sarkas Diana.Selera makanku hilang seketika. Diana benar-benar berubah. Dia bukan Diana seperti yang dulu. “Moza benar, kalau kamu tidak mau makan sama Papa, setidaknya cari cara lain supaya tidak menyakiti hatinya,” timpal Gio.Tiba-tiba Diana beranjak,












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews