Di pagi yang kelu, Laut Mayat mengembuskan angin sepoi. Langit merah terbentang tanpa batas, seperti luka menganga yang takkan tersambung. Di bawahnya, lautan darah menghampar sunyi, ombak kecil menjilat lambung kapal dengan irama malas, meninggalkan jejak merah tua pada kayu yang mulai lapuk, tapi tetap terlihat kokoh.Kapal itu meluncur tanpa tujuan, membelah genangan kental yang memantulkan langit. Lalu datanglah puluhan gagak, menyeruak dalam barisan rapi seperti anak panah hitam dilepaskan fajar. Suara mereka sumbang, parau, mencabik-cabik keheningan yang sejak tadi mencengkeram. Mereka terbang rendah, lalu hilang di balik cakrawala, meninggalkan getar sayap yang masih terasa di udara.Di sebuah dek kapal yang tengah berlayar di Laut Mayat, terdapat dua orang yang menunjukkan reaksi yang hampir sama. Satunya adalah seorang remaja laki-laki, dengan rambut sepanjang bahu, pupil mata berwarna hitam cerah, dan mengenakan pakaian formal, menatap ke arah layar.
Last Updated : 2026-07-06 Read more