MasukUpdate: 2 bab/hari Jumlah kata: 1.200+/bab Banyak orang percaya bahwa pengetahuan adalah kunci untuk mempermudah kehidupan. Semakin banyak seseorang mengetahui, semakin besar pula kemampuannya untuk mengendalikan nasib dan mengatasi segala rintangan. Tapi, benarkah demikian? Bagaimana jika setiap pengetahuan yang diperoleh justru membuka pintu menuju sesuatu yang seharusnya tetap tersembunyi? Bagaimana jika memahami kebenaran berarti perlahan kehilangan kewarasan? Di dunia yang dipenuhi energi spiritual, makhluk-makhluk misterius yang dikenal sebagai Q, dewa-dewi kuno yang bersemayam di luar batas realitas, gereja-gereja ortodoks yang menjaga ajaran suci, serta organisasi-organisasi rahasia yang mendambakan kehancuran, pengetahuan dan setiap rahasia yang berhasil diungkap membawa seseorang selangkah lebih dekat pada asal-usul dunia. Mengejar asal-usul dunia berarti mendekatkan diri kepada-Nya—entitas agung yang keberadaannya melampaui pemahaman makhluk fana. Semakin dalam seseorang menelusuri misteri-Nya, semakin besar pula risiko kehilangan jati diri, terperosok ke dalam kegilaan, dan tercemar oleh kekuatan yang tak seharusnya disentuh manusia. Inilah kisah Bagas Pratama, seorang pemuda yang bereinkarnasi ke dunia yang diselimuti misteri, kegilaan, dan bisikan dari kegelapan. Dengan tekad sederhana untuk bertahan hidup selama mungkin, dia justru tanpa sengaja memperoleh identitas sebagai seorang Master Q—sosok yang mampu berhubungan dengan makhluk-makhluk Q dan mengendalikan kekuatan untuk menjadi seorang dewa. Sejak saat itu, hidup Bagas tak lagi berada di bawah cahaya. Dia harus berjalan di antara bayang-bayang, menyingkap rahasia-rahasia terlarang, menghadapi para pemuja kegelapan, serta menjaga kewarasannya di tengah kebenaran-kebenaran mengerikan yang dapat menghancurkan pikiran siapa pun yang mengetahuinya.
Lihat lebih banyakVolume 1 - Kota Gelap Gulita
'Ugh!' 'Menyakitkan!' 'Kepalaku sakit sekali, rasanya seperti dipompa dari dalam dan ingin meledak!' Kegelapan yang dipenuhi oleh gumaman keputusasaan itu hancur seketika. Bagas Pratama yang masih tertidur merasakan kepalanya seperti dipukul menggunakan tongkat berkali-kali, lagi dan lagi. Tidak, itu lebih seperti kepalanya dihantam oleh benda tajam, menusuk tepat di pelipisnya, memutarnya dalam prosesnya. Kepalanya seperti di bor hingga berlubang, seolah-olah kepalanya adalah tembok rusak yang harus diperbaiki. 'Agh!' suara yang penuh kesakitan dan keputusasaan itu kembali lagi, seolah-olah tak ingin membiarkan Bagas beristirahat. Dalam tidurnya dia berusaha untuk menggerakkan salah satu anggota tubuhnya, tapi yang tidak dia duga adalah, seluruh anggota tubuhnya tidak bergeming, tidak merespon keinginan Bagas. 'Aku pasti tertidur lagi di meja kantor, dan rasa sakit ini karena aku terlalu banyak bekerja, tidak pernah diberikan hari libur, atau uang bonus karena lembur… mungkin sebentar lagi aku akan berpikir bahwa aku sudah bangun, padahal masih tertidur, apakah ini semacam lucid dream?' Bagas berusaha berfikir positif bahwa apa yang dia alami kini hanyalah sebatas mimpi, dia pernah mendengar sebuah informasi bahwa kadang-kadang seseorang dapat tersadar bahwa mereka sedang berada di dalam mimpi dan mampu mengendalikan mimpi sesuka hati. Dengan berpikir bahwa rasa sakit yang dia alami akan segera berakhir ketika dirinya terbangun, hal itu membuat Bagas menjadi sedikit tenang. 'Memang aku berusaha untuk tenang, tapi rasa sakit kepala ini seolah-olah ingin membunuhku. Kepalaku seperti akan meledak dari dalam,' Bagas yang sudah tidak tahan dengan rasa sakitnya memaksa dirinya untuk bangun. 'Bangunlah! Bangunlah! Aku harus kembali bekerja... tidak, ini bukan waktu yang tepat untuk memikirkan pekerjaan sementara aku sendiri berada dalam kondisi yang sulit... untuk apa aku memikirkan pekerjaan yang membuatku sakit seperti ini? Sialan, semoga perusahaan ini bangkrut, dan bos yang suka semena-mena itu akan hidup melarat.' Bagas berharap bahwa perusahaan tempatnya bekerja ini cepat bangkrut agar dia bisa kembali bebas, tapi dia segera memikirkan hal itu kembali. 'Tidak, kalau perusahaan ini bangkrut, aku pasti dipecat, dan di zaman sekarang, mencari pekerjaan seperti mencari berlian di trotoar. Tidak, tidak, perusahaan ini jangan bangkrut, semoga bos-nya cepat diganti dengan yang lain.' Memikirkan hal itu entah kenapa membuatnya lupa tentang rasa sakit yang baru saja dia alami, tapi kini dia merasakannya lagi. Rasa sakit itu... bahkan jauh lebih parah dari sebelumnya, kali ini bahkan ditambah dengan bisikan-bisikan aneh yang segera memenuhi kepalanya, memenuhi setiap inci kepalanya. Bagas berusaha melepaskan dirinya sendiri dari penjara "mimpi" ini, dia berteriak di dalam hati, meminta dirinya untuk bangun. 'Bangun! Bangun! BANGUN!' Dan, entah keajaiban apa yang sedang bekerja pada tubuhnya saat itu, dia benar-benar terbangun. Kelopak matanya terbuka perlahan, berat dan gemetar, seakan ada sesuatu yang menahannya untuk kembali sadar sepenuhnya. Begitu kesadarannya terkumpul, napasnya langsung memburu tidak beraturan—kasar, berat, dan tergesa-gesa—seperti seseorang yang baru saja dipaksa berlari tanpa henti menembus lintasan maraton puluhan kilometer. Suara tarikan napasnya memenuhi ruangan yang sunyi. Setiap helaannya terdengar serak dan panik, mirip seseorang yang baru muncul dari dasar lautan setelah hampir kehabisan oksigen di tengah perjalanan menuju permukaan. Seakan-akan beberapa detik lagi saja terlambat, tubuhnya mungkin benar-benar akan menyerah. Dan ketika akhirnya berhasil "mencapai permukaan", tubuhnya bereaksi liar, rakus menyerap udara sebanyak-banyaknya, seperti orang yang baru pertama kali merasakan bernapas lagi. Tangannya gemetar kecil. Keringat dingin membasahi pelipis dan tengkuknya, sementara jantungnya berdetak begitu keras hingga terasa memukul rongga dadanya dari dalam. Pandangannya masih kabur, berputar-putar, sulit membedakan mana nyata dan mana sisa mimpi buruk yang belum sepenuhnya pergi. "Hah, untung saja aku bisa terbangun. Aku pikir aku akan mengalami rasa sakit itu selama delapan jam," Bagas menghela napas lega karena tak harus mengalami rasa sakit selama itu. Kenapa delapan jam? Karena dia berpikir bahwa rasa sakit yang dia alami kini karena dia tertidur, dan berapa lama biasanya orang tidur? Setahu Bagas adalah delapan jam, itu yang paling ideal. Beberapa detik dalam keheningan, pandangannya yang awalnya kabur dan berputar-putar kini secara perlahan kembali normal. Pandangannya kini menjadi jelas. Bagas menggelengkan kepalanya, berusaha menghilangkan sisa-sisa rasa sakit yang baru saja dia alami, dan melanjutkan dengan mengusap wajahnya. Punggungnya bersandar pada kursi kuningan dengan detail rumit yang terlihat kuno, kepalanya mengarah ke atas, dan ketika dia membuka matanya lebar-lebar, Bagas Pratama mematung. Matanya membelalak tak berkedip, tubuhnya tak bergerak sedikit pun selama kurang lebih sepuluh detik, sebelum akhirnya secara spontan Bagas melompat dari kursinya, menatap sekelilingnya. Sekali lagi matanya membelalak, jelas itu bukan pertanda yang baik. Dia kini berada di dalam sebuah ruangan yang cukup besar dengan meja perunggu yang terlihat kokoh dan kursi kuningan dengan paku keling, entah untuk dekorasi atau apa. Selain itu, di ruang ini juga terdapat sebuah lemari yang terbuat dari bahan-bahan aneh dengan banyaknya gir-gir kecil yang saling berhubungan dengan gir besar di bagian depan. Dia belakang kursi kuningan juga terdapat sebuah kepala kambing yang terlihat sangat asli, tidak ada tanda-tanda kepala itu dibuat dengan tangan atau bahan murahan. Detailnya terlalu luar biasa untuk bisa dibuat dengan tangan. Di ujung ruangan juga terdapat sebuah kasur yang terlihat empuk, seperti diisi oleh bulu domba premium. Dan di beberapa sudut dinding ruangan, terpajang sebuah pedang dan revolver yang masih terlihat baru, seolah-olah belum pernah digunakan. Bagas Pratama menelan salivanya dengan berat dan dalam, dia melangkah mundur sebelum akhirnya dikejutkan dengan suara burung otonom yang dia tabrak. Burung otonom itu terbuat dari berbagai rangkaian berbahan kuningan, besi, gir, serta sistem uap yang memungkinkannya untuk bergerak dan mengeluarkan suara sumbang. Bagas berbalik arah dan melihat burung otonom itu yang menempel di dinding. Dia sekali lagi mundur hingga menabrak meja, meraba-raba meja itu, dan dengan kaki gemetar duduk di kursi. "Apa yang... sebenarnya terjadi?" Bagas berusaha mencerna seluruh informasi yang baru saja dia dapatkan ini. Dia menundukkan kepalanya dan menggenggamnya dengan kedua tangan. "Tidak, tidak, mari coba kita rangkai apa yang baru saja terjadi padaku. Aku adalah Bagas Pratama, usia dua puluh lima tahun, seorang designer di perusahaan yang tidak pernah libur, tidak pernah mendapatkan uang lembur, dan tidak pernah naik gaji. Suatu hari aku iseng membeli sebuah lotre, berharap mendapatkan banyak uang agar aku tidak bekerja dan bisa hidup foya-foya. Karena itu, aku diam-diam melakukan sebuah ritual peningkatan keberuntungan, dan tiba-tiba saja aku pingsan, lalu mengalami rasa sakit itu, dan akhirnya tiba di tempat aneh ini." Bagas mengangkat kepalanya, menyapu pandangan ke sekeliling, berharap bahwa semua ini adalah mimpi. Tapi yang dia lihat bukanlah tempat kerja atau kamarnya, tapi sebuah tempat asing yang dipenuhi oleh barang-barang aneh. Bagas pun menampar wajahnya sendiri untuk lebih memastikannya. "Aduh!" dia merasakan sakit saat menampar wajahnya sendiri, dan mengusap pipi kanannya yang kini berubah menjadi sedikit kemerahan. "Hahaha, ini tidak mungkin, ini pasti mimpi..." Bagas tertawa mencela diri sendiri, sebelum akhirnya dia menyadari kebenarannya. "Tapi, mimpi seperti apa yang dapat memberikan rasa sakit seperti ini, dan sensasi senyata ini? Ini bukan mimpi. Agh!!!" Pada momen itu, kepalanya diburu oleh rasa sakit dan bisikan-bisikan aneh yang segera memenuhi kepalanya. Kepalanya seperti sebuah sendok yang harus menampung air di dalam galon. "Agh! Menyakitkan!" Bagas meraung tanpa sadar, memukul meja hingga tangannya berdarah, untuk setidaknya mengurangi rasa sakit yang dia alami ini. "Rostav Zertu..." "Rostav Zertu..." "Rostav Zertu..." Bisikan-bisikan itu mengatakan sebuah nama di kepala Bagas, dan setelah nama itu terucap, rasa sakit dan bisikan-bisikan itu menghilang sepenuhnya, seolah-olah lenyap ditelan kehampaan. Bagas mengambil napas terlebih dulu sebelum menggumamkan nama tersebut, "Rostav Zertu, tujuh belas tahun. Jadi namaku sekarang adalah Rostav Zertu. Apa aku bertransmigrasi ke dunia lain? Apa ini seperti cerita di film-film atau di novel?" Bagas tidak ingin memikirkan apakah dia bertransmigrasi ke dunia di suatu film atau novel, yang jelas dia satu hal bahwa, dia kini telah bertransmigrasi dan kemungkinan besar berada di dunia yang sama sekali berbeda dengan Bumi.Setelah tiba di dapur, Rostav meletakkan barel di dekat meja dan membuka penutupnya. Bau amis darah segera menyeruak begitu penutup barel terbuka. Berbeda dengan ikan berwajah iblis yang dagingnya sendiri tidak memiliki terlalu banyak darah setelah diolah, karena darahnya mengalir keluar dengan deras begitu dagingnya dipotong, walaupun memang masih ada darah yang terperangkap di dalam dagingnya, tapi tidak sampai sebanyak itu.Ikan bersisik emas ini, darahnya tetap terperangkap di dalam daging walaupun dia memotongnya menjadi bagian-bagian yang sangat kecil, membuat dagingnya berwarna merah pekat. Hal itu menandakan bahwa darahnya begitu pekat dan kental, sehingga sulit untuk mengalir keluar. Maka dari itu, Rostav memilih untuk mencuci darahnya terlebih dahulu, setidaknya untuk mengurangi bau amis dan darahnya."Sebenarnya, proses ini memang sedikit merepotkan dan cukup menguras waktu. Tapi, menurutku hal itu tetap lebih baik daripada membiarkan darah ikan terus menetes ke atas kompor
Walaupun dia baru saja mengalami pengalaman yang ajaib, tapi fakta bahwa ikan hitam itu masuk ke dalam tubuhnya tak bisa dilupakan begitu saja. Apalagi waktu dia berpindah ke tempat aneh itu, yang semuanya adalah lautan berwarna biru gelap dengan bintang-bintang berwarna perak, kuning, dan hijau. Ikan itu juga ada di sana, berenang bahkan menyelam ke kedalaman."Apa tempat itu dibuat oleh ikan itu? Aneh saja rasanya tiba-tiba aku berpindah ke sana tanpa alasan yang jelas. Tapi aku memiliki satu pemikiran bahwa, aku berpindah ke tempat itu saat ikan itu masuk ke tubuhku," Rostav menunduk, menatap dadanya sendiri, dan mencengkramnya. Dia masih dapat merasakan sensasi aneh di dadanya, terutama jantungnya. Rostav menambahkan, "apa ini semua hanya kebetulan semata? Tapi kebetulan macam apa yang membuat ikan itu masuk ke tubuhku, dan beberapa saat kemudian aku dipindahkan ke tempat aneh itu? Aku tidak tahu apakah aku sedang mengalami keberuntungan, atau malah kesialan. Aku hanya bisa berhar
Saat ikan hitam itu melesat seperti anak panah dan menghantam tepat di dadanya, Rostav terhempas ke belakang dengan brutal. Tubuhnya terangkat sejenak dari dek sebelum akhirnya membentur pagar kayu kapal dengan suara keras yang menggelegar. Benturan itu membuat seluruh tubuhnya bergetar, dan rasa sakit yang tajam langsung menjalar dari tulang rusuknya ke seluruh tubuh. Napasnya terdengar berat, tersengal-sengal, seolah paru-parunya berebut mencari oksigen yang sempat terpental keluar akibat hantaman tadi. Matanya sedikit berkunang-kunang, pandangannya sempat gelap sejenak, sebelum akhirnya dia bisa kembali fokus pada kenyataan di sekitarnya.Dengan susah payah, dia melirik ke belakang, menatap pagar kayu yang kini menjadi penyelamatnya. Perasaan lega yang amat dalam segera menyusup ke dalam dadanya, bercampur dengan rasa sakit yang masih berdenyut-denyut. Dia merasa benar-benar beruntung, sangat amat beruntung, dirinya ditahan oleh pagar ini. Kalau saja pagar kayu ini tidak ada, atau
Suara guntur itu begitu mengerikan dan mengancam, suaranya begitu nyaring dan keras, seolah-olah ingin merobek langit. Walaupun Rostav berada di dalam kamar, dari mendengar suara guntur ini, dia tahu badai besar akan melanda kapalnya. Dia bahkan bisa mendengar suara angin yang begitu tinggi menabrak kapalnya, tidak hanya itu dia juga merasakan perubahan gelombang laut yang kini bahkan lebih liar dari apa yang pernah dia rasakan sebelumnya. Kapalnya terangkat tinggi dan terbanting berkali-kali, Rostav sendiri bersyukur karena kapal ini tidak terbalik bahkan setelah mengalami hal itu.Suara hujan deras terdengar, itu menghantam kapal dengan suara yang bising.Rostav tetap saja menutup telinganya, suara gemuruh guntur yang dapat menghancurkan gendang telinga terdengar puluhan hingga ratusan kali dalam satu detik."Sial, kalau badai ini tidak cepat berlalu, telingaku bisa hancur. Aku mungkin tidak akan bisa mendengar lagi nanti," Rostav mencerca langit dalam diam. Dia kali ini membenci la
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.