Tenggorokan Widi terasa kaku. Ia berjuang keras menelan ludah untuk menutupi getar di dadanya."I-itu... Yudo jarang sekali pakai kemeja bermotif mencolok," gumam Widi cepat, mencoba menata deru napasnya. "Setahuku tidak pernah. Dia lebih suka warna-warna netral."Melani bergeming sejenak. Perlahan, wanita itu mundur selangkah. Senyum ramah kembali menghiasi bibirnya secara ajaib."Kalau begitu, Kak Widi saja yang pilihkan," tutur Melani enteng.Widi tersentak. "Eh, tidak apa-apa?""Tentu saja. Aku bakal lebih sedih kalau Yudo sampai tidak mau memakai kado dariku," sahut Melani manis, seolah ketegangan mengerikan tadi tak pernah ada."B-baiklah..." Widi berbalik menyusuri rak pakaian.Ia tak menyadari tatapan Melani di belakangnya—dingin, tajam, dan meruncing bagai belati."Yang gerbang hitam itu, Mel," tunjuk Widi dari dalam mobil.Laju kendaraan berhenti tepat di depan tempat kos Widi. Pandangan Melani langsung menyapu bangunan sederhana di hadapannya dengan kerutan tipis di kening.
Last Updated : 2026-07-31 Read more