Mas Eza terdiam di ambang pintu. Ia mendekat tanpa suara, lalu mengulurkan tangannya untuk mengusap lembut helaian rambut yang menutupi kening Widi.Tiba-tiba, layar ponsel kantor di samping komputer berkedip cepat. Panggilan tidak terjawab dari Bu Ella berderet di sana.Mas Eza bergerak cepat. Ia menempelkan dinding gelas es kopi yang dingin tepat ke pipi Widi."Mas Eza, dingin!" Widi tersentak bangun, refleks mengusap pipinya yang basah karena embun gelas. Matanya langsung membelalak menatap deretan panggilan di layar ponsel. Wajahnya seketika pucat.Drrrtt... Drrrtt...Ponsel di saku celana Mas Eza menyusul bergetar, menampilkan nama yang sama. Pria itu mengangkat tangan, memberi isyarat agar Widi diam, lalu menerima panggilan tersebut."Benar, Bu... Oh, Widi baru saja dari kamar mandi, Bu. Ponselnya tertinggal di meja kerja. Baik, segera saya sampaikan."Sambungan terputus. Widi merosot di kursi, mengembuskan napas panjang. "Terima kasih banyak, Mas. Kalau tidak ada Mas Eza, aku t
Last Updated : 2026-07-04 Read more