Setelah makan malam yang terasa hambar, Maxim muncul di depan rumah sambil membawa dua gelas teh susu.Mango pomelo milktea dengan tambahan es.Satu untuk Naira. Satu lagi untukku.Naira langsung menyesap minumannya, lalu mengacungkan jempol.“Memang kamu yang paling ngerti aku. Musim panas begini memang paling enak minum yang dingin-dingin!”Aku hanya memegang gelas itu dalam diam.Rasa dinginnya merambat dari telapak tanganku, perlahan menusuk hingga ke hati.Sebelum Maxim mengenal Naira, dia pernah bercerita kalau dirinya juga punya seorang kakak.Kakak yang begitu bersinar, sampai seluruh keluarga hanya melihat satu orang itu saja.Saat itu, aku terlalu naif.Aku mengira… kami sama.Namun setelah mengenal Naira, Maxim justru berkata…[Naira itu memang jauh lebih disukai daripada kamu, ya.]Meski begitu...Aku tetap menyukai Maxim.Karena di saat semua orang hanya mengingat Naira, dia masih mengingat keberadaanku.Apa pun yang dia beli, selalu dua.Dan selalu sama persis.Namun enta
Baca selengkapnya