Share

Bab 4

Author: Nini
Ibu langsung naik pitam, membalasku dengan ketus.

“Mana ada itu uangmu? Semua kebutuhanmu selama ini Ibu yang tanggung. Cuma ambil sedikit uangmu saja sudah merasa dizalimi? Benar-benar sia-sia Ibu membesarkanmu!”

Itu berbeda.

Kalau memang keadaan ekonomi keluarga sedang sulit, aku pasti rela memberikan uang itu untuk kebutuhan mendesak.

Namun ibu menggunakannya hanya untuk membeli sesuatu yang sebenarnya tak terlalu dibutuhkan Naira.

Aku meninggikan suara.

“Mengambil barang milik orang lain tanpa izin itu namanya mencuri! Itu pelanggaran hukum!”

Kakak langsung berdiri dan menunjuk hidungku.

“Nindi! Jaga mulutmu!” bentaknya.

“Apa-apaan mencuri? Dia ibu kandung kita!”

Maxim juga mengernyit. Seperti biasa, dia kembali berbicara dengan nada menggurui.

“Nindi, kamu terlalu berlebihan. Di antara keluarga sendiri, mana pantas bicara soal mencuri?”

“Tante mengambil uangmu pasti karena khawatir seorang gadis menyimpan uang tunai sebanyak itu.”

“Lagian, Naira berhasil diterima di Universitas Orlena. Sebagai kakaknya, sudah sepantasnya kamu belikan dia hadiah untuk merayakan keberhasilannya.”

Itu adalah uang hari raya yang kukumpulkan selama delapan belas tahun.

Selama itu pula aku hidup sehemat mungkin.

Aku tak pernah berani menghamburkan uang, bahkan satu rupiah pun.

Aku tak pernah tega membeli gaun putri yang kuinginkan.

Tak pernah rela membeli camilan.

Bahkan segelas teh susu pun tak pernah kubeli.

“Kembalikan!”

Aku menatap ibu dengan mata yang mulai memerah.

“Kembalikan uangku.”

Ibu sempat memalingkan wajah, seolah merasa bersalah.

Namun tak lama kemudian, Ibu kembali bersikap seolah-olah dialah yang paling benar.

“Uangnya sudah habis! Gelang emas yang sudah dibeli juga nggak bisa dikembalikan ke toko!”

“Lagipula, nilai ujianmu cuma segitu. Kamu nggak pantas punya uang sebanyak itu!”

Mata Naira langsung memerah.

Dia menarik pelan lengan baju ibu.

“Bu... jangan bertengkar lagi sama Nindi. Ini semua salahku...”

“Kalau begitu... bagaimana kalau gelang emasnya digadaikan saja? Sisanya akan kuganti pakai uang hari rayaku.”

Meski mulutnya berkata ingin mengembalikan uangku, kedua tangannya justru memeluk erat gelang emas itu.

Dari nada suaranya, jelas terasa betapa berat hatinya untuk melepaskannya.

Ibu langsung berdiri di depannya, melindunginya.

“Nindi! Sekarang kamu sudah berani melawan, ya?”

“Masuk ke kamarmu dan renungkan sikapmu! Tanpa izin Ibu, jangan keluar!”

Kakak melangkah maju.

Seperti menyeret anak ayam, dia mencengkeram lenganku dan menarikku menuju kamar.

“Nggak! Aku nggak salah!”

Aku meronta sekuat tenaga.

Namun tenagaku tetap tak sebanding dengan pria dewasa.

Brak!

Pintu kamar ditutup dengan keras.

Aku bersandar di balik pintu.

Perlahan, tubuhku melorot hingga terduduk di lantai.

Dari balik pintu, suara mereka masih terdengar jelas.

Mereka semua mengatakan ibu tak bersalah.

Naira juga tak bersalah.

Yang salah…

Hanya aku.

Aku dianggap terlalu egois.

Padahal uang hari raya Naira jumlahnya puluhan, bahkan ratusan kali lipat dibanding punyaku.

Kalau begitu...

Kenapa mereka harus diam-diam mengambil uangku?

Kenapa mereka terus memaksaku berkorban demi Naira?

Aku memeluk lututku erat-erat.

Air mata jatuh dalam diam.

Selama seminggu berikutnya, seluruh anggota keluarga menganggapku seolah tak pernah ada.

Bentuk hukuman mereka padaku.

Tak ada yang menyuruhku makan.

Tak pernah mengajakku keluar.

Mereka mengira perlakuan seperti itu akan membuatku tersiksa, lalu akhirnya meminta maaf.

Namun…

Selama delapan belas tahun, aku memang selalu diabaikan.

Aku sudah terbiasa.

Memanfaatkan waktu sebelum kuliah dimulai, aku mencari pekerjaan paruh waktu di sekitar rumah.

Tak ada yang peduli jam berapa aku pergi.

Tak ada yang bertanya kapan aku pulang.

Dan tentu saja…

Tak ada yang menyadari bahwa sedikit demi sedikit aku sedang menghapus semua jejak keberadaanku dari rumah ini.

Buku pelajaran dan kertas-kertas catatan semasa SMA kujual ke tempat barang bekas.

Hadiah-hadiah pemberian Maxim, termasuk semua rangkuman belajar yang dulu pernah dibuatnya untukku, kukirim ke daerah pelosok pegunungan yang membutuhkan.

Setelah surat penerimaan universitas tiba, aku menatap rumah itu untuk terakhir kalinya.

Sejak usia delapan tahun, aku dipaksa menyerahkan kamarku.

Aku dipindahkan ke gudang kecil.

Hanya karena Naira membutuhkan ruang khusus untuk berlatih piano.

Di dinding rumah ini...

Yang terpajang hanyalah piagam-piagam milik Naira.

Sedangkan piagam-piagamku…

Dilipat berkali-kali, lalu dijadikan ganjalan kaki meja.

Rumah ini...

Sudah lama bukan tempat yang ingin kutinggali.

Aku membawa barang-barangku yang tak seberapa, lalu memesan taksi menuju stasiun.

Sepanjang perjalanan, ponselku terus berdering tanpa henti.

Kurasa mereka sedang mendesakku datang ke pesta syukuran kelulusan.

Tak satu pun panggilan kuangkat.

Karena sejak awal...

Pesta itu memang hanya disiapkan untuk satu tokoh utama.

Naira.

Aku tak ingin menjadi figuran yang canggung di sana.

Mendengarkan sanak saudara dan para tamu bergantian memuji Naira.

Lalu mereka hanya berkata dengan datar kepadaku.

“Nindi juga diterima kuliah. Baguslah.”

Kalimat singkat itu sudah cukup untuk mengakhiri pembicaraan denganku.

Aku memblokir semua nomor dan kontak mereka.

Lalu menaiki kereta tua menuju Kota Pradaksa.

Kepergian kali ini...

Adalah perpisahan untuk selamanya.

Kami…

Tak akan pernah bertemu lagi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Gadis yang Terabaikan, Dunia Baru Menantimu   Bab 10

    Tanpa terasa, empat tahun pun berlalu.Dalam daftar mahasiswa yang diterima melalui jalur pascasarjana tanpa tes di Universitas Pradaksa, namaku terpampang jelas di urutan pertama Fakultas Kimia.Selama tiga tahun menempuh studi magister, aku berhasil meraih hampir semua penghargaan akademik yang bisa diraih di kampus.Aku juga menerbitkan tiga jurnal SCI sebagai penulis pertama dan ikut bersama dosen pembimbing mengerjakan proyek penelitian nasional.Aku bukan lagi itik buruk rupa yang dulu meringkuk di gudang, hanya bisa memakan kulit semangka demi mendapatkan sedikit perhatian dari kedua orang tuaku.Kini, aku telah menumbuhkan sepasang sayap yang kokoh.Aku telah terbang melintasi ribuan gunung dan sungai, hingga akhirnya menemukan langit luas yang benar-benar menjadi milikku.Penghasilan dari pekerjaan paruh waktuku kini sudah lebih dari cukup untuk membiayai seluruh kebutuhan kuliah dan biaya hidup.Sesekali, aku bahkan bisa memanjakan diri dengan menikmati hidangan laut mewah di

  • Gadis yang Terabaikan, Dunia Baru Menantimu   Bab 9

    Aku mengabaikan semua ucapannya.Aku berjongkok, memungut jeruk-jeruk yang berserakan di lantai, lalu memasukkannya kembali ke dalam kantong satu per satu.Barulah setelah itu aku mendongak menatapnya.“Mengerti apa? Selama delapan belas tahun aku sudah menjadi putri yang penurut. Sekarang… aku cuma pilih universitas yang benar-benar kuinginkan. Apa salahnya?”Billy langsung kehilangan kata-kata.Wajahnya memerah karena malu sekaligus marah. Dia menunjuk ke arahku.“Kamu memang egois! Dingin! Aku sudah tahu dari dulu. Dari kecil sampai sekarang, nggak pernah ada yang benar-benar menyukaimu. Dan sekarang sifatmu malah makin menjadi-jadi!”“Naira sampai nggak punya semangat menyiapkan hari pertama kuliahnya di Universitas Orlena gara-gara ulahmu. Apa hati nuranimu nggak merasa bersalah?”“Itu bukan urusanku.”Aku mengangkat kantong buah, lalu berjalan menuju lantai atas tanpa menoleh sedikit pun.“Dan satu lagi! Kalau lain kali kamu masih berani merebut barangku, aku akan lapor polisi.”

  • Gadis yang Terabaikan, Dunia Baru Menantimu   Bab 8

    Orang pertama yang menemukanku adalah ayah.Lewat dosen pembimbingku, dia berhasil mendapatkan jadwal kuliahku.Begitu bel tanda kuliah selesai berbunyi, aku melangkah keluar dari ruang kelas dan langsung melihat sosoknya berdiri di lorong.Baru dua bulan tak bertemu.Namun, dia tampak seolah menua sepuluh tahun.Separuh rambutnya sudah memutih, sementara punggung yang dulu selalu tegap kini terlihat membungkuk.Begitu melihatku, kedua matanya langsung memerah.Dia bergegas menghampiri, berusaha menggenggam tanganku.“Nindi… akhirnya Ayah menemukanmu!”Aku mundur selangkah, menghindari sentuhannya.“Untuk apa Ayah datang?”Tangan ayah membeku di udara.Dia memaksakan sebuah senyum, berusaha meluluhkan hatiku.“Nindi... ayo pulang sama Ayah.”“Ibumu menangis setiap hari di rumah. Matanya hampir rusak karena kebanyakan menangis.”“Naira juga kehilangan semangat. Rumah sekarang benar-benar kacau.”Aku menatapnya dingin.“Apa hubungannya semua itu sama aku?”“Bagaimana bisa kamu berkata se

  • Gadis yang Terabaikan, Dunia Baru Menantimu   Bab 7

    Kereta tua itu berguncang pelan, melaju ke arah selatan.Di balik jendela, hamparan dataran luas khas utara perlahan berganti menjadi perbukitan yang memanjang serta hijaunya pepohonan.Aku bersandar pada sandaran kursi keras kereta, memandangi pemandangan yang terus melesat di luar.Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasakan kelegaan yang belum pernah kurasakan sebelumnya.Seolah duri yang telah menancap di dalam hatiku selama delapan belas tahun akhirnya berhasil tercabut.Memang masih menyisakan luka dan darah.Namun setidaknya, luka itu tak lagi membusuk.Bulan Agustus di Kota Pradaksa dipenuhi aroma angin laut yang lembap.Begitu menyeret koper keluar dari stasiun, seorang senior yang bertugas menyambut mahasiswa baru sudah menungguku.“Halo… mahasiswa baru, ya? Dari fakultas mana?”Dia menghampiriku dengan senyum ramah.“Fakultas Kimia.”“Wah, fakultas langganan para juara! Ayo, bus kampus ada di sebelah sana.”Karena datang setengah bulan lebih awal, aku berhasil m

  • Gadis yang Terabaikan, Dunia Baru Menantimu   Bab 6

    Ibu langsung merebut lembar kertas itu.Namun saat pandangannya jatuh pada angka yang begitu mencolok, lalu berhenti pada nomor identitas yang sangat dikenalnya, seketika pandangannya menggelap.Tubuhnya limbung, nyaris tak mampu berdiri.Itu nyata.Putri yang selama ini begitu mudah diremehkan karena hanya mendapat nilai lima ratus sekian…Putri yang terus-menerus dibandingkan dan dianggap selalu kalah dari adiknya...Ternyata adalah peraih nilai tertinggi jurusan IPA se-kota.Sementara nilai ujian masuk perguruan tinggi Naira yang selama ini begitu dibanggakannya, di hadapan total nilai enam ratus delapan dua itu, tampak begitu biasa.Yang lebih memalukan lagi...Baru beberapa saat lalu, di hadapan ratusan kerabat dan tamu undangan, dia bahkan dengan lantang berkata bahwa seandainya dulu hanya melahirkan satu putri, hidupnya pasti akan jauh lebih baik.Seketika, bisik-bisik di sekeliling mereka berubah menjadi cibiran yang menusuk.“Ibu macam apa itu? Pilih kasihnya keterlaluan. Putr

  • Gadis yang Terabaikan, Dunia Baru Menantimu   Bab 5

    Di sisi lain, di JM Hotel.Ballroom di lantai paling atas tampak megah dan gemerlap. Cahaya lampu kristal memantul ke setiap sudut ruangan, sementara para tamu saling bersulang dan berbincang dengan riuh.Hampir seluruh kerabat dan kenalan keluarga hadir dalam pesta itu.Ibu mengenakan gaun merah marun yang elegan. Wajahnya berseri-seri saat hilir mudik menyambut setiap tamu yang datang.Sementara itu, ayah memegang segelas anggur sambil mengobrol akrab dengan para rekan bisnisnya.Setiap kali bertemu seseorang, dia tak lupa membanggakan putri bungsunya.“Pak Dani, putri Bapak, Naira, memang luar biasa. Sejak kecil selalu jadi teladan. Sekarang bahkan berhasil masuk Universitas Orlena. Masa depannya benar-benar cerah!”Seorang pria berperut buncit mengangkat gelasnya sambil tersenyum lebar.Ayah tersenyum bangga, lalu meneguk habis isi gelasnya.“Ah, nggak juga. Anak itu memang rajin belajar. Kami sebagai orang tua sebenarnya nggak banyak repot, cuma berusaha memberikan fasilitas terba

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status