MasukSaat pengisian pilihan perguruan tinggi, semua orang mengerubungi adik kembarku sambil sibuk memberikan saran. Kakakku menunjuk kode universitas di urutan paling atas. “Sudah pasti pilih Universitas Orlena. Jadi adik tingkatku. Nanti Abang yang jagain kamu.” Sahabat masa kecil kami segera menyodorkan brosur Universitas Marion ke hadapannya. “Jangan dengarkan abangmu. Masuk Universitas Marion saja. Empat tahun lagi kita bisa jadi teman sekampus.” Ayah dan ibu tersenyum sambil mengangguk setuju. “Belajar di ibu kota memang lebih baik. Ada yang menjagamu, jadi kami juga tenang.” Baru setelah cukup lama, mereka teringat kalau aku juga baru saja menyelesaikan ujian masuk perguruan tinggi. “Nindi… nilaimu kurang bagus, ‘kan? Pilih saja universitas mana pun yang ada di Marion.” “Iya. Nanti kita berempat ada di kota yang sama. Akhir pekan jadi gampang kumpulnya,” sahut kakak tanpa mengangkat kepala. Sahabat masa kecilku pun mulai mengomel seperti biasa. “Tinggal setengah jam lagi batas pengisian pilihan ditutup. Jangan ceroboh lagi seperti biasanya.” Sedikit demi sedikit, genggamanku pada buku panduan pendaftaran itu semakin mengencang.
Lihat lebih banyakTanpa terasa, empat tahun pun berlalu.Dalam daftar mahasiswa yang diterima melalui jalur pascasarjana tanpa tes di Universitas Pradaksa, namaku terpampang jelas di urutan pertama Fakultas Kimia.Selama tiga tahun menempuh studi magister, aku berhasil meraih hampir semua penghargaan akademik yang bisa diraih di kampus.Aku juga menerbitkan tiga jurnal SCI sebagai penulis pertama dan ikut bersama dosen pembimbing mengerjakan proyek penelitian nasional.Aku bukan lagi itik buruk rupa yang dulu meringkuk di gudang, hanya bisa memakan kulit semangka demi mendapatkan sedikit perhatian dari kedua orang tuaku.Kini, aku telah menumbuhkan sepasang sayap yang kokoh.Aku telah terbang melintasi ribuan gunung dan sungai, hingga akhirnya menemukan langit luas yang benar-benar menjadi milikku.Penghasilan dari pekerjaan paruh waktuku kini sudah lebih dari cukup untuk membiayai seluruh kebutuhan kuliah dan biaya hidup.Sesekali, aku bahkan bisa memanjakan diri dengan menikmati hidangan laut mewah di
Aku mengabaikan semua ucapannya.Aku berjongkok, memungut jeruk-jeruk yang berserakan di lantai, lalu memasukkannya kembali ke dalam kantong satu per satu.Barulah setelah itu aku mendongak menatapnya.“Mengerti apa? Selama delapan belas tahun aku sudah menjadi putri yang penurut. Sekarang… aku cuma pilih universitas yang benar-benar kuinginkan. Apa salahnya?”Billy langsung kehilangan kata-kata.Wajahnya memerah karena malu sekaligus marah. Dia menunjuk ke arahku.“Kamu memang egois! Dingin! Aku sudah tahu dari dulu. Dari kecil sampai sekarang, nggak pernah ada yang benar-benar menyukaimu. Dan sekarang sifatmu malah makin menjadi-jadi!”“Naira sampai nggak punya semangat menyiapkan hari pertama kuliahnya di Universitas Orlena gara-gara ulahmu. Apa hati nuranimu nggak merasa bersalah?”“Itu bukan urusanku.”Aku mengangkat kantong buah, lalu berjalan menuju lantai atas tanpa menoleh sedikit pun.“Dan satu lagi! Kalau lain kali kamu masih berani merebut barangku, aku akan lapor polisi.”
Orang pertama yang menemukanku adalah ayah.Lewat dosen pembimbingku, dia berhasil mendapatkan jadwal kuliahku.Begitu bel tanda kuliah selesai berbunyi, aku melangkah keluar dari ruang kelas dan langsung melihat sosoknya berdiri di lorong.Baru dua bulan tak bertemu.Namun, dia tampak seolah menua sepuluh tahun.Separuh rambutnya sudah memutih, sementara punggung yang dulu selalu tegap kini terlihat membungkuk.Begitu melihatku, kedua matanya langsung memerah.Dia bergegas menghampiri, berusaha menggenggam tanganku.“Nindi… akhirnya Ayah menemukanmu!”Aku mundur selangkah, menghindari sentuhannya.“Untuk apa Ayah datang?”Tangan ayah membeku di udara.Dia memaksakan sebuah senyum, berusaha meluluhkan hatiku.“Nindi... ayo pulang sama Ayah.”“Ibumu menangis setiap hari di rumah. Matanya hampir rusak karena kebanyakan menangis.”“Naira juga kehilangan semangat. Rumah sekarang benar-benar kacau.”Aku menatapnya dingin.“Apa hubungannya semua itu sama aku?”“Bagaimana bisa kamu berkata se
Kereta tua itu berguncang pelan, melaju ke arah selatan.Di balik jendela, hamparan dataran luas khas utara perlahan berganti menjadi perbukitan yang memanjang serta hijaunya pepohonan.Aku bersandar pada sandaran kursi keras kereta, memandangi pemandangan yang terus melesat di luar.Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasakan kelegaan yang belum pernah kurasakan sebelumnya.Seolah duri yang telah menancap di dalam hatiku selama delapan belas tahun akhirnya berhasil tercabut.Memang masih menyisakan luka dan darah.Namun setidaknya, luka itu tak lagi membusuk.Bulan Agustus di Kota Pradaksa dipenuhi aroma angin laut yang lembap.Begitu menyeret koper keluar dari stasiun, seorang senior yang bertugas menyambut mahasiswa baru sudah menungguku.“Halo… mahasiswa baru, ya? Dari fakultas mana?”Dia menghampiriku dengan senyum ramah.“Fakultas Kimia.”“Wah, fakultas langganan para juara! Ayo, bus kampus ada di sebelah sana.”Karena datang setengah bulan lebih awal, aku berhasil m






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.