Short
Gadis yang Terabaikan, Dunia Baru Menantimu

Gadis yang Terabaikan, Dunia Baru Menantimu

Oleh:  NiniTamat
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
10Bab
1Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Saat pengisian pilihan perguruan tinggi, semua orang mengerubungi adik kembarku sambil sibuk memberikan saran. Kakakku menunjuk kode universitas di urutan paling atas. “Sudah pasti pilih Universitas Orlena. Jadi adik tingkatku. Nanti Abang yang jagain kamu.” Sahabat masa kecil kami segera menyodorkan brosur Universitas Marion ke hadapannya. “Jangan dengarkan abangmu. Masuk Universitas Marion saja. Empat tahun lagi kita bisa jadi teman sekampus.” Ayah dan ibu tersenyum sambil mengangguk setuju. “Belajar di ibu kota memang lebih baik. Ada yang menjagamu, jadi kami juga tenang.” Baru setelah cukup lama, mereka teringat kalau aku juga baru saja menyelesaikan ujian masuk perguruan tinggi. “Nindi… nilaimu kurang bagus, ‘kan? Pilih saja universitas mana pun yang ada di Marion.” “Iya. Nanti kita berempat ada di kota yang sama. Akhir pekan jadi gampang kumpulnya,” sahut kakak tanpa mengangkat kepala. Sahabat masa kecilku pun mulai mengomel seperti biasa. “Tinggal setengah jam lagi batas pengisian pilihan ditutup. Jangan ceroboh lagi seperti biasanya.” Sedikit demi sedikit, genggamanku pada buku panduan pendaftaran itu semakin mengencang.

Lihat lebih banyak

Bab 1

Bab 1

Hari pengisian pilihan perguruan tinggi.

Semua orang mengerubungi adik kembarku, sibuk memberinya saran.

Kakakku menunjuk kode universitas yang berada di urutan paling atas.

“Sudah pasti pilih Universitas Orlena. Jadi adik tingkat Kakak. Nanti Kakak yang jagain kamu.”

Sahabat masa kecil kami segera menyodorkan brosur Universitas Marion ke hadapannya.

“Jangan dengarkan abangmu. Masuk Universitas Marion saja. Empat tahun lagi kita bisa jadi teman sekampus.”

Ayah dan ibu tersenyum sambil mengangguk setuju.

“Belajar di ibu kota memang lebih baik. Ada yang menjagamu, jadi kami juga tenang.”

Baru setelah cukup lama, mereka teringat kalau aku juga baru saja menyelesaikan ujian masuk perguruan tinggi.

“Nindi… nilaimu kurang bagus, ‘kan? Pilih saja universitas mana pun yang ada di Marion.”

“Iya. Nanti kita berempat ada di kota yang sama. Akhir pekan jadi gampang kumpulnya,” sahut kakak tanpa mengangkat kepala.

Maxim Genoa, sahabat masa kecil kami, ikut mengomel seperti biasanya.

“Tinggal setengah jam lagi sebelum pengisian pilihan ditutup. Jangan ceroboh lagi seperti biasanya.”

Perlahan, jemariku menggenggam buku panduan pendaftaran semakin erat.

Sejak kecil, saat kami bermain rumah-rumahan, adikku selalu menjadi sang putri yang diperebutkan untuk diselamatkan.

Kakakku adalah ksatria yang bersumpah akan melindunginya seumur hidup.

Sedangkan Maxim adalah pangeran yang rela menerobos segala rintangan demi dia.

Sementara aku...

Selalu menjadi penyihir jahat yang dibenci semua orang.

Ternyata setelah dewasa pun, semuanya tetap sama.

Kalau memang tak ada seorang pun yang menyukaiku...

Maka aku akan memilih universitas yang letaknya sejauh mungkin dari rumah.

Mulai hari ini, gunung dan lautan akan memisahkan kami.

Tak akan ada lagi yang perlu kurindukan.

...

Melihat aku tak kunjung menjawab, Maxim kembali mendesak.

“Aku sama Naira sudah pilih Universitas Orlena. Cepat pilih universitas yang ada di Marion.”

Tatapanku tertuju pada angka “682” yang terpampang di layar.

Namun, sama sekali tak ada rasa bahagia di hatiku.

Nilai ujian masuk perguruan tinggiku kali ini jauh melampaui semua nilai ujian simulasi sebelumnya.

Bahkan, dua universitas terbaik yang baru saja mereka bicarakan juga bisa kutembus.

Sayangnya...

Sejak ujian berakhir, tak seorang pun bertanya bagaimana hasil ujianku.

Saat nilai diumumkan, juga tak ada yang peduli berapa skor yang kudapat.

Karena begitu keluar dari ruang ujian, Naira langsung menangis tersedu-sedu.

“Aku merasa kali ini hasilku kurang maksimal. Gimana dong?”

Ayah dan ibu bilang ujian masuk perguruan tinggi tidaklah penting. Mereka bisa mengirimnya belajar ke luar negeri.

Kakakku melambaikan tangan dengan santai.

“Nggak usah takut. Nanti Kakak yang cari uang buat menghidupimu.”

Sementara Maxim menatap Naira dengan lembut.

“Naira… sejelek apa pun hasilmu, nilaimu pasti tetap lebih tinggi dari Nindi.”

“Kalau memang nggak lolos, kita bertiga ujian ulang tahun depan. Sekalian ngajarin Nindi.”

Di mata mereka...

Aku memang ditakdirkan hanya pantas menjadi latar belakang yang menonjolkan kecemerlangan Naira.

Naira begitu cantik, seolah mewarisi semua kelebihan paras ayah dan ibu.

Siapa pun yang melihatnya pasti ingin memuji, memeluk, bahkan menciumnya.

Sebagai kakak…

Penampilanku begitu biasa.

Tak menonjol dan jauh dari kata cantik.

Bahkan kerabat dan teman dekat pun hanya akan melontarkan satu kalimat kepadaku dengan dingin.

[Anak ini kelihatannya penurut.]

Dulu, saat masih kecil, aku mengira itu adalah pujian.

Karena itu, ketika ayah dan ibu hanya membelikan gaun putri yang indah untuk Naira, aku tak pernah merengek ingin memakainya.

Saat kakak pulang sekolah dan hanya membawakan camilan untuk Naira pun, aku juga tak pernah berebut.

Bahkan saat musim panas, ketika Naira menikmati bagian tengah semangka yang paling manis, sementara aku hanya mendapat bagian sisanya, aku tetap tak mengeluh.

Karena setiap kali aku bersikap seperti itu…

Perhatian ayah dan ibu akan beralih kepadaku.

Mereka akan tersenyum dan berkata…

[Nindi memang anak yang baik. Kamu tahu cara sayang sama adik.]

Setelah kami tumbuh besar, Naira dan Maxim bergantian menduduki peringkat pertama di sekolah.

Sedangkan aku...

Aku tak cukup pintar.

Aku belajar lebih lambat daripada orang lain.

Peringkatku selalu berkisar di seratus besar.

Aku bahkan tak pernah cukup layak untuk berdiri sejajar dengan mereka di daftar peringkat yang sama.

Namun kali ini...

Aku akhirnya berhasil mengejar mereka.

Hanya saja…

Di mata mereka, aku tetaplah Nindi yang tak berguna.

Aku tak kuasa menahan diri.

“Bukannya dulu kamu sering bilang Universitas Marion itu kampus impianmu? Kamu yakin nggak jadi ke sana?” tanyaku pada Maxim.

Maxim sempat terdiam.

Lalu dia mencibir dengan penuh keyakinan.

“Memangnya apa bedanya Universitas Orlena sama Universitas Marion? Yang penting, Naira mau kuliah di mana.”

Maxim berkali-kali mengatakan padaku bahwa Universitas Marion adalah impian terbesar dalam hidupnya.

Namun kini...

Hanya karena Naira berkata ingin masuk Universitas Orlena…

Dia dengan mudah mengubah pilihannya.

Tiba-tiba…

Aku merasa sisa harapan terakhir di dalam hatiku pun menjadi lelucon.

Dalam diam, kuarahkan kursor ke pilihan paling atas.

Di kolom pencarian, kuketik nama sebuah universitas.

Universitas Pradaksa.

Sebuah kampus yang terletak di ujung paling selatan negeri ini.

Berjarak lebih dari seribu dua ratus kilometer dari rumah.

Klik.

Kirim.

Konfirmasi.

Seluruh proses itu kulakukan dalam satu tarikan napas.

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Tidak ada komentar
10 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status