แชร์

Bab 3

ผู้เขียน: Nini
Setelah makan malam yang terasa hambar, Maxim muncul di depan rumah sambil membawa dua gelas teh susu.

Mango pomelo milktea dengan tambahan es.

Satu untuk Naira. Satu lagi untukku.

Naira langsung menyesap minumannya, lalu mengacungkan jempol.

“Memang kamu yang paling ngerti aku. Musim panas begini memang paling enak minum yang dingin-dingin!”

Aku hanya memegang gelas itu dalam diam.

Rasa dinginnya merambat dari telapak tanganku, perlahan menusuk hingga ke hati.

Sebelum Maxim mengenal Naira, dia pernah bercerita kalau dirinya juga punya seorang kakak.

Kakak yang begitu bersinar, sampai seluruh keluarga hanya melihat satu orang itu saja.

Saat itu, aku terlalu naif.

Aku mengira… kami sama.

Namun setelah mengenal Naira, Maxim justru berkata…

[Naira itu memang jauh lebih disukai daripada kamu, ya.]

Meski begitu...

Aku tetap menyukai Maxim.

Karena di saat semua orang hanya mengingat Naira, dia masih mengingat keberadaanku.

Apa pun yang dia beli, selalu dua.

Dan selalu sama persis.

Namun entah sejak kapan...

Dua hadiah yang selalu dibelinya, selalu mengikuti apa yang Naira suka.

“Nin… kok malah bengong? Diminum, ya! Aku sengaja beli buat kamu.”

Melihat aku tak bergerak, Maxim akhirnya menegurku.

Namun pandangannya tetap tertuju pada wajah Naira yang tersenyum.

Aku menatapnya, mencoba menjelaskan.

“Maxim… aku alergi mangga. Lagian, lambungku juga bermasalah, nggak bisa minum yang dingin-dingin.”

Suasana mendadak hening.

Maxim mengernyit, seolah sedang berusaha mengingat sesuatu.

Beberapa detik kemudian, dia menjawab dengan nada kesal.

“Serius? Setahuku kamu dulu pernah makan mangga.”

“Lagian, musim panas begini mana ada kedai minuman yang nggak pakai es.”

“Jangan manja, bisa nggak?”

Padahal “yang dulu” itu adalah pertama kalinya aku makan mangga.

Waktu itu, Maxim menangis panik sambil terus meminta maaf.

Dia berjanji...

Mulai saat itu, dia akan selalu mengingat kalau aku alergi mangga.

Ternyata...

“Selalu” yang dia ucapkan hanya bertahan tiga tahun.

Di sampingku, Kak Billy mendengus dingin.

“Nindi… jangan bilang kamu mau pasang wajah masam lagi saat semua orang lagi senang?”

Aku menundukkan kepala dengan kecewa.

Untung saja...

Aku tak memilih universitas di Marion.

Kalau tidak, mungkin aku masih harus menjalani empat tahun lagi… diperlakukan seolah tak terlihat dan terus disalahkan tanpa alasan.

Keesokan harinya, ayah dan ibu berencana memesan tempat di hotel untuk acara syukuran kelulusan.

Di bawah apartemen, aku hanya berdiri canggung.

Matahari Agustus membakar jalanan aspal, memantulkan hawa panas yang menyengat kulit.

“Kenapa belum masuk?” desak ayah.

“Nggak ada tempat.”

Ayah langsung mengernyit.

“Kamu sudah sebesar ini, masa nggak bisa berdesakan sedikit?”

Ibu ikut menimpali.

“Naira mabuk kendaraan, dia harus duduk di depan. Kamu yang mengalah.”

Sementara itu, Naira yang duduk di kursi depan sedang mengatur penutup matahari di atas kepalanya.

Ibu dan kakak duduk di kursi belakang dekat jendela.

Maxim duduk di tengah, sementara tangannya masih memegang tas laptop baru milik Naira.

Tak ada satu pun kursi tersisa untukku.

Kalaupun aku memaksa masuk, aku hanya akan meringkuk di tengah seperti anjing liar yang tak punya tempat.

“Udah nggak muat.”

“Naik taksi saja ke hotel. Toh dekat juga.”

Aku mengangguk pelan, lalu mundur.

“Kalau begitu kalian berangkat saja. Aku...”

Belum sempat menyelesaikan kalimatku...

Ayah sudah menginjak pedal gas.

Mobil itu melaju dengan cepat.

Asap knalpot menyapu wajahku, meninggalkan rasa perih di hidung dan mata.

Aku berjalan pulang dengan perlahan, menyusuri jalan yang tadi kulewati.

Di dapur, aku memasak semangkuk mie untuk diri sendiri.

Aku menambahkan banyak cabai.

Begitu pedas hingga air mataku terus mengalir.

Namun aku tetap menghabiskannya dengan lahap.

Selesai makan, aku mencuci mangkuknya bersih, lalu mengelap meja dapur seperti biasa.

Ponsel di sakuku tiba-tiba bergetar.

Pesan suara dari ibu.

Di balik pesan itu, terdengar begitu banyak suara tawa, memuji Naira.

“Nindi… kenapa belum sampai?”

“Cepat naik taksi. Jangan buat kami menunggu.”

Aku sempat ragu sesaat.

Haruskah aku memblokir nomor ibu...

Atau masih perlu membalasnya?

Pada akhirnya, aku hanya mengirim dua kata.

[Nggak datang.]

Sekembalinya di kamar, aku mulai membereskan barang-barang.

Aku hanya membawa pakaian yang cocok untuk musim ini.

Pakaian musim dingin bisa kubeli lagi setelah tiba di Pradaksa.

Yang lainnya...

Termasuk tablet baca berwarna abu-abu itu...

Semuanya kutinggalkan di atas meja belajar.

Namun saat membuka celengan, di dalamnya hanya tersisa uang receh enam puluh empat ribu.

Semua uang kertas bernilai besar telah lenyap.

Aku membongkar kamar.

Mencari ke setiap sudut.

Tetapi hasilnya nihil.

Ke mana uangku pergi?

Saat aku hampir kehilangan kendali dan ingin melapor ke polisi, pintu kamar tiba-tiba terbuka.

Naira menggoyangkan gelang emas di pergelangan tangannya sambil tersenyum bangga.

“Bagus, ‘kan? Ibu yang beliin. Mahal loh, enam puluh juta.”

Jumlah uang yang hilang dari celenganku...

Enam puluh juta.

Aku menoleh ke arah ibu seolah tak percaya.

“Bu… Ibu ambil uangku diam-diam?”

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Gadis yang Terabaikan, Dunia Baru Menantimu   Bab 10

    Tanpa terasa, empat tahun pun berlalu.Dalam daftar mahasiswa yang diterima melalui jalur pascasarjana tanpa tes di Universitas Pradaksa, namaku terpampang jelas di urutan pertama Fakultas Kimia.Selama tiga tahun menempuh studi magister, aku berhasil meraih hampir semua penghargaan akademik yang bisa diraih di kampus.Aku juga menerbitkan tiga jurnal SCI sebagai penulis pertama dan ikut bersama dosen pembimbing mengerjakan proyek penelitian nasional.Aku bukan lagi itik buruk rupa yang dulu meringkuk di gudang, hanya bisa memakan kulit semangka demi mendapatkan sedikit perhatian dari kedua orang tuaku.Kini, aku telah menumbuhkan sepasang sayap yang kokoh.Aku telah terbang melintasi ribuan gunung dan sungai, hingga akhirnya menemukan langit luas yang benar-benar menjadi milikku.Penghasilan dari pekerjaan paruh waktuku kini sudah lebih dari cukup untuk membiayai seluruh kebutuhan kuliah dan biaya hidup.Sesekali, aku bahkan bisa memanjakan diri dengan menikmati hidangan laut mewah di

  • Gadis yang Terabaikan, Dunia Baru Menantimu   Bab 9

    Aku mengabaikan semua ucapannya.Aku berjongkok, memungut jeruk-jeruk yang berserakan di lantai, lalu memasukkannya kembali ke dalam kantong satu per satu.Barulah setelah itu aku mendongak menatapnya.“Mengerti apa? Selama delapan belas tahun aku sudah menjadi putri yang penurut. Sekarang… aku cuma pilih universitas yang benar-benar kuinginkan. Apa salahnya?”Billy langsung kehilangan kata-kata.Wajahnya memerah karena malu sekaligus marah. Dia menunjuk ke arahku.“Kamu memang egois! Dingin! Aku sudah tahu dari dulu. Dari kecil sampai sekarang, nggak pernah ada yang benar-benar menyukaimu. Dan sekarang sifatmu malah makin menjadi-jadi!”“Naira sampai nggak punya semangat menyiapkan hari pertama kuliahnya di Universitas Orlena gara-gara ulahmu. Apa hati nuranimu nggak merasa bersalah?”“Itu bukan urusanku.”Aku mengangkat kantong buah, lalu berjalan menuju lantai atas tanpa menoleh sedikit pun.“Dan satu lagi! Kalau lain kali kamu masih berani merebut barangku, aku akan lapor polisi.”

  • Gadis yang Terabaikan, Dunia Baru Menantimu   Bab 8

    Orang pertama yang menemukanku adalah ayah.Lewat dosen pembimbingku, dia berhasil mendapatkan jadwal kuliahku.Begitu bel tanda kuliah selesai berbunyi, aku melangkah keluar dari ruang kelas dan langsung melihat sosoknya berdiri di lorong.Baru dua bulan tak bertemu.Namun, dia tampak seolah menua sepuluh tahun.Separuh rambutnya sudah memutih, sementara punggung yang dulu selalu tegap kini terlihat membungkuk.Begitu melihatku, kedua matanya langsung memerah.Dia bergegas menghampiri, berusaha menggenggam tanganku.“Nindi… akhirnya Ayah menemukanmu!”Aku mundur selangkah, menghindari sentuhannya.“Untuk apa Ayah datang?”Tangan ayah membeku di udara.Dia memaksakan sebuah senyum, berusaha meluluhkan hatiku.“Nindi... ayo pulang sama Ayah.”“Ibumu menangis setiap hari di rumah. Matanya hampir rusak karena kebanyakan menangis.”“Naira juga kehilangan semangat. Rumah sekarang benar-benar kacau.”Aku menatapnya dingin.“Apa hubungannya semua itu sama aku?”“Bagaimana bisa kamu berkata se

  • Gadis yang Terabaikan, Dunia Baru Menantimu   Bab 7

    Kereta tua itu berguncang pelan, melaju ke arah selatan.Di balik jendela, hamparan dataran luas khas utara perlahan berganti menjadi perbukitan yang memanjang serta hijaunya pepohonan.Aku bersandar pada sandaran kursi keras kereta, memandangi pemandangan yang terus melesat di luar.Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasakan kelegaan yang belum pernah kurasakan sebelumnya.Seolah duri yang telah menancap di dalam hatiku selama delapan belas tahun akhirnya berhasil tercabut.Memang masih menyisakan luka dan darah.Namun setidaknya, luka itu tak lagi membusuk.Bulan Agustus di Kota Pradaksa dipenuhi aroma angin laut yang lembap.Begitu menyeret koper keluar dari stasiun, seorang senior yang bertugas menyambut mahasiswa baru sudah menungguku.“Halo… mahasiswa baru, ya? Dari fakultas mana?”Dia menghampiriku dengan senyum ramah.“Fakultas Kimia.”“Wah, fakultas langganan para juara! Ayo, bus kampus ada di sebelah sana.”Karena datang setengah bulan lebih awal, aku berhasil m

  • Gadis yang Terabaikan, Dunia Baru Menantimu   Bab 6

    Ibu langsung merebut lembar kertas itu.Namun saat pandangannya jatuh pada angka yang begitu mencolok, lalu berhenti pada nomor identitas yang sangat dikenalnya, seketika pandangannya menggelap.Tubuhnya limbung, nyaris tak mampu berdiri.Itu nyata.Putri yang selama ini begitu mudah diremehkan karena hanya mendapat nilai lima ratus sekian…Putri yang terus-menerus dibandingkan dan dianggap selalu kalah dari adiknya...Ternyata adalah peraih nilai tertinggi jurusan IPA se-kota.Sementara nilai ujian masuk perguruan tinggi Naira yang selama ini begitu dibanggakannya, di hadapan total nilai enam ratus delapan dua itu, tampak begitu biasa.Yang lebih memalukan lagi...Baru beberapa saat lalu, di hadapan ratusan kerabat dan tamu undangan, dia bahkan dengan lantang berkata bahwa seandainya dulu hanya melahirkan satu putri, hidupnya pasti akan jauh lebih baik.Seketika, bisik-bisik di sekeliling mereka berubah menjadi cibiran yang menusuk.“Ibu macam apa itu? Pilih kasihnya keterlaluan. Putr

  • Gadis yang Terabaikan, Dunia Baru Menantimu   Bab 5

    Di sisi lain, di JM Hotel.Ballroom di lantai paling atas tampak megah dan gemerlap. Cahaya lampu kristal memantul ke setiap sudut ruangan, sementara para tamu saling bersulang dan berbincang dengan riuh.Hampir seluruh kerabat dan kenalan keluarga hadir dalam pesta itu.Ibu mengenakan gaun merah marun yang elegan. Wajahnya berseri-seri saat hilir mudik menyambut setiap tamu yang datang.Sementara itu, ayah memegang segelas anggur sambil mengobrol akrab dengan para rekan bisnisnya.Setiap kali bertemu seseorang, dia tak lupa membanggakan putri bungsunya.“Pak Dani, putri Bapak, Naira, memang luar biasa. Sejak kecil selalu jadi teladan. Sekarang bahkan berhasil masuk Universitas Orlena. Masa depannya benar-benar cerah!”Seorang pria berperut buncit mengangkat gelasnya sambil tersenyum lebar.Ayah tersenyum bangga, lalu meneguk habis isi gelasnya.“Ah, nggak juga. Anak itu memang rajin belajar. Kami sebagai orang tua sebenarnya nggak banyak repot, cuma berusaha memberikan fasilitas terba

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status