تسجيل الدخولTanpa terasa, empat tahun pun berlalu.Dalam daftar mahasiswa yang diterima melalui jalur pascasarjana tanpa tes di Universitas Pradaksa, namaku terpampang jelas di urutan pertama Fakultas Kimia.Selama tiga tahun menempuh studi magister, aku berhasil meraih hampir semua penghargaan akademik yang bisa diraih di kampus.Aku juga menerbitkan tiga jurnal SCI sebagai penulis pertama dan ikut bersama dosen pembimbing mengerjakan proyek penelitian nasional.Aku bukan lagi itik buruk rupa yang dulu meringkuk di gudang, hanya bisa memakan kulit semangka demi mendapatkan sedikit perhatian dari kedua orang tuaku.Kini, aku telah menumbuhkan sepasang sayap yang kokoh.Aku telah terbang melintasi ribuan gunung dan sungai, hingga akhirnya menemukan langit luas yang benar-benar menjadi milikku.Penghasilan dari pekerjaan paruh waktuku kini sudah lebih dari cukup untuk membiayai seluruh kebutuhan kuliah dan biaya hidup.Sesekali, aku bahkan bisa memanjakan diri dengan menikmati hidangan laut mewah di
Aku mengabaikan semua ucapannya.Aku berjongkok, memungut jeruk-jeruk yang berserakan di lantai, lalu memasukkannya kembali ke dalam kantong satu per satu.Barulah setelah itu aku mendongak menatapnya.“Mengerti apa? Selama delapan belas tahun aku sudah menjadi putri yang penurut. Sekarang… aku cuma pilih universitas yang benar-benar kuinginkan. Apa salahnya?”Billy langsung kehilangan kata-kata.Wajahnya memerah karena malu sekaligus marah. Dia menunjuk ke arahku.“Kamu memang egois! Dingin! Aku sudah tahu dari dulu. Dari kecil sampai sekarang, nggak pernah ada yang benar-benar menyukaimu. Dan sekarang sifatmu malah makin menjadi-jadi!”“Naira sampai nggak punya semangat menyiapkan hari pertama kuliahnya di Universitas Orlena gara-gara ulahmu. Apa hati nuranimu nggak merasa bersalah?”“Itu bukan urusanku.”Aku mengangkat kantong buah, lalu berjalan menuju lantai atas tanpa menoleh sedikit pun.“Dan satu lagi! Kalau lain kali kamu masih berani merebut barangku, aku akan lapor polisi.”
Orang pertama yang menemukanku adalah ayah.Lewat dosen pembimbingku, dia berhasil mendapatkan jadwal kuliahku.Begitu bel tanda kuliah selesai berbunyi, aku melangkah keluar dari ruang kelas dan langsung melihat sosoknya berdiri di lorong.Baru dua bulan tak bertemu.Namun, dia tampak seolah menua sepuluh tahun.Separuh rambutnya sudah memutih, sementara punggung yang dulu selalu tegap kini terlihat membungkuk.Begitu melihatku, kedua matanya langsung memerah.Dia bergegas menghampiri, berusaha menggenggam tanganku.“Nindi… akhirnya Ayah menemukanmu!”Aku mundur selangkah, menghindari sentuhannya.“Untuk apa Ayah datang?”Tangan ayah membeku di udara.Dia memaksakan sebuah senyum, berusaha meluluhkan hatiku.“Nindi... ayo pulang sama Ayah.”“Ibumu menangis setiap hari di rumah. Matanya hampir rusak karena kebanyakan menangis.”“Naira juga kehilangan semangat. Rumah sekarang benar-benar kacau.”Aku menatapnya dingin.“Apa hubungannya semua itu sama aku?”“Bagaimana bisa kamu berkata se
Kereta tua itu berguncang pelan, melaju ke arah selatan.Di balik jendela, hamparan dataran luas khas utara perlahan berganti menjadi perbukitan yang memanjang serta hijaunya pepohonan.Aku bersandar pada sandaran kursi keras kereta, memandangi pemandangan yang terus melesat di luar.Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasakan kelegaan yang belum pernah kurasakan sebelumnya.Seolah duri yang telah menancap di dalam hatiku selama delapan belas tahun akhirnya berhasil tercabut.Memang masih menyisakan luka dan darah.Namun setidaknya, luka itu tak lagi membusuk.Bulan Agustus di Kota Pradaksa dipenuhi aroma angin laut yang lembap.Begitu menyeret koper keluar dari stasiun, seorang senior yang bertugas menyambut mahasiswa baru sudah menungguku.“Halo… mahasiswa baru, ya? Dari fakultas mana?”Dia menghampiriku dengan senyum ramah.“Fakultas Kimia.”“Wah, fakultas langganan para juara! Ayo, bus kampus ada di sebelah sana.”Karena datang setengah bulan lebih awal, aku berhasil m
Ibu langsung merebut lembar kertas itu.Namun saat pandangannya jatuh pada angka yang begitu mencolok, lalu berhenti pada nomor identitas yang sangat dikenalnya, seketika pandangannya menggelap.Tubuhnya limbung, nyaris tak mampu berdiri.Itu nyata.Putri yang selama ini begitu mudah diremehkan karena hanya mendapat nilai lima ratus sekian…Putri yang terus-menerus dibandingkan dan dianggap selalu kalah dari adiknya...Ternyata adalah peraih nilai tertinggi jurusan IPA se-kota.Sementara nilai ujian masuk perguruan tinggi Naira yang selama ini begitu dibanggakannya, di hadapan total nilai enam ratus delapan dua itu, tampak begitu biasa.Yang lebih memalukan lagi...Baru beberapa saat lalu, di hadapan ratusan kerabat dan tamu undangan, dia bahkan dengan lantang berkata bahwa seandainya dulu hanya melahirkan satu putri, hidupnya pasti akan jauh lebih baik.Seketika, bisik-bisik di sekeliling mereka berubah menjadi cibiran yang menusuk.“Ibu macam apa itu? Pilih kasihnya keterlaluan. Putr
Di sisi lain, di JM Hotel.Ballroom di lantai paling atas tampak megah dan gemerlap. Cahaya lampu kristal memantul ke setiap sudut ruangan, sementara para tamu saling bersulang dan berbincang dengan riuh.Hampir seluruh kerabat dan kenalan keluarga hadir dalam pesta itu.Ibu mengenakan gaun merah marun yang elegan. Wajahnya berseri-seri saat hilir mudik menyambut setiap tamu yang datang.Sementara itu, ayah memegang segelas anggur sambil mengobrol akrab dengan para rekan bisnisnya.Setiap kali bertemu seseorang, dia tak lupa membanggakan putri bungsunya.“Pak Dani, putri Bapak, Naira, memang luar biasa. Sejak kecil selalu jadi teladan. Sekarang bahkan berhasil masuk Universitas Orlena. Masa depannya benar-benar cerah!”Seorang pria berperut buncit mengangkat gelasnya sambil tersenyum lebar.Ayah tersenyum bangga, lalu meneguk habis isi gelasnya.“Ah, nggak juga. Anak itu memang rajin belajar. Kami sebagai orang tua sebenarnya nggak banyak repot, cuma berusaha memberikan fasilitas terba







