"Mayjen? Mayjen, Anda sudah sadar?" Suara sang ajudan terdengar di telinga Alfons, dipenuhi rasa lega sekaligus kegembiraan.Dengan susah payah, Alfons membuka mata. Tampak atap tenda sederhana rumah sakit lapangan dan tercium aroma disinfektan yang menyengat bercampur dengan bau darah memenuhi udara.Alfons menggerakkan bibirnya yang pecah-pecah, berniat bicara, tetapi tenggorokannya terlalu serak hingga tak mampu mengeluarkan suara.Ajudannya segera membasahi kapas dengan sedikit air, lalu mengusap bibir Alfons dengan hati-hati.Butuh waktu cukup lama bagi Alfons untuk mengumpulkan sedikit tenaga. Dia menatap sang ajudan. Di balik matanya tersimpan secercah harapan yang begitu tipis, harapan yang bahkan dia sendiri nyaris tidak berani percayai.Dengan suara yang begitu lemah, dia bertanya, "Apa ... dia tahu tentang kondisiku?"Alfons tahu pertanyaan itu terdengar konyol. Dirinya berada di perbatasan, terputus dari segala informasi, sedangkan Carmel berada di seberang lautan. Mana mun
Mehr lesen