“Ah… Teruskan, Mas! Ini sungguh nikmat!”Langkah Tarjo mendadak terhenti. Di batas pinggir perkebunan tebu sore itu, pandangannya terkunci pada siluet dua orang di bawah rimbunnya pohon beringin tua. Di atas lincak bambu, seorang gadis tengah duduk menyamping di pangkuan seorang pemuda.“Gimana? Lebih mantap sentuhanku, kan, ketimbang pacar gembelmu itu?” Suara parau si pemuda terdengar meremehkan, disusul suara decakan dan napas yang berat.“Ah... jangan sebut laki-laki miskin itu di depanku sekarang, Mas. Merusak suasana saja,” rajuk si gadis. “Puaskan aku, Mas… ah….”Darah di tubuh Tarjo seketika membeku. Telinganya tidak mungkin salah mengenali suara itu.Gadis yang memejamkan mata dengan pakaian atas setengah melorot itu adalah Dian, kekasihnya. Sosok yang justru sengaja Tarjo temui sore ini untuk pelipur lara setelah ibunya meninggal lima hari yang lalu.Sementara pemuda yang tengah memangkunya, yang kini leluasa meraba dan meremas dada Dian, adalah Bondan, anak kandung Pak Budi
Última actualización : 2026-07-08 Leer más