共有

Semakin Membara

作者: Black Jack
last update 公開日: 2026-08-11 21:43:13

Tarjo menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kesadarannya yang mulai tercerai-berai. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, ia kembali menuangkan beberapa tetes minyak gosok ke telapak tangannya.

Ia mulai menempelkan kembali jemarinya ke kulit Sumini. Kali ini, sentuhannya berpindah ke otot betis yang terasa tegang, lalu perlahan-lahan bergerak naik menyusuri paha matang wanita itu. Setiap jengkal kulit yang disentuhnya terasa begitu hangat, membuat darah Tarjo semakin berdesi
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター
コメント (1)
goodnovel comment avatar
Rahman Edi
novel apa ini min,,baru jg dibaca SDH GK jelas,yg seperti ini GK usah diterbitkan ......
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • Mas! Jangan Lupa Jatahku Ya!   Dapat Kiriman Motor

    Hari sudah hampir siang saat Tarjo melangkah melewati ambang pintu rumah sederhananya. Langkah kakinya terasa begitu ringan, namun kepalanya masih dipenuhi gulungan memori dari apa yang tadi ia alami. Tanpa membuang waktu, Tarjo segera berganti pakaian santai yang tentu saja tak kalah butut dari baju yang tadi ia pakai di bank.Ia menyeduh segelas kopi hitam, lalu melangkah ke teras belakang rumah. Sambil duduk meluruskan kaki di atas lincak kayu yang agak berderit, Tarjo menyesap kopinya perlahan. Napasnya terembus berat.Kejadian tadi itu terasa unik, mulai dari diusir oleh dua satpam bank yang memandangnya seperti orang gila, ditolong oleh Bu Selvi si polwan cantik, hingga insiden penemuan kalung berlian bernilai ratusan juta.Tarjo memandangi cangkir kopinya. Ia sama sekali tak menyesal. Meski tadi si ibu kaya menyodorkan segepok uang lima juta rupiah yang menggiurkan, hati kecil Tarjo menolaknya tanpa ragu. Uang itu memang imbalan yang terhitung besar, tetapi entah kenapa ia meno

  • Mas! Jangan Lupa Jatahku Ya!   Menemukan Kalung Mewah

    Di tengah kebingungan dan kepanikan Tarjo akibat bisikan entitas gaib di dalam tubuhnya, Selvi polwan cantik yang duduk di sampingnya menangkap gelagat aneh tersebut. Ia menoleh, memperhatikan raut wajah Tarjo yang tegang dan berkeringat dingin."Kamu baik-baik saja?" tanya Selvi lembut, memecah kecanggungan.Tarjo tersentak pelan. "E-eh, iya Bu Polwan... maaf," sahutnya terbata. Memaksa tersenyum, ia mencoba bersikap seobyektif mungkin. "Hanya masih grogi, Bu. Jujur, baru pertama kali ini saya masuk ke bank..."Ucapan Tarjo memang jujur, namun ia dengan rapat menyembunyikan pergolakan batin yang sebenarnya: tawaran liar dari entitas gaib di dalam tubuhnya yang terus mendesak untuk memikat wanita di sebelahnya.Selvi terkekeh geli melihat kepolosan pemuda desa itu. "Siapa namamu?""E... nama saya Tarjo, Bu.""Oke, Tarjo. Nah, kalau ini namaku. Kamu pasti bisa melihatnya, kan?" Selvi menunjuk jahitan nama yang tersemat di seragam dinas bagian dadanya.Namun, bukan nama itu yang membuat

  • Mas! Jangan Lupa Jatahku Ya!   Dibantu Polwan Cantik

    Dada Tarjo bergemuruh. Tangannya terkepal di samping paha, menahan gejolak amarah yang membakar hingga ke ujung kepalanya. Sebagai pemuda desa yang terbiasa mengalah, nalurinya mendesak untuk mundur, berbalik arah, dan menyembunyikan diri dari tatapan-tatapan tajam yang menghakimi. Rasa takut akan urusan dengan orang-orang kota sempat membuatnya ciut.Namun, sebelum langkah kakinya bergeser, gelombang hawa dingin yang familiar kembali berdesir tajam di dalam tempurung kepalanya. Suara berat dan berwibawa dari entitas gaib itu bergema, begitu dekat dan sangat mengintimidasi.“Jangan mundur. Kau tidak salah, Tarjo. Lawan! Jangan pernah jadi orang penakut saat aku bersamamu!”Desakan itu membakar sisa-sisa ketakutan Tarjo. Ia menarik napas panjang, lalu menatap lurus ke arah satpam berkumis yang baru saja menepis tangannya."Apa hubungannya mau bikin rekening sama pakaian dekil, Pak?" ujar Tarjo, suaranya terdengar lantang dan berbobot, menembus riuh rendah suasana luar bank. "Saya warga

  • Mas! Jangan Lupa Jatahku Ya!   Di Usir Satpam Bank

    Langkah kaki Tarjo terasa melayang saat ia meniti jalan setapak menuju rumahnya. Tangan kanannya mencengkeram erat tali tas ransel parasut yang basah kuyup, sementara matanya terus mengawasi sekitar, waspada jika ada tetangga desa yang melihatnya membawa barang asing.Begitu ambang pintu rumahnya terlewati, Tarjo langsung menutup pintunya rapat-rapat dan Ia memutar kunci sekadarnya, memastikan ia benar-benar sendirian di dalam rumah yang itu.Dengan napas yang masih memburu, ia melangkah ke area dapur yang remang-remang, lalu menyalakan lampu bohlam lima watt yang bergelantung pasrah di langit-langit.Di atas meja kayu yang permukaannya sudah kasar dimakan usia, Tarjo membuka ritsleting tas parasut tersebut. Tangannya gemetar hebat saat mengeluarkan buntalan plastik mika bening yang membungkus segepok uang pecahan seratus ribu rupiah. Ia merobek plastik itu dengan tergesa-gesa.Uangnya aman. Kering. Dan tampaknya asli.Bau khas kertas uang baru langsung menyeruak, memenuhi rongga hidu

  • Mas! Jangan Lupa Jatahku Ya!   Uang Di Dalam Tas Hanyut

    Mendengar permintaan Sumini, Tarjo seolah kehilangan akal sehatnya. Didorong oleh hawa panas yang membakar hasratnya, dan juga atas rasa penasarannya, maka tangannya bergerak turun menuju pinggang celananya. Namun, tepat saat ia baru saja hendak menurunkan kain celananya, sebuah suara dari luar rumah seketika memecah keheningan kamar.Suara deru mesin motor yang mendadak mati di depan warung terdengar sangat jelas. Tak berselang lama, langkah kaki yang terburu-buru terdengar mendekati pintu depan, disusul oleh suara cempreng yang sangat mereka kenal."Ibuuu! Ibu di mana? Belanjaannya berat. Bantuin!" panggil Dian dari ruang depan.Bagaikan tersiram air es di tengah malam, sihir mistis yang menyelimuti Tarjo dan Sumini seketika buyar. Sensasi panas dan gairah yang sedari tadi membubung tinggi langsung menguap, digantikan oleh rasa panik dan ketakutan yang luar biasa. Jantung Tarjo berdegup dua kali lebih cepat, kali ini murni karena ketakutan setengah mati."Aduh! Dian pulang, Jo!" bis

  • Mas! Jangan Lupa Jatahku Ya!   Semakin Membara

    Tarjo menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kesadarannya yang mulai tercerai-berai. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, ia kembali menuangkan beberapa tetes minyak gosok ke telapak tangannya.Ia mulai menempelkan kembali jemarinya ke kulit Sumini. Kali ini, sentuhannya berpindah ke otot betis yang terasa tegang, lalu perlahan-lahan bergerak naik menyusuri paha matang wanita itu. Setiap jengkal kulit yang disentuhnya terasa begitu hangat, membuat darah Tarjo semakin berdesir hebat. Namun, karena rasa sungkan dan takut melanggar batas, gerakan tangan Tarjo tertahan dan hanya berani memijat sampai sebatas paha bagian bawah, tepat di atas lutut.Sumini yang sedang tengkurap dapat merasakan keraguan dan kegugupan dari keponakan mantan calon menantunya itu. Sebagai wanita dewasa yang matang, ia tahu persis bahwa Tarjo pasti sedang diliputi rasa malu dan canggung yang luar biasa. Sumini tersenyum tipis, tidak ingin terlalu memaksakan keadaan agar pemuda itu tidak malah

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status