Share

Mengembalikan Dompet

Penulis: Black Jack
last update Tanggal publikasi: 2026-07-08 22:46:25

Tarjo menelan ludah yang terasa kesat. Tangannya gemetar. Jiwa miskinnya berteriak untuk egois. Namun, bayangan almarhum ayahnya yang selalu mengajarkan kejujuran tiba-tiba melintas di benaknya. Tarjo menggeleng kuat-kuat. Tidak, ia tidak sampai hati memakan uang yang bukan haknya. Bagaimana jika uang ini adalah uang modal berdagang seseorang yang sama susahnya dengan dia?

Tarjo kemudian menarik selembar kartu dari dalam dompet tersebut. Sebuah KTP. Ia memandangi foto yang tertera di sana: seorang pria paruh baya berwajah teduh dengan kumis tipis, bernama Warsito.

Penasaran, Tarjo menyempatkan diri berjalan mengitari los pasar. Ia menyusuri kerumunan pedagang sayur, bumbu, hingga deretan pedagang kain, sambil matanya awas mencari-cari wajah yang mirip dengan foto di KTP tersebut. Namun, setelah lima belas menit berputar-putar hingga keringat kembali bercucuran, hasilnya nihil. Pria bernama Warsito itu tidak ada di mana pun.

Tarjo kembali membaca alamat yang tertera di KTP. Desa Sukomulyo, RT 04/RW 02.

"Desa Sukomulyo..." Tarjo bergumam. Itu adalah desa tetangga yang letaknya hanya terpisah hutan jati kecil dari desanya. Jaraknya sekitar tiga atau empat kilometer dari pasar ini.

Tarjo menarik napas dalam-dalam, lalu memasukkan dompet itu ke dalam kantong celananya yang sebelah lagi. Tekadnya sudah bulat. Daripada menyerahkannya ke pos pasar yang belum tentu aman, Tarjo memilih untuk mengantarkan langsung dompet itu ke rumah pemiliknya.

Tarjo segera menaiki sepeda ontel bututnya, mengayuh pedal dengan kekuatan baru yang mengalir misterius di kedua kakinya. Jalanan berbatu dan tanjakan menuju Desa Sukomulyo yang biasanya terasa menyiksa, kini dilewatinya dengan begitu mudah. Angin pagi menerpa wajahnya, perlahan meredakan gemuruh di dadanya.

Sesampainya di gapura Desa Sukomulyo, Tarjo memperlambat lajunya. Ia turun dari sepeda dan menghampiri beberapa warga yang sedang berkumpul di depan sebuah warung kopi. Dengan sopan, Tarjo menyapa mereka dan menunjukkan foto di KTP milik Pak Warsito.

"Permisi, Bapak-Bapak. Mau tanya, apakah tahu rumah Pak Warsito yang ada di foto KTP ini?" tanya Tarjo.

Seorang pria berkaus singlet menunjuk ke arah jalan setapak di sebelah kanan. "Oh, Pak Warsito juragan kain? Itu, Mas, kamu lurus saja. Rumahnya yang paling besar, catnya warna hijau mentereng dengan halaman luas."

"Terimakasih Pak," ucap Tarjo lega.

Ia kembali menuntun sepedanya menuju rumah yang dimaksud. Benar saja, sebuah rumah jaman dulu yang cukup megah berdiri di sana. Namun, suasana di teras rumah itu tampak suram. Tarjo melihat seorang lelaki paruh baya yang wajahnya persis dengan di KTP sedang duduk di kursi teras. Kepalanya tertunduk, wajahnya tampak sangat lesu dan frustrasi.

Tarjo memarkir sepedanya di pagar, lalu melangkah masuk ke halaman. "Permisi... Selamat pagi..." panggil Tarjo agak ragu.

Lelaki itu mendongak. Ia menatap Tarjo dengan tatapan malas dan enggan, seolah sedang tidak ingin diganggu oleh siapa pun. "Iya, ada apa?" tanyanya dengan suara serak.

Tanpa banyak bicara, Tarjo merogoh saku celananya. Ia mengeluarkan dompet kulit cokelat tebal itu dan menyodorkannya ke hadapan lelaki itu. "Maaf, Bapak. Apakah ini dompet milik Bapak yang jatuh di pasar kecamatan tadi?"

Seketika, mata Pak Warsito membelalak lebar. Wajahnya yang semula layu langsung berubah cerah benderang, seolah baru saja melihat mukjizat. Ia meloncat dari kursinya dan menyambar dompet itu dari tangan Tarjo.

"Ya Tuhan! Benar, ini dompet saya!" seru Pak Warsito dengan suara bergetar. Ia langsung berteriak ke arah dalam rumah, "Bu! Ibuuu! Kemari, Bu! Dompetnya ketemu!"

Seorang wanita paruh baya berkerudung instan berlari keluar dengan wajah cemas, yang sedetik kemudian berubah menjadi tangis haru saat melihat dompet itu ada di tangan suaminya. Keluarga itu tampak sangat bahagia, hingga membuat Tarjo yang menyaksikannya ikut terharu.

Pak Warsito dengan cepat memeriksa isi dompetnya. "Utuh... semuanya masih utuh. Uang modal dagang tidak berkurang sepeser pun." Pria itu kemudian membuka sebuah ritsleting kecil yang tersembunyi di bagian dalam dompet. Ia mengembuskan napas lega yang amat dalam. Dua buah cincin permata dan sebatang emas murni berukuran kecil masih tersimpan aman di sana.

"Mas, kamu tahu? Bukan cuma uang ini yang membuat kami pusing, tapi perhiasan dan surat-surat di dalam dompet ini jauh lebih penting. Ini titipan orang yang harus saya setor hari ini," ujar Pak Warsito dengan mata berkaca-kaca. Ia menatap Tarjo dengan pandangan penuh rasa hormat. "Di zaman sekarang, jarang sekali ada anak muda sejujur kamu. Siapa namamu?"

"Tarjo, Pak. Tarjo Lesmana."

"Mas Tarjo, ayo masuk dulu. Kebetulan kami baru mau sarapan, kita makan sama-sama di dalam," ajak Pak Warsito ramah, sementara istrinya langsung bergegas ke dapur untuk menyiapkan teh hangat.

Tarjo mau-mau saja diundang makan untuk menghormati orang itu. Dan lagipula ia juga sedang kelaparan.

Setelah selesai sarapan bersama, Pak Warsito masuk ke dalam kamarnya, lalu keluar lagi dengan membawa segepok uang pecahan seratus ribu. Ia menyodorkan uang itu ke depan Tarjo.

"Ini ada lima juta rupiah, Tarjo. Tolong diterima. Ini sama sekali tidak sebanding dengan kejujuranmu, tapi anggap saja ini ucapan terima kasih yang tulus dari keluarga kami," ucap Pak Warsito sungguh-sungguh.

Melihat tumpukan uang sebanyak itu di depan matanya, tubuh Tarjo mendadak gemetar. Lima juta rupiah. Jumlah yang sangat besar. Tapi hati kecilnya menolak.

Tarjo mendorong kembali tangan Pak Warsito dengan halus. "Jangan, Pak... mohon maaf. Saya mengembalikan dompet ini ikhlas karena memang bukan hak saya. Saya tidak bisa menerima uang sebanyak ini."

"Lho, kenapa? Ini rezekimu, Tarjo. Ambil saja, jangan menolak," paksa Pak Warsito, merasa heran sekaligus semakin kagum.

“Tidak usah pak, terimakasih…”

“Jika kamu menolak, hatiku ini rasanya sedih sekali, Tarjo… rasanya jadi seperti tidak menemukan dompet ini…”

“Bukan begitu pak…”

“Terimalah, ini rejeki. Dan sungguh berdosa jika Mas Tarjo menolak rejeki…” kata Pak Warsito.

Mendengar paksaan itu, ditambah beban hidup yang selama ini menghimpitnya bertubi-tubi, dari pukulan Bondan hingga ancaman utang seratus juta dari Pak Budi, pertahanan mental Tarjo runtuh. Ia langsung merosot dari kursi, bersimpuh di lantai di dekat kaki Pak Warsito, dan air matanya tumpah begitu saja. Ia menangis terisak-isak.

"Terimakasih banyak Pak... Terima kasih banyak atas kebaikan Bapak," isak Tarjo dengan pundak yang berguncang.

Pak Warsito terkejut melihat reaksi Tarjo yang begitu emosional. Ia ikut berjongkok, memegang kedua pundak pemuda itu, dan memintanya duduk kembali. "Tarjo, ada apa? Kenapa kamu sampai menangis seperti ini? Cerita sama saya. Ada masalah apa?" tanya Pak Warsito, suaranya melunak penuh rasa keayahan.

Sambil menyeka air matanya, Tarjo akhirnya bercerita. Ia menceritakan statusnya yang hanya kuli serabutan, rumahnya yang terancam disita, dan bagaimana ia dikejar utang seratus juta rupiah warisan almarhum ayahnya kepada Pak Budi yang kejam.

Mendengar cerita pilu itu, hati Pak Warsito terenyuh hebat. Ia terdiam sejenak, memandangi pemuda jujur di hadapannya yang sedang tertimpa kemalangan luar biasa.

"Tarjo..." Pak Warsito menepuk pundak Tarjo. "Uang lima juta ini kamu bawa. Bisa untuk mencicil hutang. Tenang saja. Aku kenal siapa Tarjo. Dia tak berhak menyita rumah jika kamu mencicil hutang itu. Nanti jika dia memaksa, bilang padaku. Aku akan datang dan mengajak lurah kalian. Anggap saja ini langkah awal untuk menyambung hidupmu. Kalau kamu mau, saya punya pekerjaan untukmu. Saya sering kewalahan mengantar dagangan kain ke luar kota sendirian. Kamu mau ikut menemani saya bekerja?"

Tarjo mendongak, matanya yang basah berbinar seketika. "Benar, Pak? Saya... saya mau, Pak! Pekerjaan apa saja akan saya lakukan!" Tarjo mengangguk mantap.

"Bagus. Nanti jadwalnya saya kabari lagi," kata Pak Warsito sambil tersenyum. "Oh ya, berapa nomor handphone-mu? Biar gampang saya hubungi nanti."

Tarjo menunduk, mendadak merasa canggung. "Anu... Pak. Saya jujur tidak punya handphone. Jangankan yang bagus, yang jadul pun saya tidak punya."

Pak Warsito tertawa kecil, bukan mengejek, melainkan karena merasa gemas dengan kepolosan dan kemalangan Tarjo. "Kebetulan sekali," ujar Pak Warsito sambil berdiri dan berjalan ke arah lemari pajangan. Ia mengambil sebuah kotak kecil dan membawanya ke meja.

Di dalamnya ada sebuah ponsel pintar Android yang meskipun bekas, namun kondisinya masih sangat mulus dan terawat.

"Ini ada ponsel bekas anak saya yang paling bungsu. Masih bagus sekali, cuma tidak dipakai karena dia minta ganti yang baru untuk kuliah. Ini buat kamu," kata Pak Warsito, meletakkan ponsel itu di atas meja bersama secarik kertas. "Ini saya sudah tuliskan nomor hp saya di kertas ini. Kamu tinggal beli nomor baru di konter, lalu kalau sudah aktif, langsung telepon atau kirim pesan ke saya, ya?"

Tarjo menatap ponsel itu, lalu beralih ke uang lima juta di atas meja. Dadanya terasa sesak oleh rasa syukur yang luar biasa. Hari yang ia kira akan diawali dengan kesakitan dan keputusasaan, justru berbalik menjadi air bah keberuntungan.

Setelah mengucapkan terima kasih berkali-kali, Tarjo akhirnya pamit. Ia menuntun sepedanya keluar dari halaman rumah Pak Warsito dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Uang lima juta kini aman di sakunya, lengkap dengan sebuah ponsel di saku yang lain. Kini ia tinggal memberi nomor baru dan entah kenapa ia merasa berdebar-debar saat sadar ia akan menggunakan teknologi canggih itu.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Ibnu Hajar
bagus menghibur
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Mas! Jangan Lupa Jatahku Ya!   Hadiah Dari Nyi Candrakirana

    Wanita itu terlihat sangat cantik. Sungguh cantik sampai Tarjo sejenak lupa bernafas saat menatapnya.Kulitnya seputih gading dengan semburat keemasan, rambutnya hitam panjang tersanggul tinggi dengan hiasan bunga dan sebuah mahkota emas bertatahkan permata merah. Ia mengenakan kemben merah tua, kain jarik bermotif indah yang menjuntai hingga mata kaki, serta selendang tipis berwarna kuning gading yang melayang pelan meski tak ada angin. Seluruh tubuhnya tampak berpendar lembut, seperti diterangi cahaya dari dalam.Tarjo tahu, sosok cantik itu bukanlah manusia. Ia spontan hendak berdiri, tapi tubuhnya terasa kaku.“Selamat datang, Tarjo,” ucap wanita itu. Suaranya merdu dan dalam, bergema seolah berbicara dari banyak tempat sekaligus. “Terima kasih telah datang kemari dan mengembalikan salah satu pusaka milik kami. Aku Nyai Candrakirana, penguasa tempat ini. Dan sosok lelembut yang selama ini mendampingimu, dan juga membimbingmu kemari adalah muridku.”Bulu kuduk Tarjo meremang dari t

  • Mas! Jangan Lupa Jatahku Ya!   Sendang Kasih

    Tiga kali Tarjo salah belok.Jalan menuju timur ternyata tidak sesederhana garis biru di layar ponselnya. Sinyal sempat hilang di tengah hutan jati, dan di satu persimpangan sepi ia terpaksa berhenti menanyai seorang bapak penjual rumput yang sedang memikul dua ikat besar di pundaknya. Di desa berikutnya ia bertanya lagi kepada penjaga pom bensin mini, lalu kepada seorang ibu yang sedang menjemur gabah.Menjelang pukul sebelas, setelah empat jam perjalanan dan pantat yang mulai pegal, jalan beraspal itu menyempit lalu menanjak. Kabut tipis menggantung di antara pohon pinus, dan kepala Gunung Jatiwangi semakin terlihat jelas, gelap kehijauan dan menjulang seperti penjaga tua.Tarjo tiba di sebuah desa terakhir yang menjadi arah tujuannya. Di sana ia melihat rumah-rumah berdinding papan dengan kebun sayur di sisi jalan. Di ujung desa, tepat di mana jalan aspal berakhir dan berganti jalan setapak berbatu yang menanjak ke dalam rimbun pohon, berdiri sebuah warung berdinding anyaman bambu.

  • Mas! Jangan Lupa Jatahku Ya!   Ternyata Keris Curian

    Jalan setapak menuju rumah Mbah Wiro gelap dan sepi. Joko berjalan terpincang sambil menekan perutnya, sementara Bimo memapah lengannya sendiri yang masih lemas. Di depan mereka Mbah Wiro melangkah dengan tongkat yang diketukkan lebih keras dari biasanya, seperti ingin menghukum tanah.Lama tak ada yang bicara. Akhirnya Bimo yang memecah sunyi dengan suara serak.“Mbah... bukan sekadar jago berkelahi dia itu. Tadi saya pukul, rasanya seperti memukul batu. Waktu saya ayunkan kayu, saya lihat sendiri, lengannya tidak bergerak, tidak terluka.”“Saya juga merasakan,” timpal Joko sambil meringis. “Ada yang aneh, Mbah. Waktu dia tatap kami, bulu kuduk saya berdiri. Seperti ada yang lain berdiri di belakangnya.”Mbah Wiro berhenti melangkah. Ia menoleh, wajahnya separuh tertutup bayang-bayang. “Kalian merasakannya juga?”Keduanya mengangguk.“Perewangan,” desis Mbah Wiro. “Dia punya khodam, atau makhluk pendamping yang sangat tua. Waktu Sulastri kemasukan, makhluk di tubuh gadis itu lari ket

  • Mas! Jangan Lupa Jatahku Ya!   Memberi Pelajaran Kecil

    Tarjo sesungguhnya tak mau berkelahi, tak mau masalah itu bertambah panjang. Masalahnya, ia harus menahan keris itu. Dan tiga orang yang datang itu jelas tak akan pulang sebelum mendapatkan jawaban pasti; keberhasilan, atau kegagalan.Joko maju lebih dulu, tangan kanannya melayang lurus ke wajah Tarjo. Di mata Tarjo, serangan itu tampak lambat. Dan entah kenapa, dalam benaknya, ia bisa mengetahui arah serangan dan bagaimana ia menghindar.WUZZZZTarjo hanya memiringkan kepala. Kepalan itu lewat sejengkal dari telinganya, dan angin pukulannya mengibaskan rambutnya. Sebelum Joko menarik tangannya, Tarjo sudah bergeser setengah langkah ke samping.Di saat yang sama, Bimo mengerahkan tendangannya menyapu rendah ke arah lutut. Tarjo mengangkat kakinya sedikit, membiarkan tendangan itu lewat di bawah telapaknya, lalu menapak lagi seolah baru melangkahi genangan air.“MATI KAAUUU!!!”Joko kembali menyerang dengan rangkaian pukulan cepat, kiri-kanan-kiri. Gerakannya rapi, jelas hasil latihan

  • Mas! Jangan Lupa Jatahku Ya!   Menebus Keris Dari Tarjo

    Semua perhatian kini tertuju ke arah Tarjo dan dukun tua itu.Sebetulnya, Tarjo tidak ingin persoalan itu berlanjut. Ia sudah menolong Sulastri, dan itu cukup. Yang ia inginkan sekarang hanya keluar dari rumah ini, membeli sabun yang tadi ia cari, lalu pulang.Tapi di dalam benaknya, roh itu bersuara. ‘Ambil kerisnya!’Tarjo memejamkan mata sekejap. ‘Tidak bisakah kita biarkan saja?’ batinnya.‘Ambil!’ Roh itu memaksa. Tak ada tawar menawar.Ia menghela napas. Dengan berat hati, ia menoleh pada si dukun yang masih duduk kaku dengan keris di pangkuan.“Mbah,” ucapnya pelan, hampir seperti meminta maaf, “saya tidak bermaksud memaksa. Tapi tadi kita sudah sepakat, dan banyak yang mendengar.”Dukun itu tak langsung menjawab. Rahangnya mengeras, jari-jarinya mencengkeram sarung kayu jati itu kuat-kuat. Dalam kepalanya ia sedang mencari celah: pura-pura lupa, bilang tadi hanya gertakan, atau menuduh Tarjo menggunakan ilmu hitam. Tapi puluhan pasang mata menatapnya. Ibu-ibu yang tadi berbisi

  • Mas! Jangan Lupa Jatahku Ya!   Taruhan Dengan Sang Dukun

    Ruang tengah rumah Pak Slamet pengap oleh bau kemenyan dan keringat. Orang-orang berdiri rapat di sepanjang dinding, sebagian memegang tasbih, sebagian hanya menatap dengan wajah tegang. Di tengah ruangan, di atas tikar pandan, Sulastri terduduk dengan rambut kusut menutupi separuh wajah. Dua lelaki memegangi lengannya, tapi tubuh gadis itu terus menggeliat. Matanya mendelik putih, dan dari mulutnya keluar geraman rendah yang sama sekali bukan suaranya.Di hadapannya duduk bersila seorang lelaki bertubuh gempal dengan ikat kepala hitam dan kalung batu akik berlapis-lapis. Di pangkuannya tergeletak sebilah keris berselongsong kayu jati, gagangnya berukir. Keringat menetes dari pelipisnya, tapi ia berusaha mempertahankan wibawa.Tarjo berhenti di ambang pintu. Pak Slamet, yang berdiri di dekat anaknya dengan mata merah dan bahu merosot, menoleh dan mengenalinya.“Jo? Kamu...”“Pak,” ucap Tarjo pelan, melangkah masuk. “Maaf mengganggu. Saya dengar Sulastri sakit. Kalau Bapak mengizinkan,

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status