共有

Kepeleset

作者: Black Jack
last update 公開日: 2026-08-11 21:39:10

Dengan langkah berat dan perasaan yang berkecamuk, Tarjo berjalan menyusuri jalan setapak menuju rumah Sumini; seorang wanita berusia 45 tahun yang sudah lama hidup menjanda sejak suaminya meninggal dunia.

Untuk menyambung hidup bersama putrinya, Dian, Sumini membuka warung kecil-kecilan di teras rumahnya. Selain menjual sembako, ia juga menyediakan minuman dingin seperti es teh, kopi, dan jus buah untuk para tetangga yang kerap mampir melepas penat.

Sewaktu muda dulu, Sumini adalah kembang desa. Paras cantiknya yang memikat kini diwarisi seutuhnya oleh Dian. Meski usianya hampir berkepala lima, pesona Sumini belum sepenuhnya pudar. Bentuk tubuhnya yang sintal khas ibu-ibu matang, ditambah kulitnya yang masih terawat, kerap kali membuat para pria di desa itu diam-diam mencuri pandang jika sedang berbelanja di warungnya.

Namun, di balik fisiknya yang menarik, Sumini terkenal memiliki lidah yang tajam dan sikap yang angkuh, terutama kepada mereka yang secara materi berada di bawahnya.

Setiap jengkal langkah Tarjo terasa seperti menuju tempat pembantaian. Sebenarnya, Tarjo tidak terlalu keberatan jika tak sengaja berpapasan dengan Dian, walau hatinya masih perih akibat dikhianati, tetapi menghadapi Sumini adalah perkara lain.

Sejak dulu, wanita itu selalu menatapnya dengan pandangan merendahkan dan berbicara dengan nada ketus. Alasan Sumini sederhana: Tarjo miskin, seorang kuli serabutan yang dianggap tidak punya masa depan dan hanya akan menyusahkan Dian.

Sepanjang jalan, pikiran Tarjo terus berputar memikirkan perintah tak masuk akal dari entitas misterius yang bersemayam di dalam kepalanya.

"Bagaimana mungkin aku bisa membuat Sumini senang? Melihat mukaku saja, wanita itu pasti langsung naik pitam," batin Tarjo frustrasi.

Namun, Tarjo sama sekali tidak menyadari satu hal. Roh gaib yang kini bersarang di tubuhnya tidak hanya memberikan keberuntungan finansial seperti tadi pagi. Secara perlahan, energi mistis itu mulai merembes ke dalam pori-pori kulitnya, mengubah struktur auranya. Langkah kaki Tarjo kini terasa lebih tegap, dadanya bidangnya tampak lebih tegap, dan sepasang matanya memancarkan binar wibawa serta kharisma maskulin yang kuat; sesuatu yang belum pernah ia miliki sebelumnya.

Sesampainya di depan warung, Tarjo menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan debaran jantungnya. Ia sudah menyiapkan sebuah siasat kecil agar kedatangannya tidak langsung memicu keributan. Ia akan berpura-pura menjadi pembeli biasa.

"Bi Sum... Bi Sum..." panggil Tarjo dengan suara sesopan mungkin.

Suasana warung tampak sepi. Keadaan ini membuat Tarjo sedikit lega karena demi apa pun, ia tidak nyaman jika harus bertemu Dian dalam situasi seperti itu. Tarjo melongok ke dalam jajaran stoples dan karung sembako. Kebetulan sekali, persediaan dapur di rumah reotnya memang sudah habis total.

"Bi Sum, beli beras..." panggilnya lagi, agak lebih keras.

Sebenarnya, Tarjo sangat jarang menginjakkan kaki di warung ini. Ia selalu memilih berbelanja di warung tetangga yang lain yang jaraknya sedikit lebih dekat dan pemiliknya jauh lebih ramah. Namun hari ini, nasib dan kekuatan gaib memaksanya berdiri di tempat itu.

"Bi Sum..." Untuk ketiga kalinya Tarjo memanggil, namun tetap tidak ada sahutan dari dalam rumah.

BRAAAKK!!!

Tiba-tiba, dari arah dalam rumah, terdengar suara benda besar yang terjatuh dengan keras, disusul oleh jeritan kesakitan yang melengking. "Aduuuhhh!!!"

Mendengar teriakan itu, rasa kemanusiaan Tarjo mengalahkan keraguannya. Tanpa berpikir panjang, ia melompati pembatas warung dan menerobos masuk ke dalam rumah yang pintunya sedikit terbuka. "Bi Sum? E, Bi Sum tidak apa-apa?"

Tarjo melangkah cepat menuju ruang tengah, dan seketika itu juga langkahnya terkunci di lantai. Matanya terbelalak. Di atas lantai tegel yang basah, Sumini terduduk lemas. Wanita itu baru saja selesai mandi; tubuhnya hanya dibalut selembar handuk putih yang ketat, memperlihatkan pundaknya yang polos dan paha yang masih basah oleh sisa air. Rupanya ia terburu-buru keluar kamar mandi karena mendengar suara panggilan Tarjo, hingga terpeleset genangan air.

Begitu mendongak dan melihat siapa yang masuk, wajah Sumini yang semula meringis kesakitan langsung berubah merah padam oleh amarah. "Heh! Ngapain kamu lancang masuk ke sini, hah?!" bentaknya kasar, sambil berusaha menarik ujung handuknya untuk menutupi bagian tubuhnya yang terekspos.

"Maaf, Bi... maaf! Tadi saya di depan mau beli beras, terus dengar Bi Sum teriak kesakitan, jadi saya langsung masuk," jawab Tarjo panik, buru-buru memalingkan pandangannya ke arah dinding.

"Owalah! Dasar bocah sialan pembawa apes! Gara-gara kamu manggil-manggil, aku buru-buru sampai kepeleset begini! Aduh... aduh... sakit sekali..." Sumini kembali mengaduh, memegangi pergelangan kaki kanannya yang mulai membengkak. Ia mencoba bangkit berdiri, namun tubuhnya limbung dan hampir terjatuh kembali.

Tarjo berdiri mematung, didera rasa serba salah yang luar biasa. Jika ia mendekat untuk menolong, ia takut dituduh macam-macam, apalagi kondisi pakaian Sumini sangat minim. Namun jika ia pergi begitu saja, itu terasa tidak manusiawi.

Di tengah keraguannya yang memuncak, sebuah gelombang hawa dingin tiba-tiba berembus di dalam tempurung kepalanya. Suara berat dan mengintimidasi itu kembali bergaung, memotong semua keraguan Tarjo.

"Kamu harus menolong dia. Sekarang!”

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Mas! Jangan Lupa Jatahku Ya!   Melewati Batas

    Tarjo merasakan sensasi unik yang membawanya perasaannya kembali pada momen masa lalu, saat pertama kali ia membuka celana dan memperlihatkan miliknya kepada Sumini. Ada rasa malu yang berpadu dengan gelora gairah yang membuat jantungnya berdetak kencang.Di titik itu, ia tahu, malam di kamar hotel tersebut sudah pasti bukan sekadar tentang tidur atau bermain kartu biasa. Sejak awal ia memang berharap, namun tak pernah benar-benar menyangka bisa melangkah sejauh ini bersama wanita sekelas Silvi. Meski begitu, ia tahu ia belum boleh senang sebelum semuanya benar-benar terjadi.Dengan canggung, Tarjo berusaha menutupi senjatanya yang berdiri kokoh dan tegang dengan menggunakan kedua telapak tangannya. Namun, ukuran benda itu tak mungkin bisa disembunyikan hanya dengan sepasang tangan.“E, sudah, Bu Silvi...” kata Tarjo dengan suara bergetar, pipinya panas membara.Silvi terkekeh pelan, tawanya terdengar rendah dan menggoda di tengah kesunyian kamar. “Hihihi, besar banget punyamu, Jo...

  • Mas! Jangan Lupa Jatahku Ya!   Main Kartu Menegangkan

    Tarjo masih bengong, seolah otaknya belum selesai memproses kalimat yang baru saja dilontarkan Silvi."Lha kok diem aja! Katanya yang kalah harus nurut perintah!" ledek Silvi, bersandar santai di tepi ranjang dengan dagu terangkat dan sudut bibir yang tak bisa menyembunyikan senyum jahilnya."Nyanyi? Saya nggak bisa nyanyi, Bu..." Tarjo meringis, suaranya hampir seperti rengekan."Asal nyanyi saja! Lagu sebisamu... Balonku ada lima atau apa lah...""Astaga..." Tarjo menunduk, mengusap wajahnya dengan telapak tangan. Telinganya sudah semerah kepiting rebus."Hahaha! Ayo buruan!" Silvi bertepuk tangan kecil, jelas menikmati kekacauan di wajah pemuda itu. Bahunya berguncang dan matanya berkilat geli.Tarjo menarik napas panjang, menghembuskannya pelan, lalu berdiri. Tangannya meraih ujung kaosnya, ragu sejenak, kemudian ia tarik lepas lewat kepala. Kaos itu ia lipat asal dan ia taruh di kursi.Tawa Silvi mendadak mereda.Di bawah cahaya lampu kamar yang temaram, tubuh Tarjo terlihat jela

  • Mas! Jangan Lupa Jatahku Ya!   Di Hotel

    Tarjo akhirnya sampai di depan Hotel Mawar, sebuah bangunan dua lantai dengan cat krem yang mulai pudar, dan papan nama berwarna merah muda berkelap-kelip di bagian depan. Ia memarkir motornya di area yang disediakan, lalu melangkah masuk ke lobi dengan langkah ragu-ragu, sambil matanya menyapu sekeliling ruangan yang asing baginya; lantai keramik mengkilap, sofa empuk di sudut ruang tunggu, dan meja resepsionis dengan lampu kuning temaram di atasnya."Selamat malam, ada yang bisa dibantu?" sapa seorang petugas resepsionis berseragam rapi, tersenyum ramah melihat Tarjo yang tampak kebingungan berdiri di tengah lobi."E, saya... ada janji sama seseorang di kamar 5C," jawab Tarjo, suaranya sedikit gugup.Petugas itu mengangguk, lalu dengan sopan mengantar Tarjo menuju lorong di lantai dua, berhenti tepat di depan pintu bernomor 5C sebelum akhirnya berlalu meninggalkan Tarjo sendirian di depan pintu itu.Tarjo menarik napas dalam-dalam, mengetuk pintu dengan tangan yang masih sedikit gem

  • Mas! Jangan Lupa Jatahku Ya!   Silvi Mau

    Tuuutt...Tuuutt...Tarjo menunggu dengan jantung berdebar kencang, matanya menatap layar ponsel yang masih menampilkan nada sambung tanpa henti. Namun hingga beberapa kali dering berlalu, tak ada satu pun jawaban dari seberang sana.Sesungguhnya, nomor dengan nama "Mas Rendra" yang tersimpan di ponsel Silvi itu bukanlah nomor suaminya. Itu adalah nomor seorang kenalan yang masih memiliki hutang kepadanya, hutang yang sudah berbulan-bulan tak kunjung dibayar. Berkali-kali Silvi mencoba menghubunginya, namun selalu saja tak pernah terangkat; entah sengaja dihindari atau memang orang itu benar-benar sibuk. Maka ketika menyerahkan ponsel itu kepada Tarjo, Silvi sudah cukup yakin panggilan itu pun tak akan pernah terjawab.Sejak awal, itu hanyalah sebuah permainan; cara Silvi menguji seberapa jauh keberanian pemuda di hadapannya ini. Dan ternyata, di luar dugaannya, Tarjo benar-benar nekat menjalankan tantangan itu tanpa ragu sedikit pun. Silvi sendiri tak sepenuhnya paham, apakah pemuda

  • Mas! Jangan Lupa Jatahku Ya!   Mengajak Silvi Ke Hotel

    Tarjo gemetar. Wajahnya yang tadi memerah kini berubah pucat pasi, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Jantungnya berdebar begitu kencang hingga ia bisa mendengar detaknya sendiri, dan telinganya terasa panas membara.Rasa tegang yang luar biasa menjalar ke seluruh tubuhnya setelah mengucapkan kalimat yang menurutnya sendiri terasa seperti kutukan yang baru saja ia lontarkan tanpa bisa ditarik kembali. Jika saja bisa, ia ingin segera menghilang, tenggelam entah ke mana, menjauh dari rasa malu yang begitu menyiksa itu.Silvi terdiam, matanya membelalak tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Keduanya larut dalam keheningan yang terasa begitu panjang, seolah waktu di warung bakso itu berhenti berputar sejenak, hanya menyisakan suara riuh pengunjung lain di sekitar mereka yang sama sekali tak menyadari momen canggung yang tengah terjadi di meja itu."Tadi, kamu bilang apa?" tanya Silvi akhirnya, memastikan pendengarannya tak salah tangkap."E, tidak Bu... maafkan aku. Lu

  • Mas! Jangan Lupa Jatahku Ya!   Bertemu Silvi Lagi

    Tarjo tak ingin terburu-buru merespon apa yang telah dilakukan Bondan. Meski baru saja menghadapi sepuluh preman bayaran, hatinya tetap tenang, tak ada secuil pun rasa khawatir atau emosi berlebihan yang menggerogoti pikirannya. Ia memilih melanjutkan aktivitasnya membersihkan kebun yang sempat tertunda, mengayunkan parangnya dengan tenang menebas semak-semak liar hingga sore menjelang.Setelah matahari mulai condong ke barat dan udara terasa lebih sejuk, Tarjo kembali ke rumah, membersihkan tubuhnya yang penuh keringat dan debu kebun. Usai mandi, ia duduk santai di teras kecil depan rumahnya, menyeruput segelas kopi hitam yang baru saja ia seduh, menikmati suasana senja yang tenang sebelum nanti mencari makan malam.Namun ketenangan itu tak berlangsung lama. Bisikan yang sudah akrab itu kembali menyusup ke dalam benaknya, kali ini dengan permintaan yang membuat dadanya langsung terasa berat.“Kau harus mencari tumbal lagi. Tidurilah seorang perempuan. Siapa saja, Sumini, atau wanita

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status