LOGINNasib Tarja berubah 100 persen setelah satu sosok gaib tiba-tiba menumpang di tubuhnya. Kini dia selalu diliputi keberuntungan. Tapi masalahnya, sosok gaib di dalam tubuhnya juga meminta sesuatu dari segala keberhasilan yang ia dapatkan, dan sesuatu itu adalah wanita. Mau tak mau, Tarja harus merayu wanita demi wanita yang telah dipilih oleh sosok gaib di dalam tubuhnya itu.
View More“Ah… Teruskan, Mas! Ini sungguh nikmat!”
Langkah Tarjo mendadak terhenti. Di batas pinggir perkebunan tebu sore itu, pandangannya terkunci pada siluet dua orang di bawah rimbunnya pohon beringin tua. Di atas lincak bambu, seorang gadis tengah duduk menyamping di pangkuan seorang pemuda.
“Gimana? Lebih mantap sentuhanku, kan, ketimbang pacar gembelmu itu?” Suara parau si pemuda terdengar meremehkan, disusul suara decakan dan napas yang berat.
“Ah... jangan sebut laki-laki miskin itu di depanku sekarang, Mas. Merusak suasana saja,” rajuk si gadis. “Puaskan aku, Mas… ah….”
Darah di tubuh Tarjo seketika membeku. Telinganya tidak mungkin salah mengenali suara itu.
Gadis yang memejamkan mata dengan pakaian atas setengah melorot itu adalah Dian, kekasihnya. Sosok yang justru sengaja Tarjo temui sore ini untuk pelipur lara setelah ibunya meninggal lima hari yang lalu.
Sementara pemuda yang tengah memangkunya, yang kini leluasa meraba dan meremas dada Dian, adalah Bondan, anak kandung Pak Budi, sang juragan pemilik kebun tebu di sekitar tempat itu.
Dada Tarjo terasa seperti dihantam palu. Selama dua tahun merajut kasih, ia begitu menjaga kesucian Dian. Jangankan menyentuh bagian sensitif, mencium bibir gadis itu pun Tarjo tidak berani.
Menemukan satu-satunya harapan hidupnya justru pasrah menikmati sentuhan vulgar pria lain, apalagi sambil merendahkan dirinya sedemikian rupa, membuat hati Tarjo hancur lebur. Duka di dadanya seketika mengeras menjadi dendam yang pekat.
Dengan napas memburu dan kepalan tangan yang gemetar hebat menahan amarah, Tarjo melangkah mendekat dari balik bayangan pohon.
“DIAN…”
Suara parau Tarjo mengejutkan keduanya. Dian buru-buru membenarkan letak bajunya yang berantakan, sementara Bondan bangkit berdiri dengan senyum meremehkan yang tersungging di bibir.
Alih-alih merasa bersalah atau ketakutan karena tertangkap basah, wajah Dian justru berubah menjadi dingin dan sinis.
"Ngapain kamu ke sini, Ja?" tanya Dian ketus, tanpa ada beban di matanya.
"Kamu... kenapa kamu tega lakuin ini sama aku, Dian?" Tarjo menunjuk Bondan dengan telunjuk yang bergetar. "Ibuku belum ada seminggu meninggal, dan kamu malah berbuat mesum sama laki-laki lain?"
Dian mendengus remeh sambil melipat kedua tangan di dada. "Gak usah bawa-bawa orang mati, Ja. Asal kamu tahu, aku sudah capek hidup susah sama kamu. Masa depanmu itu suram! Kamu cuma lulusan SMA dan kerjaanmu cuma buruh serabutan. Sedangkan Mas Bondan bisa kasih aku apa saja. Jadi, mending kita putus. Sadar diri dong, kamu itu miskin!"
Kata-kata Dian yang teramat tajam itu membuat Tarjo tertegun. Belum sempat ia mencerna rasa sakit hatinya, Bondan tiba-tiba melangkah maju dan langsung mencengkeram kerah kaos Tarjo.
Bugh!
Satu pukulan keras mendarat telak di rahang Tarjo, membuatnya terhuyung ke belakang. Sebelum Tarjo sempat menyeimbangkan tubuhnya, Bondan kembali menerjang dan melayangkan beberapa pukulan beruntun ke arah wajah.
Tarjo jatuh tersungkur di tanah yang berdebu. Sudut bibirnya pecah mengeluarkan darah, sementara area di sekitar matanya mulai membiru dan membengkak. Bondan masih memukulinya. Tarjo mengerang kesakitan, namun ia sama sekali tidak berani membalas. Secara fisik, postur tubuh Bondan jauh lebih besar dan kekar. Secara posisi sosial pun, Bondan adalah anak penguasa desa. Melawan Bondan hanya akan membuat hidup Tarjo yang sudah hancur menjadi jauh lebih menderita.
"Sana pulang, mengotori pemandangan saja!" usir Bondan seraya meludah ke tanah, tepat di depan wajah Tarjo yang lebam. Dian yang berdiri di belakang Bondan hanya memalingkan muka, mengacuhkan mantan kekasihnya yang tak berdaya.
Dengan tubuh yang didera rasa ngilu di setiap jengkalnya, Tarjo berjalan gontai kembali ke rumah. Begitu melangkah masuk ke dalam ruangan yang sepi dan remang-remang, ia langsung merosot dan terduduk di lantai tanah.
Ia merenungi nasibnya yang begitu malang. Di usia yang baru menginjak dua puluh tahun, ia sudah kehilangan kedua orang tuanya. Ayahnya meninggal beberapa tahun lalu akibat kecelakaan tragis yang membutuhkan biaya perawatan sangat besar di rumah sakit.
Sementara ibunya, meninggal lima hari yang lalu karena terlambat mendapat pertolongan setelah digigit ular weling saat pulang dari sawah. Kini, di tengah rasa kehilangan yang mendalam, ia justru dikhianati dan dianiaya.
Namun, penderitaan Tarjo rupanya belum selesai. Saat ia sedang meratapi nasibnya di dalam kesunyian, pintu rumahnya tiba-tiba digedor dengan sangat keras dari luar.
Tok! Tok! Tok!
Tarjo mengusap sisa darah di bibirnya, lalu bangkit dengan sisa-sisa tenaga untuk membuka pintu.
Di ambang pintu, berdiri Pak Budi. Pria paruh baya itu mengenakan pakaian rapi dengan beberapa cincin bermata batu akik besar di jarinya. Wajahnya tampak ketus dengan wibawa galak dan tegas, memancarkan aura angkuh khas orang kaya di desa.
"Pak Budi... ada apa, Pak?" tanya Tarjo, berusaha tetap sopan meski wajahnya saat ini tampak babak belur akibat perbuatan anak pria paruh baya tersebut.
Tanpa basa-basi atau menanyakan kondisi wajah Tarjo, Pak Budi langsung mengeluarkan beberapa lembar kertas kusam dari dalam tas kulitnya. Ia menyodorkan kertas-kertas itu tepat di depan dada Tarjo.
"Aku ke sini untuk menagih hutang mendiang ibumu," ujar Pak Budi tanpa basa-basi.
Tarjo menerima kertas tersebut dengan kening berkerut. Matanya membaca baris demi baris tulisan di sana. Itu adalah surat perjanjian hutang-piutang lama, lengkap dengan tanda tangan ibunya di atas materai serta tanda tangan Pak Lurah sebagai saksi hukum yang sah.
"Ini... hutang apa ya, Pak? Saya benar-benar tidak tahu," tanya Tarjo dengan suara bergetar.
"Itu hutang saat ayahmu kecelakaan dulu! Ibumu meminjam uang kepadaku untuk biaya rumah sakit kota sebesar seratus juta rupiah. Sampai ibumu mati beberapa hari lalu, uang itu belum pernah dicicil sepeser pun!" bentak Pak Budi, suaranya menggelegar di keheningan petang.
Angka seratus juta rupiah seketika membuat kepala Tarjo terasa pening. Bagi seorang buruh serabutan sepertinya, uang sebesar itu adalah angka yang mustahil untuk didapatkan dalam waktu dekat.
"Tapi, Pak... Ibu saya baru saja meninggal. Saya belum memegang uang sama sekali. Tolong beri saya kelonggaran waktu," mohon Tarjo dengan tatapan memelas.
Pak Budi mendengus, menatap Tarjo dengan pandangan merendahkan dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Aku tidak peduli dengan ibumu yang sudah mati itu. Bisnis tetap bisnis. Sebagai tetangga, aku masih punya hati, jadi aku beri kamu waktu tiga hari dari sekarang."
Pak Budi melangkah maju satu tapak, lalu menunjuk wajah Tarjo dengan jari telunjuknya. "Tiga hari lagi, lunasi hutang seratus juta itu. Jika kamu tidak bisa membayar, angkat kaki dari sini! Rumah dan tanah peninggalan orang tuamu ini akan kusita sebagai gantinya!"
Setelah melontarkan ancaman tersebut, Pak Budi berbalik dan berjalan pergi meninggalkan pekarangan rumah Tarjo tanpa memedulikan nasib pemuda itu lagi.
Tarjo perlahan menutup pintu kayu rumahnya. Ia menyandarkan punggung pada daun pintu, lalu merosot hingga terduduk di atas lantai tanah yang dingin. Air matanya yang sejak tadi ditahan, akhirnya tumpah tanpa suara di dalam kegelapan.
Dalam waktu tiga hari, ia terancam kehilangan satu-satunya tempat bernaung yang ia miliki di dunia ini.
Pagi itu, setelah sarapan dan berkemas seadanya, mereka berdua akhirnya berangkat. Erna sudah mengenakan celana jeans dan jaket yang dibelikan Tarjo semalam, sepatu ketsnya terpasang rapi, helm baru terpasang menutupi kepalanya yang biasanya selalu tertata rapi di salon-salon mahal. Penampilannya kini jauh berbeda dari sosok pengusaha berkelas yang biasa mengenakan baju branded dan sepatu hak tinggi, namun justru dalam kesederhanaan itu, ada kenyamanan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.Motor melaju membelah jalanan pagi yang masih sepi, menembus persawahan hijau yang perlahan berganti menjadi jalan raya yang lebih ramai seiring mereka mendekati batas kota. Angin pagi yang menerpa wajah Erna terasa segar, sesuatu yang jarang ia rasakan karena biasanya selalu berada di dalam mobil ber-AC dengan kaca tertutup rapat.Setelah kurang lebih satu setengah jam perjalanan, Tarjo mulai memperhatikan Erna yang sesekali menggeser posisi duduknya, tampak sedikit tak nyaman dengan jok motor yan
Tarjo menyuguhkan segelas teh hangat yang masih mengepul tipis, meletakkannya di meja kecil dekat kursi tempat Erna duduk, lalu ia sendiri duduk di kursi seberang, menjaga jarak sopan."Nama saya Tarjo... saya, tinggal sendirian di sini. Kedua orang tua saya sudah meninggal. Saya... buruh serabutan..." Tarjo memperkenalkan diri dengan nada sederhana, tak ada yang ditutup-tutupi dari kondisinya yang sebenarnya.Wanita itu menyesap tehnya perlahan, tangannya masih sedikit gemetar memegang gelas, namun kehangatan minuman itu tampak membantu menenangkan sarafnya yang masih tegang. "Nama saya Erna, Mas... terimakasih banyak sudah... menyelamatkan saya..."Ada jeda sejenak, Erna menatap ke bawah, ke arah uap tipis yang mengepul dari gelasnya, sebelum akhirnya mulai bercerita. Suaranya masih sedikit bergetar mengenang kejadian yang baru saja ia alami."Saya ini janda, Mas. Suami saya meninggal tiga tahun lalu, kecelakaan pesawat. Sekarang saya yang pegang beberapa perusahaan peninggalan beli
Tarjo segera berjongkok di dekat wanita itu. Kedua tangannya dengan cekatan melepas simpul tali yang mengikat kedua tangan wanita itu di belakang punggung. Setelah tangan bebas, ia beralih ke ikatan kaki, lalu terakhir melepas kain yang menyumpal mulutnya dengan hati-hati agar tak melukai.Wanita berumur sekitar 40-an tahun itu langsung terbatuk-batuk begitu sumpalan kain terlepas, dadanya naik-turun menghirup udara malam dengan rakus. Wajahnya masih pucat, matanya sembab dan berkaca-kaca, namun ada kelegaan yang tampak jelas di sana, bercampur dengan sisa-sisa ketakutan yang belum sepenuhnya reda.Dari balutan baju mahal yang tampak kusut dan sedikit robek di beberapa bagian, dari perhiasan emas yang masih melingkar di jari dan pergelangan tangannya, juga dari potongan rambut yang rapi khas salon mahal, Tarjo bisa menebak; wanita itu bukan orang sembarangan, jelas dari kalangan berada."Tenang... saya tidak punya niat jahat..." kata Tarjo, sedikit bingung harus berkata apa lagi untuk
Malam itu juga, tanpa menunda waktu, Tarjo segera bangkit dari ranjangnya. Ia mengenakan celana panjang dan jaketnya, lalu bergegas mengeluarkan motornya dari dalam rumah. Tarjo menyalakannya dan segera melaju menuju ke jembatan itu.Udara malam terasa dingin menusuk kulit ketika ia melajukan motornya menembus kegelapan jalan desa yang sepi, menuju arah jalan provinsi yang memisahkan wilayah kecamatannya dengan kecamatan sebelah. Hanya sekitar sepuluh menit berkendara, Tarjo sudah sampai di kawasan Jembatan Merah; jembatan besar yang membentang di atas sungai lebar, dinamai demikian karena warna catnya yang memang merah menyala, meski kini sudah mulai pudar dan berkarat di beberapa bagian.Tarjo memilih berhenti di area sepi sebelum naik ke jembatan, menepikan motornya ke sisi jalan, lalu menuntunnya turun dari aspal menuju rerumputan di bawah sebatang pohon besar yang rindang, cukup gelap untuk menyembunyikan keberadaannya dari siapa pun yang melintas.Ia mematikan mesin motor, lalu






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.