เข้าสู่ระบบSambil menahan debar dada yang tak karuan, Tarjo buru-buru memasukkan belasan ikan gurame dan gabus raksasa itu ke dalam karung yang ia bawa. Ukuran ikan-ikan yang gemuk membuat karung itu terisi penuh hingga menggembung padat.
Tarjo berjongkok, bersiap memanggul beban tersebut. Secara logika, satu karung penuh berisi ikan-ikan besar yang basah seperti ini bobotnya bisa mencapai lima puluh hingga delapan puluh kilogram; beban yang biasanya akan membuat pundak kurus Tarjo menjerit kesakitan dan napasnya ngos-ngosan.
Namun, begitu Tarjo menegakkan kaki dan mengangkat karung itu ke atas bahunya, sepasang matanya berkedip heran.
Karung itu terasa biasa saja. Berat, tapi tak membuat ia keberatan dalam artian ia masih bisa mengangkat yang jauh lebih berat dari bobot itu. Sebenarnya Tarjo heran dan bertanya-tanya di awal. Namun kemudian pikirannya teralihkan oleh rasa senang, tegang dan antusias. Fokus utamanya sekarang adalah mengubah ikan-ikan ini menjadi uang tunai.
Dengan langkah cepat dan tegap, Tarjo membawa panggulannya pulang ke rumah. Ia segera mengeluarkan satu-satunya kendaraan yang ia miliki: sebuah sepeda ontel butut yang catnya sudah mengelupas dan rantainya sering kendur. Setelah mengikat karung itu kuat-kuat di dudukan besi bagian belakang sepeda dengan tali karet, Tarjo segera menaikinya.
Pagi itu, Tarjo mengayuh sepedanya menuju pasar kecamatan dengan semangat yang berkobar-kobar. Anehnya lagi, jalur menanjak menuju pasar yang biasanya membuat paha Tarjo pegal-pegal, kini terasa datar saja. Sepeda butut itu meluncur cepat di bawah kayuhan kakinya yang mendadak menjadi sangat bertenaga.
Sesampainya di pasar kecamatan, suasana sudah sangat ramai dan bising. Bau khas perpaduan sayur segar, bumbu giling, dan daging mentah langsung menyengat hidung. Tarjo menuntun sepedanya masuk ke area parkir samping, lalu menurunkan karung ikannya.
Saat ia baru saja memanggul karung itu dan hendak melangkah menuju los khusus penjual ikan di bagian dalam pasar, sebuah suara perempuan yang merdu menghentikan langkahnya.
"Mas, permisi. Itu bawa apa ya di dalam karung?"
Tarjo menoleh. Di hadapannya kini berdiri seorang wanita berusia akhir dua puluhan. Wanita itu berpenampilan sangat rapi, mengenakan blus semiformal yang modis, dan wajahnya dipoles riasan tipis yang elegan. Wangi parfum mahal yang menguar dari tubuh wanita itu seketika membuat Tarjo merasa minder dengan kaus loaknya yang bau keringat.
"Eh... ini, Mbak. Saya bawa ikan liar hasil menjala tadi pagi. Mau saya jual ke tengkulak di dalam," jawab Tarjo agak gugup, sambil menurunkan karung goni itu ke lantai semen.
"Ikan apa? Boleh saya lihat?" tanya wanita itu penasaran.
Tarjo mengangguk, lalu membuka ikatan tali karungnya. Begitu mulut karung terbuka lebar, wanita itu terbelalak takjub. Di dalam karung, ikan-ikan gurame dan gabus itu masih sangat segar, beberapa bahkan masih menggelepar, memperlihatkan sisik mereka yang berkilau sehat di bawah cahaya matahari.
"Luar biasa... besar-besar banget ini, Mas! Segar lagi," ucap wanita itu dengan mata berbinar-binar. "Kebetulan sekali, saya Widya, pemilik restoran seafood di jalan utama kabupaten. Saya sedang cari pasokan gurame ukuran jumbo seperti ini untuk pesanan khusus. Dari tadi saya keliling tapi gak ada yang sebagus ini. Mas, gimana kalau semua ikan ini dijual ke saya saja?"
Jantung Tarjo berdegup kencang. "Dijual ke Mbak? B-boleh saja. Mbak berani bayar berapa?"
Wanita bernama Widya itu tampak menimbang-nimbang sejenak, memperkirakan jumlah ikan di dalam karung dengan jarinya. "Melihat ukuran dan kesegarannya... saya borong semuanya delapan ratus ribu rupiah. Bagaimana, Mas? Cocok?"
Delapan ratus ribu rupiah!
Angka itu membuat kuping Tarjo mendenging. Bagi seorang buruh serabutan yang biasanya hanya mendapat upah lima puluh ribu sehari, itu pun kalau ada kerjaan, uang delapan ratus ribu dalam sekali menjala adalah sebuah rezeki nomplok yang luar biasa besar.
"Iya, Mbak! Cocok, saya setuju!" jawab Tarjo dengan nada suara yang tak bisa menyembunyikan kegembiraannya.
Widya tersenyum manis melihat kepolosan Tarjo. Ia segera membuka tas kulitnya, mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan yang masih kaku dan menyerahkannya kepada Tarjo. Saat jemari mereka berpapasan ketika serah terima uang, Widya sempat tertegun sejenak. Ia merasakan sebuah getaran hangat yang aneh dari kulit Tarjo, seolah ada daya pikat magis yang membuat tatapan matanya mendadak terkunci pada wajah lebam pemuda itu.
Namun, Widya buru-buru menguasai diri dan tersenyum ramah. "Ini uangnya ya, Mas. Pas delapan ratus ribu. Terima kasih banyak, ya. Kamu benar-benar penyelamat restoran saya pagi ini."
Tarjo menerima uang itu dengan tangan bergetar, memandangi lembaran merah di genggamannya dengan perasaan tidak percaya. Akhirnya, ada titik terang dalam hidupnya yang selama ini terasa gelap.
"Mas, kalau tidak keberatan, bisa tolong sekalian angkatkan karung ini ke mobil pick-up saya? Ada di parkiran depan," pinta Widya sambil menunjuk ke arah luar pasar.
"Oh, iya, Mbak. Bisa, bisa," jawab Tarjo cekatan.
Ia kembali memanggul karung itu dan berjalan mengekor di belakang Widya, menyusuri koridor pasar yang becek hingga sampai di area parkir luar. Sebuah mobil pick-up carteran berwarna hitam sudah menunggu di sana. Setelah Tarjo meletakkan karung ikan dengan hati-hati di bak belakang, Widya merogoh tas kulitnya sekali lagi.
Kali ini, wanita itu mengeluarkan selembar kartu kecil berwarna putih gading dengan tekstur premium.
"Ini kartu nama saya, Mas. Di situ ada alamat restoran dan nomor telepon saya. Kalau besok-besok Mas dapat ikan jumbo atau tangkapan segar lagi, langsung hubungi saya atau datang saja ke restoran. Saya siap menampung dengan harga tinggi," ujar Widya dengan senyum manis yang menawan.
Tarjo menerima kartu nama itu dengan canggung. "I-iya, Mbak. Terima kasih."
Namun, begitu Widya berpamitan dan mobilnya perlahan melaju membelah jalanan, Tarjo hanya bisa memandangi kartu nama di tangannya sambil tersenyum kecut. Nomor handphone? batinnya miris. Jangankan ponsel pintar seperti milik orang-orang, ponsel jadul berlayar monokrom yang hanya bisa untuk SMS saja Tarjo tidak punya. Jangankan beli ponsel, untuk makan sehari-hari saja ia harus memeras keringat sampai habis.
"Tapi tidak apa-apa," bisik Tarjo menenangkan diri sendiri. Ia menyelipkan kartu nama itu ke dalam saku celana loaknya bersama gulungan uang delapan ratus ribu tadi. Setidaknya, ia tahu lokasi restoran seafood milik Widya yang berada di pinggir jalan utama kabupaten; sebuah bangunan megah yang sering ia lihat dari kejauhan saat menumpang truk pasir.
Tarjo memutar tumitnya, berjalan kembali menuju area parkir samping tempat sepeda ontel bututnya dititipkan. Pikirannya masih melayang, membayangkan bagaimana reaksi Pak Budi jika ia mencicil utangnya dengan uang ini, atau apakah ia harus membeli beras dan sedikit lauk enak untuk dirinya sendiri nanti malam.
Namun, baru beberapa langkah sebelum mencapai sepedanya, pandangan Tarjo mendadak tertuju pada sebuah benda persegi panjang yang tergeletak di atas tanah, tepat di sebelah roda sebuah motor yang terparkir.
Sebuah dompet kulit berwarna cokelat tua.
Tarjo celingukan, memastikan tidak ada orang yang memperhatikan. Dengan cepat, ia membungkuk dan memungut dompet tebal itu. Ketika ia membukanya sedikit, jantung Tarjo rasanya mau copot. Di dalamnya terselip seikat tebal uang pecahan seratus ribu dan lima puluh ribu rupiah. Jumlahnya pasti jutaan.
Deg!
Secercah godaan gelap seketika menyergap dada Tarjo.
‘Ambil saja, Tarjo...’ seolah ada bisikan halus yang menggodanya. ‘Uang itu bisa langsung melunasi sebagian besar utangmu pada Pak Budi. Kamu tidak perlu lagi dikejar-kejar hutang terus-terusan!’
Tarjo naik dari kolam dengan langkah ringan. Air mengalir dari tubuhnya, tapi anehnya ia tidak kedinginan. Di batu tepi kolam, pakaiannya terlipat rapi, kini kering dan beraroma melati. Ia mengenakannya satu per satu, kaus, celana, jaket. Semuanya terasa lebih sempit di bahu dan dada, tapi masih muat.Nyai Candrakirana mengamatinya dengan senyum puas. “Tubuh yang baru. Kekuatan tingkat pertama sudah menyatu denganmu. Jangan sombong, jangan sembarangan memakainya, dan kau akan mengerti sisanya seiring waktu.”“Terima kasih, Nyai,” ucap Tarjo, menunduk dalam.“Sekarang, pendamping barumu.” Nyai Candrakirana mengangkat satu tangannya, “Namanya adalah Seruni.”Udara di sisi kanan kolam bergetar, dan dari antara akar-akar beringin muncul sesosok wanita. Ia melangkah tanpa suara, kakinya seolah tak menyentuh tanah. Wajahnya cantik bersahaja, berkulit sawo matang bersih dengan mata teduh dan alis tebal alami. Rambutnya digelung rapi dengan tusuk konde perak, dan ia mengenakan kebaya berwarna
Wanita itu terlihat sangat cantik. Sungguh cantik sampai Tarjo sejenak lupa bernafas saat menatapnya.Kulitnya seputih gading dengan semburat keemasan, rambutnya hitam panjang tersanggul tinggi dengan hiasan bunga dan sebuah mahkota emas bertatahkan permata merah. Ia mengenakan kemben merah tua, kain jarik bermotif indah yang menjuntai hingga mata kaki, serta selendang tipis berwarna kuning gading yang melayang pelan meski tak ada angin. Seluruh tubuhnya tampak berpendar lembut, seperti diterangi cahaya dari dalam.Tarjo tahu, sosok cantik itu bukanlah manusia. Ia spontan hendak berdiri, tapi tubuhnya terasa kaku.“Selamat datang, Tarjo,” ucap wanita itu. Suaranya merdu dan dalam, bergema seolah berbicara dari banyak tempat sekaligus. “Terima kasih telah datang kemari dan mengembalikan salah satu pusaka milik kami. Aku Nyai Candrakirana, penguasa tempat ini. Dan sosok lelembut yang selama ini mendampingimu, dan juga membimbingmu kemari adalah muridku.”Bulu kuduk Tarjo meremang dari t
Tiga kali Tarjo salah belok.Jalan menuju timur ternyata tidak sesederhana garis biru di layar ponselnya. Sinyal sempat hilang di tengah hutan jati, dan di satu persimpangan sepi ia terpaksa berhenti menanyai seorang bapak penjual rumput yang sedang memikul dua ikat besar di pundaknya. Di desa berikutnya ia bertanya lagi kepada penjaga pom bensin mini, lalu kepada seorang ibu yang sedang menjemur gabah.Menjelang pukul sebelas, setelah empat jam perjalanan dan pantat yang mulai pegal, jalan beraspal itu menyempit lalu menanjak. Kabut tipis menggantung di antara pohon pinus, dan kepala Gunung Jatiwangi semakin terlihat jelas, gelap kehijauan dan menjulang seperti penjaga tua.Tarjo tiba di sebuah desa terakhir yang menjadi arah tujuannya. Di sana ia melihat rumah-rumah berdinding papan dengan kebun sayur di sisi jalan. Di ujung desa, tepat di mana jalan aspal berakhir dan berganti jalan setapak berbatu yang menanjak ke dalam rimbun pohon, berdiri sebuah warung berdinding anyaman bambu.
Jalan setapak menuju rumah Mbah Wiro gelap dan sepi. Joko berjalan terpincang sambil menekan perutnya, sementara Bimo memapah lengannya sendiri yang masih lemas. Di depan mereka Mbah Wiro melangkah dengan tongkat yang diketukkan lebih keras dari biasanya, seperti ingin menghukum tanah.Lama tak ada yang bicara. Akhirnya Bimo yang memecah sunyi dengan suara serak.“Mbah... bukan sekadar jago berkelahi dia itu. Tadi saya pukul, rasanya seperti memukul batu. Waktu saya ayunkan kayu, saya lihat sendiri, lengannya tidak bergerak, tidak terluka.”“Saya juga merasakan,” timpal Joko sambil meringis. “Ada yang aneh, Mbah. Waktu dia tatap kami, bulu kuduk saya berdiri. Seperti ada yang lain berdiri di belakangnya.”Mbah Wiro berhenti melangkah. Ia menoleh, wajahnya separuh tertutup bayang-bayang. “Kalian merasakannya juga?”Keduanya mengangguk.“Perewangan,” desis Mbah Wiro. “Dia punya khodam, atau makhluk pendamping yang sangat tua. Waktu Sulastri kemasukan, makhluk di tubuh gadis itu lari ket
Tarjo sesungguhnya tak mau berkelahi, tak mau masalah itu bertambah panjang. Masalahnya, ia harus menahan keris itu. Dan tiga orang yang datang itu jelas tak akan pulang sebelum mendapatkan jawaban pasti; keberhasilan, atau kegagalan.Joko maju lebih dulu, tangan kanannya melayang lurus ke wajah Tarjo. Di mata Tarjo, serangan itu tampak lambat. Dan entah kenapa, dalam benaknya, ia bisa mengetahui arah serangan dan bagaimana ia menghindar.WUZZZZTarjo hanya memiringkan kepala. Kepalan itu lewat sejengkal dari telinganya, dan angin pukulannya mengibaskan rambutnya. Sebelum Joko menarik tangannya, Tarjo sudah bergeser setengah langkah ke samping.Di saat yang sama, Bimo mengerahkan tendangannya menyapu rendah ke arah lutut. Tarjo mengangkat kakinya sedikit, membiarkan tendangan itu lewat di bawah telapaknya, lalu menapak lagi seolah baru melangkahi genangan air.“MATI KAAUUU!!!”Joko kembali menyerang dengan rangkaian pukulan cepat, kiri-kanan-kiri. Gerakannya rapi, jelas hasil latihan
Semua perhatian kini tertuju ke arah Tarjo dan dukun tua itu.Sebetulnya, Tarjo tidak ingin persoalan itu berlanjut. Ia sudah menolong Sulastri, dan itu cukup. Yang ia inginkan sekarang hanya keluar dari rumah ini, membeli sabun yang tadi ia cari, lalu pulang.Tapi di dalam benaknya, roh itu bersuara. ‘Ambil kerisnya!’Tarjo memejamkan mata sekejap. ‘Tidak bisakah kita biarkan saja?’ batinnya.‘Ambil!’ Roh itu memaksa. Tak ada tawar menawar.Ia menghela napas. Dengan berat hati, ia menoleh pada si dukun yang masih duduk kaku dengan keris di pangkuan.“Mbah,” ucapnya pelan, hampir seperti meminta maaf, “saya tidak bermaksud memaksa. Tapi tadi kita sudah sepakat, dan banyak yang mendengar.”Dukun itu tak langsung menjawab. Rahangnya mengeras, jari-jarinya mencengkeram sarung kayu jati itu kuat-kuat. Dalam kepalanya ia sedang mencari celah: pura-pura lupa, bilang tadi hanya gertakan, atau menuduh Tarjo menggunakan ilmu hitam. Tapi puluhan pasang mata menatapnya. Ibu-ibu yang tadi berbisi







