Suara tembakan semakin mendekat ke ruang aman, dentingannya memantul di setiap sudut dinding beton tebal seolah membawa getaran yang merembes hingga ke tulang. Liora memeluk ibunya erat sekali, jari-jarinya meremas kain gaun ibunya hingga kusut, tubuh mereka bergetar serempak setiap kali ledakan mengguncang pondasi mansion tua itu. Udara di dalam ruangan sempit itu terasa berat, bau debu dan keringat dingin menyelimuti mereka, diselingi detak jantung yang terdengar begitu nyaring di telinga masing-masing. Sinta membelai rambut putrinya perlahan, berusaha menyembunyikan gemetar di tangannya sendiri sambil menatap pintu besi yang mulai berkarat itu seolah ia bisa melindungi mereka hanya dengan pandangan saja. “Tenang, anakku,” bisik Sinta, suaranya pelan namun tegas, berusaha meyakinkan dirinya sendiri lebih dari pada meyakinkan Liora. “Kita akan selamat.” Liora mengangguk lemah di bahu ibunya, tapi air matanya terus jatuh tanpa henti, membasahi kain bahu Sinta yang sudah kusut. Di te
Huling Na-update : 2026-07-26 Magbasa pa