Empat hari setelah pindah ke ruang perawatan biasa, Rafe sudah diperbolehkan berjalan dengan bantuan tongkat. Luka di tubuhnya masih terasa perih, tapi ia menolak untuk menunggu lebih lama. Dokter sempat melarang, namun Rafe hanya menjawab singkat, “Kalau aku menunggu, wanita itu bisa menghilang.” Liora membantu Rafe memakai jaket hitamnya di depan cermin. Tangannya bergerak hati-hati saat melewati perban di bahu pria itu. “Kau keras kepala,” gumam Liora. Rafe menatap bayangan mereka di cermin. “Kau juga. Karena itu kau masih di sini.” Liora tidak membantah. Ia hanya mengencangkan resleting jaket Rafe, lalu menatap matanya melalui cermin. “Kalau Clara benar-benar orang yang mengatur semuanya dari awal, aku ingin mendengar sendiri alasannya.” Rafe mengangguk. “Kau akan mendengarnya. Tapi tetap di belakangku.” Siang itu, konvoi mobil hitam meninggalkan rumah sakit menuju pegunungan utara. Perjalanan memakan waktu hampir tiga jam. Semakin jauh dari kota, udara semakin dingin dan j
Huling Na-update : 2026-08-06 Magbasa pa