LOGIN"Mulai malam ini, kau milikku. Tubuh, jiwa, dan napasmu.” Rafael Valentino tidak pernah menginginkan sesuatu tanpa mengambilnya. Ketika Liora Ashanti menyaksikan eksekusi brutal yang dilakukan Rafe, seharusnya gadis itu mati malam itu juga. Namun, Rafe justru menculik Liora dan mengurungnya di istana mewah sang ketua mafia. Di tengah ancaman musuh berdarah dan rahasia keluarganya sendiri, Liora berusaha bertahan dari obsesi Rafe yang semakin gelap dan posesif. Namun, semakin Liora melawan, semakin ia terjerat dalam pelukan pria yang siap menghancurkan dunia demi memilikinya.
View More"Siapa yang berani mengkhianati keluarga Valentino?"
Suara rendah yang penuh otoritas mematikan itu menggema di gang sempit yang basah oleh hujan deras. Lampu neon di ujung jalan berkedip-kedip, memantulkan genangan air yang bercampur oli dan darah. Beberapa menit sebelumnya, Liora Ashanti berlari menyusuri trotoar dengan tas selempangnya yang sudah basah kuyup. Jam tangannya menunjukkan pukul 01.17 dini hari. Shift malam di kafe tadi lebih panjang dari biasanya karena rekan kerjanya bolos. Tubuhnya lelah, pakaiannya basah, dan yang ia inginkan hanyalah pulang ke rumah kecilnya, mandi air hangat, lalu kemudian pergi tidur. Tapi rupanya takdir punya rencana lain. Rasa penasaran yang bodoh sudah membuat dirinya melangkah mendekat ke gang ketika mendengar suara letusan senjata teredam. Ia mengintip dari balik tembok bata yang licin. Dan ia sudah melihatnya. Seorang pria tinggi berpakaian hitam sepenuhnya berdiri di tengah gang. Wajahnya yang tajam dan dingin diterangi cahaya lampu jalan yang redup. Di depannya, dua orang pria berlutut dengan tangan terikat. Darah sudah mengalir deras dari luka tembak di bahu mereka. Salah satu pria yang berlutut gemetar ketakutan. "Tuan Rafe… kami dipaksa..." Dor! Satu tembakan tepat mengenai kepala orang itu. Tubuh itu ambruk tanpa suara ke genangan air. Liora menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya melebar penuh kengerian. Napasnya tersengal-sengal. Ia mundur selangkah, tapi kakinya menginjak botol kosong. Brak! Suara kecil itu bagaikan ledakan yang besar di telinga Rafael Valentino. Kepala Rafe menoleh cepat. Tatapannya langsung bertemu dengan mata hazel Liora yang dipenuhi ketakutan. Waktu seolah berhenti. Liora berbalik dan berlari sekuat tenaga. Hujan turun semakin deras, sepatu ketsnya licin di aspal. Ia mendengar langkah kaki berat di belakangnya yang bergerak dengan tenang, tapi cepat. Seperti predator yang yakin mangsanya tidak akan lolos. Tangan besar dan kuat menangkap lengannya dari belakang. Liora ditarik keras hingga punggungnya membentur dada bidang yang keras seperti batu. "Siapa yang menyuruhmu mengintip?" bisik suara dingin itu di telinganya. Dingin. Mematikan. Namun ada nada aneh yang Liora tidak mengerti lebih seperti ketertarikan. Liora berusaha memberontak dengan putus asa. "Lepaskan saya! Saya tidak melihat apa-apa! Saya janji!" Rafael memutar tubuh gadis itu dengan mudah, menekannya ke dinding gang yang basah. Cahaya neon menyinari wajah Liora. Rafe membeku sesaat. Gadis ini… terlalu cantik untuk berada di tempat seperti ini. Mata hazel yang jernih meski ketakutan. Bibir pucat yang gemetar. Rambut hitam basah menempel di pipinya. Aroma sabun murah bercampur hujan membuat Rafe ingin mendekatkan wajahnya. "Kau melihat terlalu banyak, merpati kecil," gumam Rafe sambil mengangkat dagu Liora dengan ibu jarinya. "Biasanya orang yang melihat wajahku akan mati malam ini juga." Liora menatap mata hitam pekat di depannya. Seperti jurang tanpa dasar. Tenggorokannya tercekat, tangannya gemetar hebat di sisi tubuh. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia benar-benar merasakan apa itu berada di hadapan seorang predator. Pria ini tidak perlu berteriak. Keheningannya saja sudah mencekik. Rafael mengamati setiap detail di wajah gadis itu. Rasa ketakutan yang nyata, napas yang memburu, bulu mata yang bergetar menahan tangis. Alih-alih iba, yang muncul justru dorongan kuat untuk memiliki. Untuk mengurung. Untuk menjadikannya miliknya seorang. Ia mengusap pipi Liora dengan punggung jarinya, sentuhan ringan yang justru membuat gadis itu semakin membeku. "Jangan mengalihkan pandangan saat aku sedang melihatmu," ucap Rafe lirih namun penuh tekanan. "Aku tidak suka diabaikan." Liora menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. "T-tolong… Saya hanya orang biasa. Saya tidak mengenal Anda. Saya tidak ingin terlibat dalam ini semua." Rafael mengamati wajahnya beberapa detik yang terasa seperti selamanya. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang berbahaya. Ulasan senyum seorang pria yang baru saja menemukan sesuatu yang sangat berharga. Ia mengeluarkan ponsel dari saku jasnya yang basah. "Matteo. Siapkan mobil. Ada barang berharga yang perlu kubawa pulang." Liora mulai panik. "Tidak! Tolong! Saya tidak akan bilang apa-apa pada siapa pun!" Rafael menunduk, bibirnya hampir menyentuh telinga Liora. Napas hangatnya membuat bulu kuduk gadis itu berdiri. "Terlambat, sayang." Senyumnya semakin lebar. "Mulai malam ini… kau milikku."Malam semakin larut saat Rafe dan Liora kembali ke rumah persembunyian. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, keheningan menyelimuti mereka tidak ada suara tembakan di kejauhan, tidak ada panggilan ancaman, tidak ada mobil mencurigakan yang berhenti di depan gerbang. Victor telah ditangkap. Jaringan Il Signore mulai runtuh. Namun di tengah ketenangan itu, Rafe masih membawa satu hal yang belum terselesaikan: sebuah amplop tua milik ayahnya.Ia berdiri sendirian di ruang kerja, amplop itu tergeletak di atas meja. Di bagian depannya, tertulis dengan tinta yang mulai memudar: Untuk Rafael. Dengan napas tertahan, Rafe membuka segelnya. Di dalamnya terdapat beberapa lembar surat dan sebuah foto lama. Ia mulai membaca halaman pertama.“Rafael, jika suatu hari kau membaca surat ini, berarti aku sudah tidak ada. Ada sesuatu yang tidak pernah bisa kukatakan kepadamu bukan karena aku tidak mempercayaimu, tetapi karena aku ingin kau memiliki kesempatan hidup tanpa membawa beban kel
Malam semakin larut saat Rafe dan Liora kembali ke rumah persembunyian. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, keheningan terasa utuh tidak ada suara tembakan dari kejauhan, tidak ada panggilan ancaman yang memecah kesunyian, tidak ada mobil mencurigakan yang berhenti di depan gerbang. Victor telah ditangkap. Jaringan Il Signore yang dulu menguasai bayang-bayang mulai runtuh perlahan. Namun di tengah kemenangan itu, satu hal masih tertinggal, belum terselesaikan, dan hanya miliknya.Di ruang kerja yang remang, Rafe berdiri sendirian. Di atas meja kayu tua itu tergeletak sebuah amplop tua, tepiannya sudah mulai menguning. Di bagian depan, tertulis dengan tinta hitam yang mulai memudar: Untuk Rafael.Ia membuka segelnya perlahan, seakan takut merusak setiap kata yang tertulis di dalamnya. Ada beberapa lembar surat dan sebuah foto lama yang sudah mulai buram. Rafe mulai membaca baris pertama, suaranya hanya berupa bisik yang tertelan keheningan ruangan.“Rafael, jika suatu h
09:47Angka merah di layar terus bergerak turun, detik demi detik menghilang tanpa ampun.Rafe menatap hitungan mundur itu tajam, lalu beralih menoleh ke arah Matteo."Berapa banyak pintu keluar?""Setidaknya tiga, Bos.""Yang mana paling dekat?""Koridor timur.""Semua orang bergerak ke sana sekarang!"Belum sempat mereka melangkah, suara tembakan kembali menggema keras di sepanjang lorong.Dor! Dor!Sisa anak buah Victor yang masih bertahan berusaha sekuat tenaga menghalangi jalan, menembaki siapa pun yang mendekat. Rafe langsung menarik Liora ke belakang tubuhnya, menjadikannya perisai tak terlihat di tengah hujan peluru."Jangan sekali-kali lepaskan tanganku," bisiknya tegas.Liora mengangguk kuat, jari-jarinya mencengkeram lengan Rafe sekuat hati. Namun sebelum mereka sempat bergerak cepat, Ravian berteriak keras dari sisi ruangan, suaranya terdengar mendesak di tengah kebisingan."Bos!"Rafe menoleh sejenak."Victor mengendalikan seluruh sistem keamanan gedung. Semua pintu otom
Malam telah turun saat Rafe dan Liora tiba di Hotel Bellagio. Dari luar, bangunan itu tampak tenang dan elegan. Lampu-lampu keemasan memantul di permukaan kaca yang menjulang tinggi, sementara beberapa kendaraan mewah berhenti beriringan di depan pintu utama. Namun Rafe paham betul ketenangan itu hanyalah topeng yang menutupi bahaya yang mengintai di setiap sudutnya. Di dalam gedung ini, Victor sedang menunggu. Dan mungkin seluruh pasukannya juga sudah bersiap menanti kedatangan mereka. Rafe turun dari mobil lebih dulu. Ia mengenakan jas hitam yang pas di tubuhnya, dengan pistol tersembunyi rapi di balik pinggang. Luka di bahunya memang belum sepenuhnya pulih, namun tidak ada sedikit pun keraguan atau ketakutan yang terbayang di wajahnya. Liora menyusul turun dari mobil. Tanpa menunggu lama, Rafe meraih tangannya dengan genggaman yang kuat namun penuh perhatian. "Jangan pernah jauh dariku," ucapnya dengan nada rendah namun tegas. "Aku tahu," jawab Liora mantap. "Kalau sesuatu ter
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.