Siang itu, aku sedang mengangkat jemuran di balkon.Kenzo menghampiriku dengan senyum penuh niat jahat di wajahnya."Kak, kau benar-benar nggak tahu malu, ya. Semua orang sudah begitu membencimu, tapi kau masih betah tinggal di sini?"Aku mengabaikannya dan bersiap pergi. Namun, dia mencengkeram lenganku erat, lalu berbisik di dekat telingaku bagaikan iblis, "Kak, kau belum tahu, ya? Sebenarnya selama ini Mila nggak pernah melupakan Kakak. Di ponselnya masih tersimpan banyak foto kalian berdua."Hatiku sempat diliputi keterkejutan, tetapi dia melanjutkan, "Aku benar-benar membencimu, Kak. Jadi, lebih baik Kakak mati saja."Tiba-tiba, Kenzo mengerahkan seluruh tenaganya dan menarikku ke arah luar!Namun, dia sendiri kehilangan keseimbangan.Kami berdua terjatuh bersamaan.Tubuhku oleng. Separuh badanku sudah menjulur keluar balkon.Angin dingin menderu. Kakiku menggantung di udara. Sedikit saja bergerak lagi, aku akan terjatuh dan tubuhku akan hancur berkeping-keping.Kenzo panik. Denga
Read more