Share

Bab 2

Author: Lucky Cat
Keesokan harinya, aku menerima gelang pemantau tanda-tanda vital yang dikirim oleh pusat pemakaman.

Mereka memberitahuku bahwa gelang itu akan secara otomatis mengirimkan lokasi dua jam setelah aku meninggal. Setelah itu, akan ada seseorang yang datang untuk mengurus jenazahku.

Bagus sekali.

Pikiranku tiba-tiba kembali pada hari enam tahun yang lalu.

Hari pertunanganku dengan Mila.

Mila berkata akan memberiku sebuah kejutan.

Aku menunggu di tempat acara dengan gugup sekaligus penuh harap.

Ketika matahari mulai terbenam, aku menerima telepon dari nomor yang tidak kukenal.

Mereka mengatakan bahwa mobil yang ditumpangi Mila dan Kenzo jatuh ke jurang. Mobil itu hancur, semua penumpangnya tewas. Satu-satunya barang yang berhasil ditemukan hanyalah sebuah cincin bertuliskan huruf AG.

Aku langsung jatuh lemas, duniaku terasa runtuh seketika.

Ibu menangis histeris sambil berteriak marah, "Semua ini salahmu! Kaulah yang membunuh mereka! Mereka meninggal karena mau menyiapkan kejutan buatmu!"

Para tamu yang hadir pun ikut menunjuk-nunjuk dan menyalahkanku.

Hari itu hujan turun begitu deras. Hujan itu seolah membasahi seluruh hidupku.

Namun, sekarang, mereka justru mengatakan bahwa semua tangisan dan ratapan itu hanyalah sandiwara yang dipentaskan khusus untukku seorang diri.

Pantas saja, meski Kenzo sudah meninggal, masakan pedas kesukaannya masih sering tersaji di rumah.

Pantas saja, selama bertahun-tahun ibu tidak pernah sekali pun datang berziarah.

....

Sudahlah. Semua itu sudah tidak penting lagi.

Seluruh uang yang kumiliki telah kubayarkan ke pusat pemakaman.

Aku hanya bisa tinggal di sini sampai lukisan terakhirku selesai, lalu pergi.

Aku sama sekali tidak takut menghadapi kematian. Sebaliknya, aku justru merasa lega.

...

Keesokan paginya, saat hendak keluar rumah, Kenzo tiba-tiba menghentikanku.

"Kak, aku dan Mila ingin makan bubur buatanmu. Sejak kecil, Kakak memang paling pandai merawat orang."

Dia memeluk Mila dengan tatapan penuh provokasi.

Sikapnya benar-benar berbeda dengan kemarin.

Mila bersandar dalam pelukannya, lalu menoleh kepadaku.

"Kenzo mau makan, kau masaklah. Aku lagi hamil, jadi kurang leluasa."

Ibu ikut mengangguk, nadanya seolah semua itu sudah sewajarnya.

"Pergilah. Masak yang lembut sampai benar-benar matang. Jangan dikasih gula, Kenzo nggak suka makanan manis. Dulu kau paling pandai merawat orang. Hal sekecil ini pasti nggak menyulitkanmu."

Aku tetap berdiri di tempat tanpa bergerak.

Kenzo tampak sedikit canggung. Dia berkata dengan wajah penuh rasa bersalah, "Kakak masih marah sama aku? Aku tahu aku salah. Seharusnya aku nggak bersama Mila, tapi aku benar-benar mencintainya .... Kalau Kakak nggak mau memasak, aku nggak makan bubur juga nggak apa-apa. Jangan dipaksa."

Setelah mengatakan itu, dia menghela napas pelan, seolah-olah dialah pihak yang paling menderita.

Wajah Mila seketika berubah muram. Tatapannya kepadaku dipenuhi ketidakpuasan. "Alex, itu cuma semangkuk bubur. Apa perlu sampai memasang wajah seperti itu? Kenzo lebih muda darimu. Apa nggak bisa sedikit mengalah padanya?"

Ayah pun meletakkan koran di tangannya, lalu menegurku dengan nada kesal, "Kalau disuruh, ya kerjakan! Kenapa lama sekali? Kita ini keluarga. Buat apa mempermasalahkan hal sekecil itu?"

Keluarga?

Satu kata itu terdengar begitu menyakitkan.

Perlahan aku mendongak dan menyapu pandangan ke empat wajah yang begitu kukenal, tetapi kini terasa asing.

Rasanya seperti sedang menonton sebuah film yang sama sekali tidak ada hubungannya denganku.

Aku hanyalah orang luar.

"Baik. Aku bakal membuatnya."

Aku berbalik dan masuk ke dapur.

Semangkuk bubur ini akan kuanggap sebagai pelunasan terakhir atas budi mereka yang telah membesarkanku.

Saat sedang makan, Kenzo tiba-tiba berlari ke kamar mandi dan muntah hebat.

Aku terpaku.

Semua orang segera menghampirinya. Dia berkata dengan tubuh lemas, "Nggak apa-apa. Ini bukan salah Kakak. Mungkin kondisi tubuhku memang terlalu lemah."

Namun, makin dia berkata begitu, makin semua orang menganggap akulah penyebabnya.

Mila mengernyit menatapku. Nada suaranya dipenuhi kekecewaan.

"Alex, dulu kau nggak seperti ini."

"Bagaimana bisa kau berubah menjadi sekejam ini? Bahkan adik kandungmu sendiri pun nggak kau lepaskan."

Aku menatap lepuh di punggung tanganku. Namun, hatiku jauh lebih sakit daripada luka itu.

Ayah gemetar karena marah. "Kurung dia! Masukkan ke gudang sampai dia sadar! Bagaimana bisa Keluarga Ganendra membesarkan orang seperti ini!"

Ibu tidak menghentikannya. Dia hanya memalingkan wajah sambil menghela napas. "Renungkan baik-baik. Jangan terus keras kepala."

Mila sempat ragu sesaat, tetapi pada akhirnya dia tetap membantu ayah mendorongku masuk ke gudang.

Pintu gudang langsung dikunci rapat.

Tidak seorang pun mau mendengarkan penjelasanku.

Ruangan itu sempit dan gelap, dipenuhi udara yang kotor dan pengap.

Sehari semalam. Tanpa air. Tanpa makanan.

Penyakit lamaku kambuh. Dadaku terasa seperti diremas-remas, sakitnya membuatku berguling-guling di lantai.

Aku meringkuk di lantai. Keringat dingin membasahi seluruh pakaianku, sementara kesadaranku makin memudar.

Dengan sisa tenaga terakhir, aku mengangkat tangan dan mengetuk pintu. Sekali. Lalu sekali lagi.

"Buka pintunya ... aku kesakitan ...."

"Mila ... Ibu ... aku harus minum obat ...."

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Ketika Nisan Tak Lagi Menyimpan Maaf   Bab 9

    Hari demi hari berlalu, tetapi pengeluaran Kenzo justru makin besar.Dia tenggelam dalam kehidupan yang penuh kesenangan dan menghambur-hamburkan uang tanpa berpikir panjang.Tidak butuh waktu lama, seluruh tabungan Tuan Willy dan Nyonya Diana pun habis dihamburkannya.Namun, dia masih belum puas. Saat melihat rumah keluarga yang berada di lokasi strategis, muncul niat jahat di benaknya.Diam-diam, Kenzo membawa kartu identitas Tuan Willy dan Nyonya Diana beserta sertifikat rumah. Tanpa sepengetahuan siapa pun, dia menggadaikan rumah itu ke bank sebagai jaminan untuk memperoleh pinjaman dalam jumlah besar.Seluruh uang itu dihabiskannya untuk berfoya-foya, keluar masuk tempat-tempat mewah, dan menjalani kehidupan yang serba mewah.Baru ketika surat penagihan dari bank tiba di rumah, Tuan Willy dan Nyonya Diana mengetahui semuanya. Seketika, keduanya benar-benar hancur.Mereka marah sekaligus kecewa kepada Kenzo."Kenzo, kau sudah gila! Beraninya kau menggadaikan rumah ini!" bentak Tuan

  • Ketika Nisan Tak Lagi Menyimpan Maaf   Bab 8

    Mila membawa semua bukti itu dan kembali ke Keluarga Ganendra.Dia berniat menjebak Kenzo agar mengakui semuanya.Begitu melihat Mila pulang, Kenzo segera menghampirinya dan hendak memeluknya, tetapi Mila langsung menepisnya dengan kasar."Jangan sentuh aku."Suara Mila sedingin es. Tatapannya tidak menyisakan sedikit pun kehangatan, membuat wajah Kenzo seketika memucat.Melihat itu, Nyonya Diana segera menghampiri. "Mila, ada apa denganmu? Kenzo juga sangat sedih. Jangan bersikap sekasar ini kepadanya.""Sedih?"Mila mencibir dingin. Dia membanting semua bukti yang dibawanya ke atas meja. "Apa haknya merasa sedih? Semua ini adalah rencana yang dia susun sendiri!"Mila mengungkapkan kebenaran yang terjadi saat itu, lalu memperlihatkan semua bukti di hadapan Tuan Willy dan Nyonya Diana.Melihat bukti-bukti itu, Tuan Willy dan Nyonya Diana benar-benar tercengang. Mereka menatap Kenzo dengan wajah penuh ketidakpercayaan."Kenzo, apa ... apa semua ini benar?"Suara Nyonya Diana bergetar. D

  • Ketika Nisan Tak Lagi Menyimpan Maaf   Bab 7

    Mila lebih dulu pergi ke Pemakaman Chana dan melihat jasad Alex yang sudah terbujur kaku.Melihatnya terbaring begitu tenang di sana, Mila tahu Alex tidak akan pernah lagi tersenyum kepadanya.Mila berlutut di depan batu nisan, menangis seperti anak kecil sambil berulang kali mengucapkan maaf. Namun, dia tidak akan pernah lagi mendapat jawaban.Petugas pemakaman menyerahkan barang-barang peninggalan Alex kepadanya, sebuah album lukisan dan sebuah buku harian.Di dalam album itu, tersimpan semua lukisan yang dibuat Alex selama bertahun-tahun. Ada gambar rumah mereka saat masih kecil, ada pula potret Mila di masa remajanya.Semua lukisan itu dipenuhi sosok-sosok yang kesepian, dengan nuansa kelabu yang memancarkan kesedihan yang samar.Lukisan terakhir adalah karya yang pernah Alex kirim untuk dipamerkan.Lukisan itu menggambarkan sebuah pemakaman yang tandus. Seorang anak laki-laki berdiri seorang diri tanpa siapa pun di belakangnya. Judul lukisan itu adalah Jalan Pulang.Ternyata, Alex

  • Ketika Nisan Tak Lagi Menyimpan Maaf   Bab 6

    Ternyata, semalam setelah mereka mengantar Kenzo ke rumah sakit, mereka tidak menemukan Alex bukan karena dia pergi sendiri.Melainkan karena jasadnya telah dievakuasi oleh pihak pengelola pusat pemakaman.Nyonya Diana sontak kehilangan seluruh tenaganya. Dia terduduk lemas di lantai sambil terus mengulang-ulang ucapan yang sama, "Bagaimana bisa begini ... bagaimana mungkin dia benar-benar sudah tiada ... Alex, Alex-ku ...."Memang, selama ini dia tidak terlalu menyukai Alex. Namun, bukan berarti dia rela melihatnya meninggal.Selama ini, Nyonya Diana selalu menganggap Alex anak yang kuat. Seberat apa pun penderitaan yang dialaminya, dia akan menanggung semuanya dalam diam.Anak yang paling banyak merengek justru paling disayang.Karena itulah, dia selalu memperlakukan Kenzo dengan lebih baik.Tuan Willy juga terpaku di tempat. Koran di tangannya terjatuh ke lantai, wajahnya dipenuhi ketidakpercayaan.Selama ini dia selalu menganggap Alex anak yang tidak tahu diri.Apa pun yang terjadi

  • Ketika Nisan Tak Lagi Menyimpan Maaf   Bab 5

    "Alex!""Jangan!"Aku mendengar suara mereka. Untuk pertama kalinya, kepanikan dalam suara itu muncul karena diriku.Saat tubuhku terjatuh, rasa sakit yang menusuk langsung menyebar ke seluruh tubuh.Darah mengalir deras dari tubuhku.Mewarnai merah hamparan bunga.Kali ini, apa kalian akhirnya akan sedikit memercayaiku?Hujan deras turun. Membasuh semua darah dan air mataku.Tubuhku terasa begitu dingin. Begitu sakit.Dengan sisa tenaga terakhir, aku berkata pelan, "Aku lelah ...."Perlahan aku menutup mata dan tidak pernah membukanya lagi....Sudut Pandang Pihak Ketiga.Keesokan siangnya, keluarga itu masih belum menemukan Alex.Alex jatuh dari lantai atas, tetapi tubuhnya tidak ditemukan, jadi dia pasti tidak mati.Pasti dia pergi dengan kemauannya sendiri.Nyonya Diana berniat menunggu Alex pulang. Begitu Alex kembali, dia akan menegurnya.Bagaimana bisa anak itu berani mengancam akan melompat dan benar-benar melakukannya?Mila mengernyit kesal. "Alex pergi ke mana? Masih sempat-s

  • Ketika Nisan Tak Lagi Menyimpan Maaf   Bab 4

    Siang itu, aku sedang mengangkat jemuran di balkon.Kenzo menghampiriku dengan senyum penuh niat jahat di wajahnya."Kak, kau benar-benar nggak tahu malu, ya. Semua orang sudah begitu membencimu, tapi kau masih betah tinggal di sini?"Aku mengabaikannya dan bersiap pergi. Namun, dia mencengkeram lenganku erat, lalu berbisik di dekat telingaku bagaikan iblis, "Kak, kau belum tahu, ya? Sebenarnya selama ini Mila nggak pernah melupakan Kakak. Di ponselnya masih tersimpan banyak foto kalian berdua."Hatiku sempat diliputi keterkejutan, tetapi dia melanjutkan, "Aku benar-benar membencimu, Kak. Jadi, lebih baik Kakak mati saja."Tiba-tiba, Kenzo mengerahkan seluruh tenaganya dan menarikku ke arah luar!Namun, dia sendiri kehilangan keseimbangan.Kami berdua terjatuh bersamaan.Tubuhku oleng. Separuh badanku sudah menjulur keluar balkon.Angin dingin menderu. Kakiku menggantung di udara. Sedikit saja bergerak lagi, aku akan terjatuh dan tubuhku akan hancur berkeping-keping.Kenzo panik. Denga

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status