Mag-log inHari demi hari berlalu, tetapi pengeluaran Kenzo justru makin besar.Dia tenggelam dalam kehidupan yang penuh kesenangan dan menghambur-hamburkan uang tanpa berpikir panjang.Tidak butuh waktu lama, seluruh tabungan Tuan Willy dan Nyonya Diana pun habis dihamburkannya.Namun, dia masih belum puas. Saat melihat rumah keluarga yang berada di lokasi strategis, muncul niat jahat di benaknya.Diam-diam, Kenzo membawa kartu identitas Tuan Willy dan Nyonya Diana beserta sertifikat rumah. Tanpa sepengetahuan siapa pun, dia menggadaikan rumah itu ke bank sebagai jaminan untuk memperoleh pinjaman dalam jumlah besar.Seluruh uang itu dihabiskannya untuk berfoya-foya, keluar masuk tempat-tempat mewah, dan menjalani kehidupan yang serba mewah.Baru ketika surat penagihan dari bank tiba di rumah, Tuan Willy dan Nyonya Diana mengetahui semuanya. Seketika, keduanya benar-benar hancur.Mereka marah sekaligus kecewa kepada Kenzo."Kenzo, kau sudah gila! Beraninya kau menggadaikan rumah ini!" bentak Tuan
Mila membawa semua bukti itu dan kembali ke Keluarga Ganendra.Dia berniat menjebak Kenzo agar mengakui semuanya.Begitu melihat Mila pulang, Kenzo segera menghampirinya dan hendak memeluknya, tetapi Mila langsung menepisnya dengan kasar."Jangan sentuh aku."Suara Mila sedingin es. Tatapannya tidak menyisakan sedikit pun kehangatan, membuat wajah Kenzo seketika memucat.Melihat itu, Nyonya Diana segera menghampiri. "Mila, ada apa denganmu? Kenzo juga sangat sedih. Jangan bersikap sekasar ini kepadanya.""Sedih?"Mila mencibir dingin. Dia membanting semua bukti yang dibawanya ke atas meja. "Apa haknya merasa sedih? Semua ini adalah rencana yang dia susun sendiri!"Mila mengungkapkan kebenaran yang terjadi saat itu, lalu memperlihatkan semua bukti di hadapan Tuan Willy dan Nyonya Diana.Melihat bukti-bukti itu, Tuan Willy dan Nyonya Diana benar-benar tercengang. Mereka menatap Kenzo dengan wajah penuh ketidakpercayaan."Kenzo, apa ... apa semua ini benar?"Suara Nyonya Diana bergetar. D
Mila lebih dulu pergi ke Pemakaman Chana dan melihat jasad Alex yang sudah terbujur kaku.Melihatnya terbaring begitu tenang di sana, Mila tahu Alex tidak akan pernah lagi tersenyum kepadanya.Mila berlutut di depan batu nisan, menangis seperti anak kecil sambil berulang kali mengucapkan maaf. Namun, dia tidak akan pernah lagi mendapat jawaban.Petugas pemakaman menyerahkan barang-barang peninggalan Alex kepadanya, sebuah album lukisan dan sebuah buku harian.Di dalam album itu, tersimpan semua lukisan yang dibuat Alex selama bertahun-tahun. Ada gambar rumah mereka saat masih kecil, ada pula potret Mila di masa remajanya.Semua lukisan itu dipenuhi sosok-sosok yang kesepian, dengan nuansa kelabu yang memancarkan kesedihan yang samar.Lukisan terakhir adalah karya yang pernah Alex kirim untuk dipamerkan.Lukisan itu menggambarkan sebuah pemakaman yang tandus. Seorang anak laki-laki berdiri seorang diri tanpa siapa pun di belakangnya. Judul lukisan itu adalah Jalan Pulang.Ternyata, Alex
Ternyata, semalam setelah mereka mengantar Kenzo ke rumah sakit, mereka tidak menemukan Alex bukan karena dia pergi sendiri.Melainkan karena jasadnya telah dievakuasi oleh pihak pengelola pusat pemakaman.Nyonya Diana sontak kehilangan seluruh tenaganya. Dia terduduk lemas di lantai sambil terus mengulang-ulang ucapan yang sama, "Bagaimana bisa begini ... bagaimana mungkin dia benar-benar sudah tiada ... Alex, Alex-ku ...."Memang, selama ini dia tidak terlalu menyukai Alex. Namun, bukan berarti dia rela melihatnya meninggal.Selama ini, Nyonya Diana selalu menganggap Alex anak yang kuat. Seberat apa pun penderitaan yang dialaminya, dia akan menanggung semuanya dalam diam.Anak yang paling banyak merengek justru paling disayang.Karena itulah, dia selalu memperlakukan Kenzo dengan lebih baik.Tuan Willy juga terpaku di tempat. Koran di tangannya terjatuh ke lantai, wajahnya dipenuhi ketidakpercayaan.Selama ini dia selalu menganggap Alex anak yang tidak tahu diri.Apa pun yang terjadi
"Alex!""Jangan!"Aku mendengar suara mereka. Untuk pertama kalinya, kepanikan dalam suara itu muncul karena diriku.Saat tubuhku terjatuh, rasa sakit yang menusuk langsung menyebar ke seluruh tubuh.Darah mengalir deras dari tubuhku.Mewarnai merah hamparan bunga.Kali ini, apa kalian akhirnya akan sedikit memercayaiku?Hujan deras turun. Membasuh semua darah dan air mataku.Tubuhku terasa begitu dingin. Begitu sakit.Dengan sisa tenaga terakhir, aku berkata pelan, "Aku lelah ...."Perlahan aku menutup mata dan tidak pernah membukanya lagi....Sudut Pandang Pihak Ketiga.Keesokan siangnya, keluarga itu masih belum menemukan Alex.Alex jatuh dari lantai atas, tetapi tubuhnya tidak ditemukan, jadi dia pasti tidak mati.Pasti dia pergi dengan kemauannya sendiri.Nyonya Diana berniat menunggu Alex pulang. Begitu Alex kembali, dia akan menegurnya.Bagaimana bisa anak itu berani mengancam akan melompat dan benar-benar melakukannya?Mila mengernyit kesal. "Alex pergi ke mana? Masih sempat-s
Siang itu, aku sedang mengangkat jemuran di balkon.Kenzo menghampiriku dengan senyum penuh niat jahat di wajahnya."Kak, kau benar-benar nggak tahu malu, ya. Semua orang sudah begitu membencimu, tapi kau masih betah tinggal di sini?"Aku mengabaikannya dan bersiap pergi. Namun, dia mencengkeram lenganku erat, lalu berbisik di dekat telingaku bagaikan iblis, "Kak, kau belum tahu, ya? Sebenarnya selama ini Mila nggak pernah melupakan Kakak. Di ponselnya masih tersimpan banyak foto kalian berdua."Hatiku sempat diliputi keterkejutan, tetapi dia melanjutkan, "Aku benar-benar membencimu, Kak. Jadi, lebih baik Kakak mati saja."Tiba-tiba, Kenzo mengerahkan seluruh tenaganya dan menarikku ke arah luar!Namun, dia sendiri kehilangan keseimbangan.Kami berdua terjatuh bersamaan.Tubuhku oleng. Separuh badanku sudah menjulur keluar balkon.Angin dingin menderu. Kakiku menggantung di udara. Sedikit saja bergerak lagi, aku akan terjatuh dan tubuhku akan hancur berkeping-keping.Kenzo panik. Denga







