Short
Ketika Nisan Tak Lagi Menyimpan Maaf

Ketika Nisan Tak Lagi Menyimpan Maaf

By:  Lucky CatCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
9Chapters
1.6Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Pada tahun keenam setelah adik laki-laki dan tunanganku meninggal, aku juga memilih sebuah makam untuk diriku sendiri. Sebelum pergi berziarah ke makam mereka untuk terakhir kalinya, ibu tiba-tiba berkata, "Alex, tahun ini nggak usah pergi. Sebenarnya mereka nggak mati." Aku terpaku. Tepat saat itu, kulihat mereka berdua berjalan keluar dari kamar adikku. Kenzo Ganendra menyunggingkan senyum sambil menggoda orang di sampingnya. "Aku menang taruhan. Sudah kubilang, kakak nggak bakal pernah sadar." "Kelak siapa yang di atas? Hm? Mila?" Begitu kata-kata itu selesai diucapkan, perempuan yang dulu bahkan akan menangis setiap kali melihatku diperlakukan sedikit tidak adil itu, kini menatapku dengan penuh jijik. "Ah, dia memang terlalu bodoh. Padahal kita tinggal di rumah sebelah, tapi dia sama sekali nggak sadar." Rupanya alasan ibu melarangku masuk ke kamar itu bukan karena khawatir aku akan bersedih jika melihatnya, melainkan karena kamar tersebut terhubung dengan rumah di sebelah. Aku memang terlalu bodoh. Bahkan sebulan sebelum kematianku, yang kupikirkan masih bagaimana caranya berziarah ke makam mereka.

View More

Chapter 1

Bab 1

"Kenapa kalian melakukan ini?"

Aku berusaha mati-matian menahan tubuhku yang gemetar, sementara mataku memerah saat mengajukan pertanyaan itu.

Bertahun-tahun telah berlalu. Mila Biantara tidak lagi selembut dan semanis dulu. Yang tersisa di matanya hanyalah sikap dingin.

"Alex Ganendra, itu karena kau terlalu nggak tahu diri."

Lalu, seperti apa sebenarnya yang disebut tahu diri?

Ibu pun mengernyit menatapku.

"Selama beberapa tahun ini, kami cuma mau kau belajar menjadi lebih patuh. Jangan selalu berpikir untuk merebut milik adikmu."

"Alex, mereka sudah punya anak. Lepaskanlah. Nanti kau pasti bakal bertemu seseorang yang lebih baik."

Tidak akan bisa ketemu orang lain lagi.

Aku menggigit bibir erat-erat. Hatiku terasa hancur berkeping-keping.

"Aku nggak pernah merebut apa pun yang menjadi milik Kenzo," kataku dengan suara tercekat.

Sejak kecil, ayah dan ibu selalu mengingat apa yang disukai Kenzo. Karena itu, aku terpaksa menyukai hal yang sama dengannya.

Hanya dengan begitu, aku bisa mendapatkan sedikit perhatian dari mereka.

Namun, aku tidak pernah menyangka kalimat "aku juga menginginkannya" pun, di mata mereka, dianggap sebagai tindakan merebut.

Saat remaja, tinggiku sepuluh sentimeter lebih tinggi daripada adikku.

Namun, setiap kali membeli pakaian, ibu selalu memilih ukuran Kenzo. Tidak peduli berapa kali aku mengingatkannya, ibu tetap tidak pernah mengingat ukuran tubuhku.

Akibatnya, baju dan celanaku selalu kependekan.

Karena hal itu, aku menjadi bahan ejekan selama bertahun-tahun.

Seharusnya sejak dulu aku sadar, 'Alex, mereka memang nggak pernah mencintaimu.'

Mungkin karena ekspresiku terlalu menyedihkan, sikap dingin yang dibangun Mila sedikit melunak. Dia menyodorkan selembar tisu kepadaku.

"Alex, tataplah masa depan."

Aku tidak menerimanya. Kemudian, adikku berkata dengan rasa bersalah yang dibuat-buat, "Kak, ini semua salahku. Aku dan Mila belum daftarkan pernikahan kami. Aku bakal mengembalikannya padamu."

Tiba-tiba, ibu menamparku.

Pipiku terasa panas dan perih.

Aku menatapnya dengan tidak percaya. Tangannya sedikit gemetar, tetapi nada bicaranya tetap dingin.

"Alex, sebenarnya apa yang sedang kau ributkan! Mila sudah hamil. Apa kau mau anak itu lahir dengan menanggung aib sepertimu?"

Aku membeku. Hatiku begitu sakit hingga rasanya tidak bisa bernapas.

Ibu mengandungku sebelum dia menikah.

Di mata ibu, aku adalah aib karena dia hamil di luar nikah.

Di mata ayah, aku hanyalah alat untuk memaksa pernikahan.

Semua itu sebenarnya sudah kuketahui. Karena itulah, sejak kecil aku selalu berprestasi dan tidak pernah membuat masalah.

Kupikir, kalau aku menjadi lebih baik lagi, mereka pasti akan menyukaiku.

Namun, baru pada saat inilah aku mengerti. Apa pun yang kulakukan, semuanya sia-sia.

Karena harapan mereka adalah aku tidak pernah ada.

Harapan itu sebentar lagi akan terwujud.

Mila mendekat. Sorot matanya memperlihatkan rasa iba, lalu dia menghela napas pelan.

"Alex, kita masih bisa jadi teman. Aku dan Kenzo bakal merawatmu dengan baik."

Aku buru-buru mundur selangkah, menghindari sentuhannya.

"Jangan sentuh aku."

Suaraku serak dan nyaris tidak terdengar.

Enam tahun.

Enam tahun penuh.

Tidak ada satu detik pun aku terbebas dari rasa bersalah.

Setiap hari peringatan kematian mereka, aku selalu berulang kali meminta maaf dan menyesal di depan batu nisan mereka.

Aku selalu berpikir, kalau saja mereka tidak berniat menyiapkan kejutan untukku, mereka pasti tidak akan mati.

Ternyata semua ini hanyalah sebuah kebohongan.

Bahkan kedua orang tuaku ikut membantu, hanya demi kebahagiaan Kenzo.

Aku menatap ibu, lalu bertanya meski sebenarnya sudah tahu jawabannya, "Kalian bilang aku nggak boleh masuk ke kamar Kenzo karena takut aku bersedih. Padahal sebenarnya kamar itu terhubung ke rumah sebelah, 'kan?"

Ekspresi ibu sedikit berubah. Tatapannya menghindar, tetapi akhirnya dia tetap mengangguk.

"Memang begitu. Lalu kenapa? Kami juga melakukannya demi kebaikanmu, supaya kau benar-benar bisa melepaskan semuanya dan menjalani hidup dengan baik."

"Menjalani hidup dengan baik?"

Aku tertawa sinis, tetapi suaraku dipenuhi kepedihan.

"Kalian melihatku setiap tahun pergi berziarah seperti orang bodoh. Kalian melihatku hidup dalam rasa bersalah dan kerinduan, sementara mereka berdua hidup mesra di rumah sebelah. Itu yang kalian sebut demi kebaikanku?"

"Alex, kenapa bicaramu seperti itu!"

Ayah akhirnya keluar dari ruang kerja. Keningnya berkerut, wajahnya penuh ketidaksabaran.

"Mereka saling mencintai. Mereka pura-pura mati supaya kau nggak terluka. Mereka sudah menderita selama bertahun-tahun karena hal ini. Sebenarnya apa lagi yang kau mau?"

Saling mencintai?

Menderita?

Dua kalimat itu menghunjam tepat ke dalam hatiku.

Pada saat yang sama, ponselku menampilkan notifikasi bahwa reservasi di pusat pemakaman telah berhasil.

Aku melepaskan cincin yang bertahun-tahun lalu ditemukan saat operasi pencarian dan penyelamatan, lalu meletakkannya di atas meja. Kemudian, aku berkata dengan tenang, "Aku nggak bakal membuat keributan lagi."

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

reviews

kukiku
kukiku
agak lain yah... , tokoh yg tertindas kali ini laki²
2026-09-02 10:33:10
0
0
9 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status