LOGINPada tahun keenam setelah adik laki-laki dan tunanganku meninggal, aku juga memilih sebuah makam untuk diriku sendiri. Sebelum pergi berziarah ke makam mereka untuk terakhir kalinya, ibu tiba-tiba berkata, "Alex, tahun ini nggak usah pergi. Sebenarnya mereka nggak mati." Aku terpaku. Tepat saat itu, kulihat mereka berdua berjalan keluar dari kamar adikku. Kenzo Ganendra menyunggingkan senyum sambil menggoda orang di sampingnya. "Aku menang taruhan. Sudah kubilang, kakak nggak bakal pernah sadar." "Kelak siapa yang di atas? Hm? Mila?" Begitu kata-kata itu selesai diucapkan, perempuan yang dulu bahkan akan menangis setiap kali melihatku diperlakukan sedikit tidak adil itu, kini menatapku dengan penuh jijik. "Ah, dia memang terlalu bodoh. Padahal kita tinggal di rumah sebelah, tapi dia sama sekali nggak sadar." Rupanya alasan ibu melarangku masuk ke kamar itu bukan karena khawatir aku akan bersedih jika melihatnya, melainkan karena kamar tersebut terhubung dengan rumah di sebelah. Aku memang terlalu bodoh. Bahkan sebulan sebelum kematianku, yang kupikirkan masih bagaimana caranya berziarah ke makam mereka.
View MoreHari demi hari berlalu, tetapi pengeluaran Kenzo justru makin besar.Dia tenggelam dalam kehidupan yang penuh kesenangan dan menghambur-hamburkan uang tanpa berpikir panjang.Tidak butuh waktu lama, seluruh tabungan Tuan Willy dan Nyonya Diana pun habis dihamburkannya.Namun, dia masih belum puas. Saat melihat rumah keluarga yang berada di lokasi strategis, muncul niat jahat di benaknya.Diam-diam, Kenzo membawa kartu identitas Tuan Willy dan Nyonya Diana beserta sertifikat rumah. Tanpa sepengetahuan siapa pun, dia menggadaikan rumah itu ke bank sebagai jaminan untuk memperoleh pinjaman dalam jumlah besar.Seluruh uang itu dihabiskannya untuk berfoya-foya, keluar masuk tempat-tempat mewah, dan menjalani kehidupan yang serba mewah.Baru ketika surat penagihan dari bank tiba di rumah, Tuan Willy dan Nyonya Diana mengetahui semuanya. Seketika, keduanya benar-benar hancur.Mereka marah sekaligus kecewa kepada Kenzo."Kenzo, kau sudah gila! Beraninya kau menggadaikan rumah ini!" bentak Tuan
Mila membawa semua bukti itu dan kembali ke Keluarga Ganendra.Dia berniat menjebak Kenzo agar mengakui semuanya.Begitu melihat Mila pulang, Kenzo segera menghampirinya dan hendak memeluknya, tetapi Mila langsung menepisnya dengan kasar."Jangan sentuh aku."Suara Mila sedingin es. Tatapannya tidak menyisakan sedikit pun kehangatan, membuat wajah Kenzo seketika memucat.Melihat itu, Nyonya Diana segera menghampiri. "Mila, ada apa denganmu? Kenzo juga sangat sedih. Jangan bersikap sekasar ini kepadanya.""Sedih?"Mila mencibir dingin. Dia membanting semua bukti yang dibawanya ke atas meja. "Apa haknya merasa sedih? Semua ini adalah rencana yang dia susun sendiri!"Mila mengungkapkan kebenaran yang terjadi saat itu, lalu memperlihatkan semua bukti di hadapan Tuan Willy dan Nyonya Diana.Melihat bukti-bukti itu, Tuan Willy dan Nyonya Diana benar-benar tercengang. Mereka menatap Kenzo dengan wajah penuh ketidakpercayaan."Kenzo, apa ... apa semua ini benar?"Suara Nyonya Diana bergetar. D
Mila lebih dulu pergi ke Pemakaman Chana dan melihat jasad Alex yang sudah terbujur kaku.Melihatnya terbaring begitu tenang di sana, Mila tahu Alex tidak akan pernah lagi tersenyum kepadanya.Mila berlutut di depan batu nisan, menangis seperti anak kecil sambil berulang kali mengucapkan maaf. Namun, dia tidak akan pernah lagi mendapat jawaban.Petugas pemakaman menyerahkan barang-barang peninggalan Alex kepadanya, sebuah album lukisan dan sebuah buku harian.Di dalam album itu, tersimpan semua lukisan yang dibuat Alex selama bertahun-tahun. Ada gambar rumah mereka saat masih kecil, ada pula potret Mila di masa remajanya.Semua lukisan itu dipenuhi sosok-sosok yang kesepian, dengan nuansa kelabu yang memancarkan kesedihan yang samar.Lukisan terakhir adalah karya yang pernah Alex kirim untuk dipamerkan.Lukisan itu menggambarkan sebuah pemakaman yang tandus. Seorang anak laki-laki berdiri seorang diri tanpa siapa pun di belakangnya. Judul lukisan itu adalah Jalan Pulang.Ternyata, Alex
Ternyata, semalam setelah mereka mengantar Kenzo ke rumah sakit, mereka tidak menemukan Alex bukan karena dia pergi sendiri.Melainkan karena jasadnya telah dievakuasi oleh pihak pengelola pusat pemakaman.Nyonya Diana sontak kehilangan seluruh tenaganya. Dia terduduk lemas di lantai sambil terus mengulang-ulang ucapan yang sama, "Bagaimana bisa begini ... bagaimana mungkin dia benar-benar sudah tiada ... Alex, Alex-ku ...."Memang, selama ini dia tidak terlalu menyukai Alex. Namun, bukan berarti dia rela melihatnya meninggal.Selama ini, Nyonya Diana selalu menganggap Alex anak yang kuat. Seberat apa pun penderitaan yang dialaminya, dia akan menanggung semuanya dalam diam.Anak yang paling banyak merengek justru paling disayang.Karena itulah, dia selalu memperlakukan Kenzo dengan lebih baik.Tuan Willy juga terpaku di tempat. Koran di tangannya terjatuh ke lantai, wajahnya dipenuhi ketidakpercayaan.Selama ini dia selalu menganggap Alex anak yang tidak tahu diri.Apa pun yang terjadi












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.