Saat bertemu Nathan lagi, aku sama sekali tidak merasa terkejut.Beberapa hari yang lalu, saat menelepon sahabatku, justru suara dialah yang terdengar di seberang sana.Sejak saat itu, aku tahu dia pasti akan menemukan cara untuk datang mencariku."Kenal."Aku menatapnya, lalu menjawab pertanyaan Rafa dengan nada datar, "Mantan suamiku."Rafa mengembuskan napas lega.Namun, alis Nathan justru makin berkerut.Dia melangkah mendekat, menatapku lekat-lekat, lalu berkata dengan suara pelan, "Naura, bisakah kita bicara?"Hubungan yang telah berlangsung selama bertahun-tahun ini memang pantas diakhiri dengan cara yang layak.Aku mengangguk setuju.Kami berjalan bersama menuju panggung pemandangan di luar penginapan.Keheningan membentang di antara kami bagai sungai panjang yang memisahkan kami.Akhirnya, Nathan membuka suara, suaranya serak dan berat."Naura, maaf."Aku tersenyum tipis, penuh sindiran."Maaf buat yang mana?"Napasnya tercekat, seolah pertanyaanku membuatnya kehilangan kata-k
더 보기