Short
Semoga Tak Ada Lagi Badai di Separuh Hidupku

Semoga Tak Ada Lagi Badai di Separuh Hidupku

By:  L.SCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
19Chapters
0views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Aku menghabiskan tiga tahun penuh untuk menaklukkan hati Nathan Setiawan, pria yang dikenal bak bunga di puncak gunung yang sulit dijangkau. Lalu, dengan mengorbankan seluruh karierku, akhirnya aku berhasil menjadi Nyonya Setiawan yang begitu diidam-idamkan banyak orang. Namun, tepat pada hari peringatan lima tahun pernikahan kami, aku memutuskan untuk bercerai. Pengacaraku adalah sahabatku sendiri. Berulang kali dia bertanya, "Kau yakin? Dulu, demi menikah dengannya, kau bahkan langsung menolak tawaran dari Vogue. Sekarang, kau malah bilang mau bercerai?" Aku menahan getir yang memenuhi dadaku. "Tolong buatkan surat perjanjian perceraian untukku. Secepat mungkin." Dia tidak mengerti. "Kenapa?" Aku memandang buket bunga kecubung hitam yang dibungkus dengan begitu mewah di atas meja makan, lalu memberikan jawaban terakhir, "Karena ... sebuket bunga."

View More

Chapter 1

Bab 1

Hari ini, saat pertama kali menerima buket bunga itu, sejujurnya aku merasa sangat senang.

Kupikir, akhirnya Nathan sadar dan menyiapkan kejutan untuk hari jadi peringatan pernikahan kami.

Namun, begitu membaca kartu yang terselip di dalam buket itu, senyumku langsung membeku.

[Terima kasih, Kak Nathan, sudah jauh-jauh datang buat mengoperasi bibiku. Seluruh keluarga kami sangat berterima kasih. Bunga ini aku pilih khusus buat Kak Nathan. Menurutku, bunga ini sangat cocok buat 'kita'. Semoga Kak Nathan suka. — Elara Fernando]

Tanganku gemetar, dan buket bunga itu terjatuh keras ke lantai.

Tiga tahun yang lalu, ayahku jatuh sakit.

Dokter bilang operasi harus segera dilakukan.

Namun, fasilitas medis di kota kecil tempat tinggalku sangat tertinggal, sedangkan kondisi ayahku tidak memungkinkan untuk dipindahkan ke rumah sakit lain yang jauh.

Sambil menangis, aku memohon kepada Nathan agar mau pulang ke kampung halamanku untuk mengoperasi ayahku.

Namun, dia berkata, "Rumah sakit kami melarang dokter melakukan operasi di luar. Pekerjaan tetaplah pekerjaan. Aku nggak bisa melanggar aturan cuma karena urusan pribadi."

Pada akhirnya, ayahku meninggal di ambulans saat dalam perjalanan menuju rumah sakit rujukan.

Itu menjadi penyesalan terbesar dalam hidupku.

Saat mengantar ayah ke peristirahatan terakhir, aku sengaja memilih bunga kecubung hitam.

Itu adalah bunga yang melambangkan dirinya, kematian dan cinta yang tidak terduga.

Namun ternyata, tidak pernah ada yang benar-benar tidak terduga ....

Entah sudah berapa kali aku terbangun di tengah malam. Setiap kali teringat rambut ayah yang telah memutih saat dia berada di ambang kematian, aku menangis hingga seluruh tubuhku kejang.

Aku terus mengingatkan diri sendiri agar tidak membenci Nathan. Bagaimanapun, setiap orang memiliki prinsip yang ingin mereka pertahankan.

Namun, ternyata aturan bisa dilanggar, dan prinsip pun bisa dikesampingkan.

Hanya saja ... aku tidak cukup berharga.

Setelah selesai membicarakan urusan perceraian dengan sahabatku, aku menutup telepon.

Dengan tenang, aku membereskan semua pita dan balon yang sudah kupasang, lalu membuang semuanya ke tempat sampah.

Kemudian, aku membuka kolom pencarian dan mengetik beberapa kata, panduan perjalanan mandiri Jalur 318 Sichwan-Thibai.

Pegunungan bersalju, padang rumput, danau, serta jalan berkelok yang membentang hingga ke cakrawala.

Dulu, aku dan ayah pernah berjanji bahwa suatu hari nanti kami akan menyusuri Jalur 318 dengan mobil sambil membawa kamera.

Setelah ayah meninggal, Nathan pernah menghiburku. Dia berkata akan menggantikan ayah memenuhi janji yang belum sempat terwujud itu.

Namun, tahun itu Nathan baru saja diangkat menjadi dokter spesialis penanggung jawab, dan pekerjaannya sangat sibuk. Bahkan, dia sering tidak sempat makan.

Dia membutuhkan seorang istri yang sepenuhnya mengurus rumah, merawatnya, dan menjadi penopang di belakangnya.

Karena itu, aku menutup studio fotografiku dan berubah dari seorang fotografer menjadi Nyonya Setiawan.

Padahal, pada tahun itu aku baru saja meraih penghargaan fotografi tingkat nasional, menerima tawaran kerja dari banyak perusahaan ternama, dan masa depanku begitu cerah.

Namun, aku tetap melepaskan semuanya tanpa ragu.

Kemudian, Nathan menjadi Kepala Departemen Bedah Jantung termuda sekaligus pakar ternama di bidangnya.

Aku pernah mengira semua pengorbanan dan usahaku sepadan.

Sekarang, kalau dipikir-pikir, sungguh menggelikan ....

Suara kunci pintu yang diputar membuyarkan lamunanku.

Nathan pulang.

Dia melepas jasnya, melirik meja makan yang kosong, lalu mengernyit.

"Mana makanannya?"

Aku tetap menatap layar laptop tanpa mengangkat kepala.

"Aku nggak mau masak lagi. Capek."

Keningnya makin berkerut.

"Memangnya kau lebih capek daripada aku yang kerja?"

Sebelum sempat kujawab, ponselnya berdering.

Begitu melihat nama penelepon, dia langsung mengangkatnya.

"Ada apa?"

Dari seberang telepon terdengar suara perempuan yang lembut.

Raut wajah Nathan yang semula tegang langsung melunak.

Bahkan, ada sedikit senyum di wajahnya.

"Jangan panik, aku segera ke sana."

Dari seberang telepon terdengar rekan-rekan kerjanya di rumah sakit bersorak menggoda.

"Wah, Kepala Perawat Elara panggil bala bantuan lagi, nih."

"Dokter Nathan, cepat ke sini. Kepala perawat udah hampir kewalahan."

Gelak tawa terus terdengar. Suasananya santai, bahkan terselip antusiasme orang-orang yang sedang menjodoh-jodohkan mereka.

Aku, istri yang sah secara hukum, justru seperti orang luar.

Setelah menutup telepon, Nathan mengenakan kembali jas yang baru saja dilepaskannya.

Aku tidak kuasa menahan diri untuk bertanya, "Elara?"

Gerakannya terhenti.

"Pasiennya mengalami sedikit masalah. Dia cuma bisa mencariku. Ini menyangkut nyawa orang, jangan berpikir macam-macam."

Setelah berkata begitu, dia berbalik dan melangkah keluar.

Aku memandangi punggungnya.

Aku teringat minggu lalu, dia juga pergi dengan tergesa-gesa seperti ini. Katanya ada perjalanan dinas selama tiga hari.

Sekarang, kupikir-pikir, itu bukan perjalanan dinas.

Melainkan menempuh perjalanan sejauh lima ratus kilometer demi mengoperasi bibi Elara.

"Nathan."

Aku memanggilnya.

Dia menoleh.

"Ada apa?"

Aku menatapnya, lalu bertanya pelan, "Kau ingat hari ini hari apa?"

Tanpa berpikir, dia langsung menjawab, "Hari Anak?"

Aku tersenyum.

Ternyata dia benar-benar lupa.

Hari ini adalah hari peringatan pernikahan kami.

Tahun yang kelima.

Syukurlah, ini juga tahun terakhir.

"Nggak apa-apa."

Aku mengalihkan pandangan.

"Kerja yang semangat."

Nathan menatapku. Dia seolah menyadari ada sesuatu yang berbeda.

Setelah terdiam beberapa saat, dia akhirnya berkata dengan kaku, "Aku bakal pulang setelah urusannya selesai. Mau kubawakan makan malam?"

Aku menggeleng.

"Nggak usah."

Sudah tidak perlu lagi.

Setelah Nathan pergi, aku berganti pakaian dan menuju restoran yang sudah kupesan sejak seminggu lalu.

Kembang api berkilauan di langit, semua pasangan saling berdampingan. Hanya aku yang sendirian.

Pelayan bertanya, "Bu, kapan tamu satunya datang?"

Aku tersenyum tipis.

"Dia nggak datang."

Setelah ini, dia tidak akan pernah datang lagi.

Usai makan malam, aku menelepon sebuah dealer mobil.

"Saya mau memesan sebuah mobil SUV. Performanya harus bagus, cocok buat melewati Jalur 318 Sichwan-Thibai, dengan anggaran sekitar 1,6 miliar."

Manajer memberi tahu bahwa ada satu model yang sesuai dengan kebutuhanku. Namun, karena sangat laris, stoknya sedang habis dan perlu waktu satu minggu untuk mendatangkannya.

Tujuh hari sudah cukup bagiku untuk melepaskan masa lalu dan membereskan pernikahan yang kacau ini.

"Saya pesan yang itu. Seminggu lagi saya bakal datang ambil."

Setelah menutup telepon, aku kembali membuka peramban dan melanjutkan membaca panduan perjalanan Jalur 318.

Foto demi foto bergulir di layar. Impian yang telah kutunda selama lima tahun, seolah kembali hidup.

Tidak lama kemudian, sahabatku menelepon. Dia memberi tahu kalau surat perjanjian perceraian sudah selesai dibuat dan telah dikirim ke emailku.

Aku hanya menjawab pelan, "Mm."

Dia terdiam sejenak, lalu tidak kuasa menahan diri untuk bertanya, "Naura, kau sangat mencintainya. Apa kau benar-benar bisa melepaskannya?"

Aku balik bertanya, "Pernah lihat Nathan mengabaikan prinsipnya demi seseorang, sampai rela melakukan apa pun?"

"Belum pernah," jawabnya jujur.

"Aku pernah."

Aku memandang malam yang kelam di luar jendela, lalu tersenyum getir.

"Tapi bukan buatku."

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
19 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status