LOGINAku menghabiskan tiga tahun penuh untuk menaklukkan hati Nathan Setiawan, pria yang dikenal bak bunga di puncak gunung yang sulit dijangkau. Lalu, dengan mengorbankan seluruh karierku, akhirnya aku berhasil menjadi Nyonya Setiawan yang begitu diidam-idamkan banyak orang. Namun, tepat pada hari peringatan lima tahun pernikahan kami, aku memutuskan untuk bercerai. Pengacaraku adalah sahabatku sendiri. Berulang kali dia bertanya, "Kau yakin? Dulu, demi menikah dengannya, kau bahkan langsung menolak tawaran dari Vogue. Sekarang, kau malah bilang mau bercerai?" Aku menahan getir yang memenuhi dadaku. "Tolong buatkan surat perjanjian perceraian untukku. Secepat mungkin." Dia tidak mengerti. "Kenapa?" Aku memandang buket bunga kecubung hitam yang dibungkus dengan begitu mewah di atas meja makan, lalu memberikan jawaban terakhir, "Karena ... sebuket bunga."
View More"Sejak hari ayahku meninggal ...." kataku sambil menatap Nathan. Suaraku tenang bak permukaan danau yang tidak beriak. "Seharusnya sudah nggak ada lagi masa depan bagi kita."Nathan terpaku di tempat.Beberapa saat kemudian, tiba-tiba dia tersenyum.Senyum yang pahit, penuh kepedihan, seperti seorang penjudi yang akhirnya kehilangan seluruh taruhannya."Aku mengerti." Dia mengangguk. Suaranya serak. "Naura, mulai sekarang aku nggak bakal mengganggumu lagi."Setelah mengatakan itu, dia berbalik dan pergi. Langkahnya sangat lambat, tetapi kali ini dia tidak pernah menoleh lagi.Aku tetap berdiri di tempat, memandangnya melangkah makin jauh, hingga sosoknya menghilang di ujung lorong yang bermandikan cahaya.Di hatiku tidak ada rasa lega ataupun sedih, hanya ketenangan yang begitu tipis dan ringan.Seolah sebuah buku akhirnya sampai di halaman terakhir....Lima tahun kemudian.Negara Phareis, Kota Pranceis. Aku dan Thalia duduk di tepi Sungai Saine sambil menikmati segelas minuman.Lima
Pada akhirnya, ibu berhasil melewati masa kritis.Tim ahli internasional menyusun ulang rencana pengobatannya. Seminggu kemudian, ibu berhasil dipindahkan keluar dari ruang ICU.Saat mendengar kabar itu, aku terduduk di bangku luar ruang rawat, menutupi wajah dengan kedua telapak tangan sambil menangis untuk waktu yang lama.Semua ketakutan, kecemasan, dan rasa tidak berdaya yang menumpuk selama beberapa hari itu akhirnya menemukan jalan keluar."Kak."Rafa menyodorkan tisu, lalu berjongkok di hadapanku. Nada bicaranya terdengar kikuk, seolah tidak tahu harus berbuat apa."Bibi sudah sembuh, kenapa kau masih menangis?"Aku menerima tisu itu dan mengusap mataku. Meski begitu, kedua mataku masih memerah. "Makasih, Rafa. Kau benar-benar baik."Kalau bukan karena Rafa, aku benar-benar tidak tahu bagaimana bisa bertahan melewati hari-hari ini.Rafa menggaruk kepalanya, lalu mengalihkan pandangan dengan sedikit malu."Sebenarnya, aku melakukan semua ini bukan cuma karena aku baik."Aku terte
Aku melapor ke polisi, dan Elara pun dibawa pergi.Karena sengaja memancing emosi pasien pascaoperasi hingga kondisinya memburuk, ditambah hasil penyelidikan atas insiden pendarahan hebat sebelumnya, semua kesalahannya diperhitungkan sekaligus.Yang menantinya jelas bukan sekadar pemecatan dari tempat kerja.Namun, aku sudah tidak sempat memedulikan bagaimana nasib akhirnya.Kondisi ibu memburuk dengan sangat cepat.Di luar ruang ICU, dokter berkali-kali menyerahkan surat pemberitahuan kondisi kritis.Selama dua hari penuh, aku tidak memejamkan mata. Dari balik kaca, kulihat ibu terbaring dengan tubuh yang dipenuhi selang.Setiap kali angka di monitor berubah, rasanya seperti pisau tumpul yang mengiris sarafku sedikit demi sedikit.Beberapa hari ini, Nathan juga terus berjaga di rumah sakit. Waktu tidurnya bahkan lebih sedikit dariku, dan lingkaran hitam di bawah matanya makin jelas.Namun, saat menatapnya, tidak sedikit pun rasa terima kasih muncul di hatiku. Yang ada hanya rasa muak
"Operasinya berjalan dengan sangat sukses. Seharusnya kondisi pasien nggak tiba-tiba memburuk."Dokter tampak sangat kebingungan."Kecuali ... pasien menerima suatu rangsangan emosional yang sangat kuat."Hatiku langsung mencelos. "Rangsangan emosional?"Dokter mengangguk."Setelah operasi, kondisi emosi pasien nggak boleh mengalami gejolak yang terlalu besar, terlebih lagi fungsi jantung dan tekanan darahnya memang belum stabil. Sebaiknya keluarga mengingat-ingat apa hari ini ada sesuatu yang nggak biasa."Sesuatu yang tidak biasa?Pikiranku langsung kacau.Ibu baru saja selesai menjalani operasi. Selain tenaga medis dan kami sebagai anggota keluarga, tidak ada orang lain yang menemuinya.Tunggu.Aku tiba-tiba mengangkat kepala. "Periksa rekaman CCTV."Setengah jam kemudian, rekaman itu diputar di ruang pemantauan.Orang-orang terus berlalu-lalang di depan ruang rawat. Para perawat keluar masuk sambil membawa baki. Hingga sore hari, sesosok orang akhirnya muncul dalam rekaman.Elara.






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.