“Saya bisa kabulkan apapun, kecuali yang kamu sebutkan.” Erlangga menanggapi, suaranya sedikit ramah, tak sedingin tadi. “Kamu mau apa?”Nora menatap Erlangga dengan sorot tak percaya. Pria itu selalu menggampangkan masalah mereka. Ia mengalihkan pandangan selagi mengulas senyum masam. Wanita berambut pirang itu mengepalkan tangan di samping tubuh. Terjerat dalam pernikahan yang tak dia inginkan ini, membuatnya muak. Apa pun yang Nora inginkan, pria itu selalu menentang. Dia dipaksa tunduk, dipaksa menurut dengan semua kemauan pria itu. Tidak ada jalan untuk mengelak, dan hal itu terjadi bertahun-tahun.Meski ia hanya pengganti, tapi bukankah ini melelahkan sekali? Selama ini, ia hanya mendapatkan pengabaian dan luka. Namun sekarang, Nora sudah tidak sanggup.Jika pertimbangan Erlangga adalah orang tuanya, biarlah menjadi urusannya.Selama ini di permukaan, Nora terlihat hidup. Tapi sebenarnya, dia tahu dia tak pernah benar-benar hidup, tak pernah menikmati hembusan napasnya sendiri
Last Updated : 2026-09-07 Read more