로그인“Setelah apa yang kau lakukan di luar sana semalam, kau masih berharap aku tetap berdiri di sisimu, tersenyum manis di depan kamera—seolah-olah kita adalah pasangan paling bahagia di seluruh dunia?” . Nora tak pernah menyangka dirinya mampu bertahan selama tiga tahun sebagai istri pengganti Erlangga. . Tiga tahun menjalani pernikahan yang tampak sempurna di mata orang lain, tetapi tak pernah benar-benar terasa seperti pernikahan baginya. . Sampai akhirnya, Nora menemukan celah untuk mengakhirinya, ada wanita lain di sisi Erlangga. . Tak pernah dicintai, bahkan tak pernah disentuh—untuk apa lagi ia bertahan? . Nora pun mengajukan gugatan cerai, yakin Erlangga tak punya alasan untuk mempertahankan istri yang sejak awal bukan pilihannya. . Namun bagaimana jika Erlangga tidak berniat melepaskannya? Alasan apa pria itu menahannya selain citranya sebagai penguasa?
더 보기“Kenapa nggak bilang dari tadi kalau maunya jeruk hijau?” tanya Nora, dia berusaha menahan kesal.Erlangga mengerutkan kening, seolah Nora-lah yang melakukan kesalahan besar. “Memangnya saya tahu kamu akan mengambilkan jeruk yang oranye?”Nora terdiam sesaat. Rahangnya mengeras, sementara jemarinya masih memegang jeruk yang telanjur dikupas. “Mas, kamu itu udah besar. Kalau punya keinginan, bilang dari awal. Jangan setelah saya repot-repot mengupasnya, baru protes!”Namun, alih-alih merasa bersalah, Erlangga justru menatap jeruk di tangan Nora dengan wajah kecewa. “Tapi saya maunya yang hijau.”Nora memejamkan mata sejenak, mencoba mengumpulkan kesabaran yang rasanya sudah menipis hingga ke ujung tanduk. Entah apa yang terjadi pada suaminya malam ini. Biasanya, Erlangga adalah pria keras kepala yang selalu ingin menang sendiri. Namun, sekarang dia malah bertingkah seperti anak kecil yang merengek hanya karena keinginannya tak terpenuhi.“Ya sudah, makan aja dulu yang ini. Rasanya jug
“Bagaimana kondisi suami saya, Dokter? Apakah beliau baik-baik saja?”Setelah dokter umum yang dipanggilnya selesai memeriksa Erlangga, Nora segera mengajukan pertanyaan itu. Dia masih begitu cemas melihat suaminya belum juga sadarkan diri, bahkan setelah hampir setengah jam berlalu.Dokter tersebut membereskan peralatan medisnya, lalu menatap Nora dengan senyum ramah. “Suami Anda hanya mengalami kelelahan. Tadi Anda mengatakan beliau muntah-muntah? Apa itu benar?”Nora mengangguk cepat. “Benar, Dokter. Dia muntah beberapa kali. Awalnya, saya mengira dia mual karena masuk angin. Tadi dia sempat tidak mengenakan pakaian saat berada di luar rumah setelah makan malam. Kami juga sempat ... ‘berolahraga’ di luar.”Dokter itu memahami maksud tersirat di balik ucapan Nora sebab pasiennya memang hanya memakai handuk kimono saja tanpa berpakaian kengkap. Namun, dia memilih tidak bertanya lebih jauh karena menyadari bahwa hal tersebut merupakan urusan pribadi pasangan suami istri itu.“Baiklah.
“Erlangga! Bangun! Erlangga, kamu dengar aku? Bangun! Bangun!”Tubuh Erlangga ambruk tepat menimpa Nora hingga wanita itu ikut terjatuh ke lantai dengan keras.Gelas yang semula berada di tangan pria itu terlepas, jatuh menghantam lantai kayu, lalu pecah berhamburan dengan denting nyaring yang ke segala penjuru kamar.Kemarahan Nora yang sejak tadi masih membara seketika luruh. Melihat Erlangga tak berdaya dalam pelukannya, dia tak lagi memikirkan pertengkaran mereka. Hal pertama yang memenuhi benaknya hanyalah kondisi sang suami.Well, sekalipun Nora sedang marah besar kepada Erlangga dan ingin sekali menggugat cerai pria itu, faktanya hatinya masih menyimpan kepedulian yang sulit disangkal. Nora mungkin bisa mengabaikan Erlangga saat pria itu bersikap menyebalkan, tetapi melihatnya terkulai lemah seperti ini membuat hatinya mencelos.“Erlangga, jangan bercanda, dong!” Nora menepuk pelan pipi Erlangga, berusaha menyadarkannya. “Erlangga, buka matamu!”Namun, pria itu tetap tak memb
“Hoek! Hoek!”Dalam kurun waktu satu menit, Erlangga muntah berkali-kali. Makanan yang tadi disantapnya bersama Nora kini kembali keluar melalui mulutnya dan bermuara di saluran pembuangan wastafel.Setelah merasa lambungnya terkuras habis, Erlangga segera berkumur. Jantungnya masih berdebar kencang, seolah-olah ia baru saja selesai lari maraton.Erlangga perlahan menegakkan tubuh, meski kedua tangannya masih bertumpu pada tepian wastafel untuk menopang tubuhnya yang mulai kehilangan tenaga.Baru saja hendak beranjak, rasa mual kembali menyerang. Erlangga terpaksa membungkuk dan muntah berulang kali hingga nyaris tak sanggup berdiri tegak.“Astaga! Apa yang sebenarnya terjadi padaku?” batinnya dengan napas terengah-engah. Mulutnya terasa begitu pahit, sementara keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.Di tengah kondisinya yang memprihatinkan, terdengar langkah kaki mendekat. Erlangga yakin itu Nora karena di rumah ini hanya ada dia dan wanita itu.Benar saja, wanita itu segera me












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
리뷰더 보기