Masuk“Sudah lama sekali aku menahan diri untuk tidak melakukan ini ….”
Jakun Erlangga naik turun kala menelan ludah. Sudah tiga tahun mereka berstatus suami istri, namun tak pernah sekalipun benar-benar menyatu. Hubungan ini hanya sekadar status di atas kertas, dingin, jauh, dan tak pernah ada kehangatan. Kini tiba-tiba mereka terjebak dalam momen ini. Saling bersentuhan, merasakan panas dan gairah yang sama sekali asing bagi keduanya. Erlangga bingung, mengapa ia tak mampu menahan diri, padahal selama ini ia tak pernah merasa tertarik sedikit pun untuk memaksakan kehendak? Di sela napas yang memburu, kepalanya terus berteriak lantang bahwa ini salah, dia tidak boleh melakukan ini. Namun, pengaruh obat perangsang dosis tinggi itu benar-benar mengacaukan segala pertahanannya. Alhasil, begitu Nora meronta di bawah tubuhnya, panas dalam dirinya kian menjadi-jadi. Bahkan saat Nora merintih dan meminta dilepaskan, erangannya justru menjadi candu mematikan. Sementara Nora pun sama bingungnya. Harusnya, ia menolak sentuhan itu. Namun entah mengapa, tubuhnya justru diam saja, bahkan cenderung menerima, padahal hatinya selalu menolak dan membenci pria ini? Kali ini, keduanya sama-sama tak paham. Apa sebenarnya yang sedang merasuki diri mereka berdua? Tak berselang lama, cumbuan itu kembali berlanjut. Namun, kali ini intensinya terasa berbeda. Terasa lebih lambat, lebih dalam, dan sarat akan keraguan. Bibir Erlangga terus menelusuri setiap inci kulit halus itu, seolah sedang mencari jawaban atas kebingungan yang menguasai kepalanya. Tangannya pun bergerak meremas lembut lekuk tubuh yang kini terasa begitu menggoda, padahal selama bertahun-tahun ia tak pernah sekalipun menyadarinya ada di sana. “Ahh …..” Nora sudah berusaha menahan desahan itu agar tidak lolos dari bibirnya. Namun ketika ia memejamkan matanya rapat-rapat, ia seolah tidak bisa mengendalikan dirinya. Nora membenci setiap detik yang berlalu saat ini. Ini adalah pertama kalinya seumur hidupnya ia disentuh oleh seorang laki-laki. Rasanya begitu asing, memalukan, sekaligus membingungkan. Ia ingin sekali mengerahkan seluruh tenaganya untuk mendorong tubuh suaminya menjauh, ingin berteriak menolak, namun mulutnya terkunci rapat tak bersuara. Alih-alih menolak, tubuhnya justru bergerak sendiri, perlahan-lahan menyambut setiap sentuhan itu, menyesuaikan diri dengan rapat dan pas, seolah ada bagian dari dirinya yang diam-diam mendambakan hal ini sejak lama. “Mas … lepas!” ucapnya berusaha menolak. Nora sedang berperang hebat antara hati yang menolak dan rasa panas yang tak bisa ia elak. Semakin ia berusaha melawan, tubuhnya seakan bergerak sendiri. Rasanya begitu campur aduk. Terasa nyaman yang mendebarkan, namun juga menyakitkan di saat yang sama. Sekian menit berlalu, keduanya terhanyut dalam gairah yang asing itu. Namun di sudut pikiran masing-masing, masih tertanam satu tanda tanya besar yang tak kunjung terjawab. Ada apa dengan mereka? Harusnya, mereka menyudahinya. Namun, mengapa mereka bergerak semakin jauh? Mengapa tubuh mereka tak bisa berhenti, seolah menuntut lebih daripada ini? Menyadari rontaan istrinya kian melemah, tenaga, serta perlawanannya perlahan menghilang, Erlangga justru berinisiatif membalikkan tubuh Reynora itu dengan gerakan yang sangat lembut agar tak menyakitinya. Seketika, posisi mereka berubah. Kini Erlangga berada tepat di atas wanita itu, tubuhnya yang tegap dan kekar tampak begitu mendominasi, seolah tak memberi ruang bagi Nora untuk melepaskan diri. Tatapan Erlangga berkabut ketika meminta ijin istrinya, “Bolehkah?” Nora seakan terbius dengan nada bicara Erlangga yang mendayu sekaligus menuntut. Harusnya, dia berkata tidak dengan tegas. Harusnya, dia menyudahi semua ini. Ketika telapak tangan Erlangga bergerak turun perlahan, ujung jarinya menyentuh tepian gaun itu sebelum ditariknya perlahan, serta menyingkap kain itu satu persatu, Nora justru diam—seolah memberi persetujuan agar pria itu segera menuntaskan segalanya. “Jawab aku,” ucap Erlangga lembut. Selagi telapak tangannya bergerak mengelus perlahan paha istrinya yang terasa begitu lembut di bawah sentuhannya, ia mendekatkan wajah, menunggu tanda persetujuan yang tengah ia tunggu. Detik demi detik berlalu, Erlangga semakin terdesak oleh gairah yang kian membelenggu tubuhnya. Tidak ada penolakan keras dari bibir Nora—seperti yang ia dengar kemarin, tidak ada kemarahan, pun tidak ada pula usaha menahannya. Wanita itu hanya bergeming, napasnya tampak tak beraturan. Tubuhnya kaku, tidak mengiyakan, tidak pula pergi, seolah Nora sendiri tidak tahu apa yang seharusnya ia lakukan. Hasrat dalam dirinya telah mencapai puncaknl tak sanggup lagi Erlangga menahan atau menunggu lebih lama. Melihat Nora hanya diam dan mematung di bawah kungkungannya, tak menolak, tak pula menyambut, keinginan itu akhirnya meluap tak terbendung. Ia menunduk, menciumi seluruh wajah wanita itu dengan lembut namun penuh kerinduan yang tak disadarinya.“Kamu ternyata penggombal yang handal. Pantas saja Grace terpikat padamu. Bibirmu manis sekali. Saking manisnya, semakin membuatku muak!” Nora bangkit dari kursi, bukan karena keberatan digombali, tapi hanya ingin menyembunyikan wajahnya yang tersipu. Dia mencoba menyelamatkan sisa harga dirinya dengan cara melangkah tergesa menuju area kitchen island demi memangkas jarak diantara mereka. “Katanya mau masak? Mana bahan-bahannya?” tanya Nora, berusaha mengalihkan perhatian pria itu. Namun, Erlangga tentu bukan pria bodoh. Ia menangkap jelas perubahan rona tipis di pipi Nora dan gerakan tubuhnya yang terburu-buru tadi. Senyum tipis penuh kemenangan terulas di bibir Erlangga. Tanpa bersuara, dia melangkah santai hingga berdiri tepat di belakang Nora yang sibuk membelakanginya. Wanita itu tampak berpura-pura memeriksa deretan bahan makanan yang sudah tersaji di atas meja. “Kenapa terburu-buru, hm
“Mari jalani kehidupan rumah tangga ini selayaknya suami istri pada umumnya. Melakukan hal-hal sederhana seperti memasak bersama, jalan-jalan ke luar negeri, hingga tidur bersama dan bercinta selama satu bulan penuh. Sanggup?” Nora termangu. Aktivitas seperti memasak bersama atau menjelajahi keindahan tempat baru terasa begitu mudah ia bayangkan. Namun untuk berbagi kehangatan di atas ranjang dan bercinta, nyalinya tetap saja menciut. Nora tak yakin bisa melakukannya tanpa melibatkan perasaan. Kemarin saja, saat Erlangga menyentuhnya, ia benar-benar terbuai dan hanyut, hingga hampir kehilangan seluruh akal sehatnya. Itu baru tiga kali mereka melakukannya, dan Nora sudah hampir menyerah. Bagaimana jika satu bulan penuh mereka terus bersama? Bukankah benih cinta di hatinya akan mekar tak terkendali, alih-alih sirna seperti yang diharapkannya? Lamunan Nora buyar saat Erlangga mengangsurkan bibir, mengecup bibir
“Saya harus bagaimana supaya kamu mau tinggal, Nora? Saya mohon … beri saya kesempatan. Sekali saja ….”Melihat Erlangga berlutut dan menangis di bawah kakinya, hati Nora terasa teriris. Isak tangis pria itu nyaris membuatnya luluh. Namun ia tahu, ia tak boleh goyah.Nora meletakkan kedua tangannya di pundak Erlangga. “Berdirilah, Mas!”“Saya tidak akan bangun sebelum kamu mengiyakan permintaan saya!” sergah Erlangga, semakin erat memeluk kaki Nora, seolah tak ingin melepaskan wanita itu pergi dari hidupnya. “Saya cinta sama kamu! Sungguh! Tidakkah kamu sadar itu?”Nora tersentak. Kata cinta itu membuatnya memegang kedua lengan Erlangga, lalu menuntun pria itu untuk berdiri. Beruntung Erlangga tak bersikeras hingga posisi mereka kini berhadapan.Melihat ekspresi Nora yang melunak setelah Erlangga berkata cinta, Erlangga menyentuh pergelangan tangan wanita itu dan mendadak berucap, “Meski sangat terlambat mengatakannya, pada dasarnya saya memang sangat mencintai kamu.”“Kenapa baru men
“Paksa saja sesukamu. Bukankah selama ini kamu selalu memaksakan kehendak sesukamu, Mas?” tanya Nora sarkas. “Kenapa sekarang tanya-tanya dulu? Biasanya kau langsung saja lakukan apa yang kau mau.” Erlangga tersentak. Ia segera beranjak dari atas tubuh Nora. “Maaf, saya kelewat emosi,” ucapnya rendah, tampak menyesal. Ia berdiri di tepi ranjang, menatap Nora yang membalasnya dengan sorot mata membunuh, seolah ingin menelannya hidup-hidup. Mendadak, Erlangga takut. Kemarahan Nora yang sebelumnya tampak biasa, namun kali ini kemarahan wanita itu sepertinya tidak main-main. Nora bangkit dari ranjang, kedua tangannya merapikan kemejanya yang kusut akibat ulah Erlangga tadi. Mata birunya memancarkan permusuhan, menatap lurus ke arah manik mata Erlangga. Wanita itu memang tidak menangis, tidak pula meledak-ledak seperti tadi. Namun, keheningan yang ditampilkannya jauh lebih mengerikan dari segala teriakan yang Erlangga dengar. “Nora,” sapa Erlangga, dia sangat gugup ketika melihat sang
Usai meninggalkan area kantor firma hukum, Erlangga pulang dengan tergesa.Begitu masuk ke dalam rumah, dia bergerak senyap dan berharap Nora belum pulang.Namun baru saja masuk, dia begitu terperanjat mendapati Nora sudah duduk bersedekap di ruang tamu. Erlangga tahu wanita itu sempat pergi, tetapi sama sekali tidak menyangka ia akan pulang secepat ini.Demi menyembunyikan kegugupannya, Erlangga sengaja memecah keheningan dengan pertanyaan bertubi-tubi. “Kamu udah pulang? Sejak kapan? Udah makan siang? Kalau belum, saya pesankan.”Nora bergeming. Ia hanya menatap Erlangga tajam, lalu perlahan menegakkan tubuh dan melangkah mendekatinya.Ketika jarak mereka menipis hingga tersisa setengah meter saja, Nora mendongak. Diperhatikannya pria jangkung di depannya itu dengan tatapan mengintimidasi.“Kamu yang ngelakuin semua itu, ‘kan?”Erlangga memiringkan kepala, berpura-pura tidak mengerti. Padahal ia gugup sekali, takut jika Nora mengetahui tindakan sabotasenya. “Melakukan apa?”Nora be
“Dia udah baik sama lo. Di balik sikap dinginnya kek kutub selatan, dia masih effort bikin makan malam yang romantis dan ngasih lo bunga,” ucap Lucas, matanya melebar antusias. “Dan yang lebih gong lagi, dia juga ngasih lo emas 10 gram semalam?” Nora mengangguk, sedikit mengoreksi. “Seratus, bukan sepuluh.” “Gila sih!” Lucas menggeleng, dia tak habis pikir dengan cara Erlangga mengajak Nora berbaikan. Jika Lucas jadi Nora, mungkin dia akan langsung memaafkan kemurahan hati Erlangga lebih dulu—terlepas dari kesalahan fatal yang dilakukan pria itu. Saat Nora memutar bola mata malas, sekelebat ingatan melintas di benak Lucas. Dia ingat tatapan Erlangga yangterasa tajam dan penuh ancaman kemarin malam, seolah ingin membunuhnya. Untuk itu, Lucas mencoba membujuk Nora agar bertahan saja sedikit lebih lama. Dia harus membuat Nora berpikir ulang sebelum benar-benar memutuskan berpisah. “Harusnya lo kasih dia kesempatan dulu buat memperbaiki hubungan. Siapa tahu, lo dan dia bisa baikan.”







