Aya sontak membeku. Ia mengenali suara itu sebelum akhirnya berbalik, dan benar saja, Vindra berdiri beberapa langkah di belakangnya dengan senyum tipis. Pria itu baru saja keluar dari salah satu toko ketika tanpa sengaja melihat Aya berjalan sendirian menuju pintu keluar.“Pak Vindra? Bapak juga ada di sini?” tanya Aya, masih sedikit terkejut.“Iya. Aku sedang ada urusan di sekitar sini,” jawab Vindra sambil melirik paper bag di tangan Aya. “Kamu sendiri sedang apa?”“Karena sedang libur, aku membeli beberapa barang yang diperlukan,” jelas Aya. “Sekarang aku mau pulang.”Vindra memandang jam tangan hitam di pergelangan tangannya. “Apa kamu sudah makan siang?”Genggaman tangannya pada paper bag mengeratm. “Belum. Aku berniat untuk makan siang di rumah.” “Apa tidak keberatan kalau aku mengajakmu mengunjungi kafe di sekitar sini?” tawar Vindra. “Kafe?” Aya mengulang dengan sedikit ragu. “Iya. Kebetulan aku akan pergi ke sana, menu di sana sangat enak.”Aya berpikir cukup lama sebelum
Last Updated : 2026-09-03 Read more