LOGINAya kehilangan segalanya dalam suatu pernikahan. Pernikahan yang seharusnya menjadi awal kebahagiaan justru meninggalkan luka yang tak mudah disembuhkan. Bertekad mengubur masa lalu, ia memilih memulai hidup baru dan perlahan membangun kembali hidupnya. Namun, masa lalu tak selalu bersedia tinggal di belakang. Saat masa lalu kembali datang, masih mampukah Aya mempertahankan kebahagiaan yang telah dipilihnya?
View MorePintu depan terbuka. Aya, yang sebelumnya duduk di sofa langsung berdiri, menahan nyeri di tubuhnya. Senyum kecil terukir ketika melihat Julian masuk bersama Adelia di belakangnya.
Mengabaikan rasa nyerinya setelah melahirkan. Aya bergegas mendekat ke arah suami dan mertuanya. Dengan harapan dapat segera bertemu dengan bayinya.
“Akhirnya kamu datang juga.” Aya menatapnya penuh harap. “Di mana bayinya?”
Julian tidak menjawab. Hanya memperhatikan wanita itu dari atas hingga bawah. Tampilannya tidak terurus. Julian jelas tak menyukainya.
Aya mendekat satu langkah. “Apa dia masih dirawat di rumah sakit? Sepertinya aku perlu ke sana untuk menemaninya."
“Tidak perlu.” Suara itu bukan dari Julian. Adelia mengatakannya dengan ekspresi datar.
Aya mengernyit. “Kenapa? Aku cuma mau lihat anakku. Aku ingin memberinya nama.”
“Aya, itu sia-sia.” Julian berkata sambil memijat pelipisnya.
Aya tidak mengerti. “Apa maksudnya?”
“Anakmu tak bisa diselamatkan.” Adelia mengatakannya tanpa perasaan.
Aya menatap Adelia, lalu beralih ke Julian. Pria itu tak mengatakan apa pun lagi. Tak menyangkal pernyataan Adelia.
“Kalian pasti bercanda,” gumamnya meyakinkan diri sendiri.
Julian menghela napas pelan. “Keadaannya memburuk. Kami tak bisa berbuat apa pun.”
Aya menggeleng. “Tapi ... aku belum sempat melihatnya.”
“Karena itu, sudah saya peringatkan berkali-kali untuk menjaganya.” Adelia menunjuk Aya dengan jarinya.
Aya terdiam. Tatapannya kembali pada Julian. Bahkan saat kehilangan anak kandungnya pun ia masih bersikap dingin seperti biasa.
“Julian ... bagaimana wajahnya? Apa dia terlihat tampan?” tanya Aya dengan suara pelan.
Melihat Julian yang sepertinya enggan menjawab, Aya menggenggam tangannya. “Julian, aku ibunya. Aku ingin tahu.”
“Sudah cukup, Aya. Jangan berlebihan!” Nada Julian meninggi.
Aya menatapnya tidak percaya. “Apa kau serius? Itu anak kita ....”
“Dan sekarang dia sudah tidak ada.” Julian menepis kasar tangan Aya.
Aya membeku. Kakinya melemas hingga ia jatuh terduduk di lantai. “Julian ... aku bahkan belum sempat menggendongnya”
“Ya. Dan anakmu memilih untuk pergi.”
“Apa kau lupa? Dia juga anakmu!” Aya berteriak, suaranya pecah. Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya tumpah.
Ruangan itu sunyi sejenak. Namun bukan sunyi yang penuh ketenangan. Melainkan sunyi yang menyesakkan. Aya tak menyangka kalimat itu dikatakan langsung oleh Julian.
“Sudahlah! Berhenti menangis di hadapan kami!” bentak Adelia.
“Aya, menangis tidak akan membuatnya kembali hidup.” Lanjut Julian.
Setelah mengatakannya, Julian meninggalkan Aya begitu saja. Aya menatap punggung Julian hingga benar-benar menghilang dari balik tembok. Adelia juga memilih untuk ke luar dari rumah.
Aya masih terduduk di lantai, memeluk dirinya sendiri dengan tubuh yang gemetar. Perlahan, tangannya bergerak menuju perutnya yang kini kosong.
“Maaf, seharusnya aku menjagamu dengan baik,” ucapnya pelan.
***
Malam hari, Aya melihat Julian tengah berbicara dengan seseorang di seberang telepon. Sesekali pria itu tertawa kecil, suaranya terdengar ringan. Tidak terlihat seperti seseorang yang baru saja kehilangan. Aya memperhatikannya dari belakang.
“Tidak ada, aku sedang bersantai di rumah,” ucap Julian santai.
Ia tahu dengan jelas nada suara itu. Nada yang tidak pernah Julian gunakan padanya.
“Nanti aku kabari lagi.” Julian menutup teleponnya setelah mengatakan kalimat terakhir.
Ia menurunkan ponselnya, berbalik, dan baru menyadari Aya berdiri di sana. “Ada apa?”
Aya menggenggam ujung bajunya. “Apa kau akan pergi keluar?”
Julian mengangguk. “Ya. Aku akan pergi sekarang.”
Aya terdiam sejenak, lalu menelan ludah. “Untuk kali ini, boleh tidak aku menahanmu? Hanya satu malam.”
Julian mengernyit. “Untuk apa?”
“Aku baru saja kehilangan anakku,” mata Aya kembali berkaca-kaca. “Aku tidak ingin sendirian.”
“Alasan itu lagi. Dengar ya! Aku tidak punya waktu untuk mengurusmu.”
“Aku tidak akan meminta lebih ... hanya ingin kehadiran lain di sisiku.”
“Aku ada urusan,” balas Julian tegas.
“Urusan apa?” tanya Aya menuntut jawaban.
Julian berdecak. “Bukan urusanmu.”
“Julian, kita baru saja kehilangan seorang anak. Apa kau tak merasa sedih?”
Julian menatapnya sekilas, lalu kembali memalingkan wajah. “Aya, jangan membahasnya lagi.”
Aya tersenyum pahit. “Aku hanya bertanya. Bukankah seharusnya kau merasa kehilangan?”
Julian memejamkan matanya sesaat. “Apakah dengan menangis aku bisa membuatnya hidup kembali?”
“Tidak. Tapi setidaknya kau bisa lebih menghargaiku sebagai istrimu!”
Julian menarik napas panjang. “Dengar! Yang mengandung itu kamu, jadi kalau anak itu memilih untuk pergi ... itu salahmu.”
Aya terdiam sesaat. Kedua tangannya mengepal. “Aku sudah berusaha menjaganya Julian! Bahkan saat kau tidak pernah berada di sisiku, aku menjaganya sendirian.”
“Aku pikir… setidaknya, setelah dia lahir akan ada yang berubah,” lanjut Aya.
Julian menatapnya tajam. “Apa yang kamu harapkan, huh?”
Aya tersenyum sendu. “Hanya hal sederhana. Aku ingin kau menanyakan kabarku dan anakmu. Aku ingin kau menyayangi anakmu dengan tulus.”
Julian terkekeh. “Jangan mengkhayal! Sejak awal kau tahu aku tak pernah mencintaimu.”
Aya terdiam. Kalimat itu bukan pertama kalinya Aya dengar. Namun entah kenapa, kali ini terasa jauh lebih menyakitkan.
“Ya, aku tahu. Dan kau tak pernah sekali pun berusaha mencintaiku,” kata Aya dengan suara pelan.
Julian tak membalas. Ia melihat jam tangannya dan bedecak sebal. “Ck, aku terlambat. Ini semua karena kamu, Aya.”
Kemudian, pria itu langsung berbalik, berjalan menuju pintu depan tanpa sedikit pun menoleh. Aya berdiri diam di sana sampai suara mesin mobil benar-benar menghilang.
Ia menarik napas dalam, mencoba menenangkan dirinya sendiri. Air matanya tidak lagi jatuh seperti sebelumnya. Satu tahun pernikahannya terjalin. Selama itu juga Aya menahan banyak rasa sakit sendirian.
Bagi Julian, kehadirannya hanya sekadar pelengkap. Ia hanya dibutuhkan untuk diperkenalkan sebagai istri di depan publik. Namun di dalam rumah, Julian tak pernah benar-benar menjalankan perannya sebagai suami.
***
Julian berdiri di depan pintu sebuah apartemen sambil merapikan kemejanya. Wajahnya terlihat lelah, namun terlihat lebih tenang dibandingkan saat di rumah tadi. Tak lama, pintu apartemen terbuka.
“Lama sekali.”
Seorang wanita berdiri di balik pintu dengan senyum tipis di wajahnya. Julian masuk tanpa banyak bicara, lalu mendudukkan tubuhnya di sofa.
“Ada masalah?” tanya wanita itu sambil menutup pintu.
Julian menepuk sofa yang didudukinya. “Ya, sedikit.”
“Anaknya meninggal dan dia terus saja menangis,” lanjut Julian.
Wanita itu terkekeh pelan sebelum akhirnya berjalan mendekat dan duduk di samping Julian. “Kasihan sekali.”
“Ya, begitulah. Dia bahkan memaksaku untuk ikut bersedih.”
Wanita itu tersenyum kecil. Satu tangannya bergerak merangkul pundak Julian. “Ngomong-ngomong, anaknya dimakamkan di mana?”
Julian diam sesaat. “Soal itu, sebenarnya ....”
Aya sontak membeku. Ia mengenali suara itu sebelum akhirnya berbalik, dan benar saja, Vindra berdiri beberapa langkah di belakangnya dengan senyum tipis. Pria itu baru saja keluar dari salah satu toko ketika tanpa sengaja melihat Aya berjalan sendirian menuju pintu keluar.“Pak Vindra? Bapak juga ada di sini?” tanya Aya, masih sedikit terkejut.“Iya. Aku sedang ada urusan di sekitar sini,” jawab Vindra sambil melirik paper bag di tangan Aya. “Kamu sendiri sedang apa?”“Karena sedang libur, aku membeli beberapa barang yang diperlukan,” jelas Aya. “Sekarang aku mau pulang.”Vindra memandang jam tangan hitam di pergelangan tangannya. “Apa kamu sudah makan siang?”Genggaman tangannya pada paper bag mengeratm. “Belum. Aku berniat untuk makan siang di rumah.” “Apa tidak keberatan kalau aku mengajakmu mengunjungi kafe di sekitar sini?” tawar Vindra. “Kafe?” Aya mengulang dengan sedikit ragu. “Iya. Kebetulan aku akan pergi ke sana, menu di sana sangat enak.”Aya berpikir cukup lama sebelum
Aya berkali-kali mengembuskan napas panjang sebelum akhirnya melangkah menuju pintu masuk utama pusat perbelanjaan. Matanya memperhatikan orang-orang yang datang bersama keluarga atau teman, sementara ia berdiri sendirian dengan jemari yang sesekali mengerat pada tali tasnya. Setelah memikirkannya semalaman, ia memutuskan untuk pergi ke luar rumah dan menghabiskan waktu liburnya untuk bersenang-senang. “Jangan takut. Aku hanya ingin bersenang-senang hari ini,” ucap Aya kepada dirinya sendiri sebelum melangkah masuk. Begitu berada di dalam, Aya berjalan perlahan sambil memperhatikan sekelilingnya. Ia tidak memiliki tujuan khusus, tetapi semakin lama berada di sana, langkahnya justru semakin ringan dan senyum kecil mulai menghiasi wajahnya. “Aku mau lihat-lihat saja. Tidak harus membeli apa pun,” gumam Aya. Entah ke mana langkah kakinya membawanya, Aya akhirnya berhenti di sebuah toko pakaian. Beberapa produk yang dipajang terlihat menarik perhatiannya karena sebagian besar modelnya
Wanita itu masih berdiri di depan meja kasir dengan wajah penuh amarah. Ia meletakkan kantong laundry di atas meja, lalu mengeluarkan sebuah kemeja berwarna putih dengan noda di bagian kerah. “Ini kemeja suami saya. Sebelum dicuci kondisinya masih bagus, tapi sekarang malah seperti ini,” protesnya sambil menunjuk noda tersebut. Aya menerima kemeja itu dan memeriksanya sebentar. “Ibu menyerahkan pakaian ini ke sini untuk dicuci?” “Iya. Asisten saya yang mengurusnya. Dia bilang kemeja ini dicuci di sini,” jawab wanita itu dengan nada kesal. Aya berusaha tetap tenang meskipun wanita tersebut terus menatapnya dengan tajam. “Baik, Bu. Kalau begitu, boleh saya melihat nota pesanannya?” “Saya tidak membawanya,” jawab wanita itu. “Memangnya tidak bisa dicek dengan cara lain?” “Kami bisa mencoba mencarinya, Bu. Namun, kami tetap harus menjalankan sesuai prosedur,” jelas Aya. Linda yang sejak tadi memperhatikan dari belakang akhirnya menghampiri mereka. “Kalau Ibu tidak membawanya, mungk
Malam itu, Vindra baru saja tiba di rumah sewanya setelah menutup laundry. Ia meletakkan tas di atas sofa, lalu merebahkan tubuh sejenak. Rasa lelah belum sepenuhnya hilang. Namun, pikirannya justru kembali pada percakapan saat ia mengajak Aya makan malam beberapa waktu lalu.Hari itu, sebenarnya Vindra sempat ingin menanyakan satu hal. Ia penasaran apakah Aya sudah memiliki seseorang di sisinya. Tetapi pertanyaan itu urung keluar karena terasa terlalu pribadi untuk diucapkan. “Kenapa aku jadi memikirkan hal seperti itu?” gumamnya pelan sambil menatap langit-langit rumah. Vindra mengusap wajahnya perlahan. Selama ini ia tidak pernah mencampuri kehidupan pribadi siapa pun, tetapi entah mengapa ia justru ingin mengenal Aya lebih jauh. Ponsel di atas meja tiba-tiba bergetar. Nama asistennya muncul di layar sehingga Vindra segera mengangkat panggilan itu.“Selamat malam, Pak. Maaf mengganggu.” Suara asisten itu terdengar gugup. Vindra segera duduk tegak. “Tidak apa-apa. Ada masalah?”
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.