Begitu Ryan membuka pintu, Deni langsung membeku. Dengkuran dari dalam apartemen menghantam telinganya seperti dentuman meriam. Bocah itu refleks menutup kedua telinga, wajahnya meringis kesakitan. “Pak Ryan, di aula latihan kan ada ruang uji ledak. Tidak perlu sampai membawa percobaan semacam itu ke asrama, kan?” Ryan baru menyadari betapa keras suara dari kamar tidurnya setelah melihat reaksi Deni. Tanpa banyak bicara, ia menarik bocah itu masuk, lalu segera menutup pintu. Koridor di luar kembali sunyi. “Urusan administrasimu sudah selesai?” tanya Ryan. Deni mengangguk, tetapi perhatiannya tidak tertuju pada pertanyaan tersebut. Matanya terus melirik ke arah pintu kamar tidur. “Pak Ryan, sebenarnya suara apa itu? Keras sekali.” Ryan menjentik pelan dahinya. “Tidak usah mengurusi hal yang tidak penting. Duduk dulu. Akan kubuatkan teh.” Setelah berkata begitu, Ryan berjalan menuju dapur. Namun, tepat saat ia pergi, pintu kamar yang sebelumnya tidak tertutup rapat tertiup
Última actualización : 2026-08-14 Leer más