Tangan Thalia mendekap kepala Zacky di ceruk lehernya agar tidak terus bergerak, karena kecupan pria itu membuat bulu halusnya semakin meremang. "Cukup Zacky! Ayo bangun... Bagaimana kalau kita beneran terlambat ke kantor?" cicit Thalia malu-malu, jari tangannya berusaha mendorong pelan dada bidang pria itu. "Aku... Aku harus merapikan berkas laporan sebelum jam sembilan." Zacky terkekeh rendah, sebuah tawa renyah yang terasa menggetarkan dada Thalia. Pria itu menyapu helai rambut halus yang menutupi dahi Thalia, lalu mendaratkan kecupan hangat beruntun di kening, hidung, dan bibir ranum gadis itu. "Kantor itu milikku, Thalia. Dan kamu asisten pribadiku. Kalau aku belum ingin bangun, asistennya juga tidak boleh pergi ke mana-mana," bisik Zacky dengan sisi dominan yang terdengar manja, dan tak pernah diperlihatkannya pada siapapun. "Zacky... Kamu ini tidak profesional sekali," protes Thal
Última actualización : 2026-08-26 Leer más