LOGIN'Bagaimana bisa Arjuna selalu punya cara untuk kabur yang sempurna? Kenapa dia bisa tahu jalur-jalur tersembunyi seperti itu...? Siapa yang membantunya?!'Wajah Thalia yang tadi sempat memerah karena malu kini berubah pucat kembali. Bayangan teror Arjuna, tatapan mata pria gila itu saat mengancam akan merusak hidupnya kembali membayangi isi pikirannya bagaikan mimpi buruk yang tak kunjung usai.Zacky yang menyadari perubahan aura di sekitarnya langsung memutar tubuhnya menghadap Thalia. Melihat wajah pucat dan getaran halus di jemari gadis itu, rasa protektif di dada Zacky kembali memuncak. Pria itu merengkuh kedua bahu Thalia, menarik tubuh mungil itu mendekat hingga tak menyisakan celah. Tangannya yang hangat mengusap lembut pipi Thalia, memaksa manik mata cokelat yang ketakutan itu untuk menatap lurus ke arah matanya."Thalia, lihat aku," panggil Zacky sangat lembut, kontras dengan nada bicaranya pada Ivan tadi.Thalia mendongak pelan dengan tatapan nanar. "Z-Zacky... Arju
Alis Thalia berkerut tajam, mencerna ucapan Zacky. “Tugas pertama apa?!” tangannya melepaskan pelukannya dari tubuh Zacky. Zacky mengalihkan pandangannya dari Thalia, membuka rentang makanan dan mendekatkan pada Thalia. “Habiskan makanannya dulu, nanti kamu juga akan tahu..” ucapnya. Kata-kata Zacky tidak menjawab pertanyaan Thalia, gadis itu masih menatap Zacky dengan dahi berkerut dan bibir mengerucut. “Kamu mau modus lagi ya?!” Pertanyaan itu tiba-tiba lolos begitu saja. Zacky menghentikan gerakan tangannya, menoleh ke arah Thalia dengan alir terangkat sebelah, bibirnya menyungingkan senyum sementara tangannya terulur, mencubit pipi Thalia gemas. “Hmm.. Ternyata hanya itu yang ada dalam pikiranmu?!” tanyanya. “Eh.. Itu soalnya.. Nngghh.. Biasanya kamu—”“Habiskan makan siangnya, sebelum aku modus sekarang..” ucap Zacky sebelum mengalihkan pandangannya dari tatapan penuh selidik Thalia. Thalia hanya menghela nafas panjang, ia merasa Zacky merencanakan sesuatu yang mencuriga
Thalia mendengar kata-kata Sabrina yang jelas menyindirnya kini hanya terdiam. Ia merasa bingung, sikap Sabrina udah lebih baik, tapi ucapannya penuh sindiran yang menohok. ‘Mungkin hanya perasaanku saja,’ batinnya menenangkan dirinya sendiri. Sementara itu Zacky hanya terdiam, suasana didalam ruangan itu terasa begitu kaku dan canggung. Thalia meremas jari tangannya sendiri di atas pangkuan, menatap Sabrina dengan ragu, ia pun mencoba mencairkan suasana. "Terima kasih banyak ya, Sabrina... Dan sampaikan juga rasa terima kasihku pada Tante Tamara," ucap Thalia pelan, mencoba bersikap seramah mungkin demi menjaga suasana nyaman dalam ruangan. Sabrina menoleh ke arah Thalia, menyunggingkan senyuman tipis yang tampak manis di permukaan, namun menyisakan rasa aneh bagi siapapun yang melihatnya."Sama-sama, Thalia. Aku senang kalau kamu menyukainya," balas Sabrina lembut.Sabrina kemudian melangkah mundur menuju pintu keluar. "Kalau begitu, aku tidak akan mengganggu jam kerja kali
Thalia sudah kembali duduk di kursi kerjanya di sisi kiri meja Zacky, fokus merapikan data-data laporan keuangan yang sempat tertunda akibat rasa paniknya.'Semoga tim keamanan Zacky bisa segera menemukan mereka,' batin Thalia sambil mengetik cepat di atas keyboard.Tiba-tiba, suara ketukan pintu kembali terdengar dari luar.Tok... Tok... Tok...Thalia mendongak sejenak, mengira Ivan kembali membawa perkembangan informasi terbaru. Namun, Zacky yang duduk di balik meja utamanya langsung menekan tombol interkom dengan kening berkerut tajam."Masuk," ucap Zacky datar.Cklek!Pintu kaca terbuka lebar. Sosok wanita bergaun modis dengan rambut tergerai rapi melangkah masuk ke dalam ruangan.Thalia terperanjat kaget begitu melihat siapa yang datang."S-Sabrina...?" cicit Thalia tertahan, matanya membelalak tak percaya.Wanita yang berdiri di hadapan mereka saat ini, Sabrina, adik
“Arjuna masih berkeliaran, Zacky.. Dan Papa, apa dia juga masih selamat bersama Arjuna..?!” gumam Thalia, menatap nanar ke arah Zacky. Zacky memeluk erat tubuh Thalia yang gemetar, seolah ingin memberikan seluruh kekuatan dan perlindungan mutlak yang ia miliki. “Aku akan menemukan mereka, percayalah Thalia..” ucap Zacky penuh janji perlindungan. "Pak Zacky," panggil Ivan ragu-ragu dari tempatnya berdiri. "Apa selanjutnya yang harus kita lakukan? Apakah area sekitar vila harus kita tutup total dan perluas radius pencariannya?" Zacky menoleh, menatap Ivan dengan manik Maya tajamnya, menyimpan amarah dan rasa khawatir yang tersembunyi. "Cari sampai dapat, Ivan," perintah Zacky dengan suara yang sangat dingin dan rendah. "Cari jejak mereka di setiap jengkal hutan di luar batas kota. Kalau mereka berani keluar dari persembunyiannya yan
Jari tangan Thalia perlahan turun, meremas pelan kain kemeja hitam Zacky, lalu membalas ciuman itu dengan keinginan yang sama..Zacky memperdalam ciumannya sejenak, mengecap rasa manis dari bibir gadis yang telah menjadi pusat perhatiannya saat ini.Saat tautan bibir mereka terlepas, napas keduanya sedikit terengah-engah. Zacky menyandarkan dahinya di dahi Thalia, menatap manik mata cokelat gadis itu begitu dalam."Thalia," panggil Zacky sangat rendah, suaranya terdengar begitu serius."I-iya, Zacky...?" cicit Thalia gugup, pipinya masih panas akibat ciuman barusan."Sepertinya rencana lamaranku harus dipercepat," ucap Zacky tanpa ragu sedikitpun."Aku ingin secepatnya meresmikan hubungan kita, membawamu keluar dari bayang-bayang ketakutan itu, dan membiarkan seluruh dunia tahu kalau kamu milikku sepenuhnya. Dengan begitu, perlindungan hukum dan keluargaku akan sepenuhnya melindungi kamu.."Mendengar kat







