“Ethan?” panggilku, berusaha menjaga suaraku tetap tenang meski rasa panik tiba-tiba menyerbu. “Kamu lagi ngobrol sama siapa, sayang?” Dia mendongak menatapku, senyum agak bersalah muncul di wajahnya. “Oh, hai, Mah,” katanya riang. “Aku lagi ngobrol sama teman baruku.” “Teman barumu?” ulangku bingung. “Ethan, siapa yang kasih kamu telepon?” Dia menunjuk ke meja kopi tempat telepon itu tadinya diletakkan. “Om yang di atas bilang aku boleh telepon dia kalau Mama belum balik. Jadi aku telepon.” Aku langsung berjalan mendekat, pelan-pelan mengambil telepon dari tangannya. “Ethan, kamu nggak boleh pakai telepon tanpa izin Mama dulu,” kataku lembut, tidak mau membuatnya takut tapi dia harus paham. “Penting buat kasih tahu Mama dulu sebelum kamu telepon siapa pun, oke?” “Oke, Mah,” jawabnya, menunduk menatap kakinya. “Aku cuma mau nyapa aja.” Aku menempelkan telepon ke telingaku, penasaran siapa sebenarnya di ujung sana. “Halo? Ini mamanya Ethan,” kataku hati-hati, tidak yakin harus m
Last Updated : 2026-07-27 Read more