Siang itu, waktu istirahat berjalan pelan. Terlalu pelan untuk Nayara yang hatinya sedang dilanda kehampaan. Ia dan Keisha duduk di bangku panjang di area taman belakang sekolah. Kali ini, Keisha yang kembali sibuk dengan ceritanya, karena Nayara merasa sudah kehabisan topik. Meskipun terlihat cerewet seperti biasanya, ada sesuatu yang tertahan di tenggorokan Keisha, seolah ingin menanyakan hal penting yang hilang begitu saja. Setelah lama menahannya, ia akhirnya keceplosan sendiri. "Arkana mana?" Keisha menetralkan ekspresinya. Mencoba tidak terlihat terlalu penasaran. Ia melirik Nayara yang duduk di samping dengan ekor matanya. "Sori ya, Nay. Tapi gue kok udah sebulanan ini nggak pernah lihat lu bareng Arkana lagi? Lu lagi marahan ya sama dia?" Katanya terlihat santai, tapi tetap mengamati. Nayara tak menjawab. Ia malah terlihat melamun, seolah tenggelam dengan pikirannya sendiri. Pasalnya, satu kata itu–"Nay", jatuh di telinga Nayara seperti gema. Bukan suara Keisha yang ia d
Last Updated : 2026-09-13 Read more